27 rumah warga di Wakatobi rusak diterjang puting beliung

id Puting Beliung,puting beliung wakatobi

27 rumah warga di Wakatobi rusak diterjang puting beliung

Rumah warga di Kabupaten Wakatobi, Sultra yang rusak akibat diterjang angin puting beliung, Minggu (5/1/20) malam, pukul 22.20 Wita. (ANTARA/HO/BPBD Wakatobi)

Kendari (ANTARA) - Angin puting beliung kembali menerjang 27 rumah warga di Kabupaten Wakatobi khususnya di dua Kecamatan yakni di Kecamatan Wangiwangi dan Wangiwangi Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), pada pukul 22.20 Wita, Minggu (5/1) malam.

Akibatnya terdapat 27 rumah warga yang rusak, baik yang diterjang angin puting beliung maupun tertimpa pohon kelapa.

Kepala BPBD Wakatobi, Kalaksa saat dihubungi di Kendari, Senin mengatakan untuk sementara pihaknya menemukan 27 rumah yang rusak akibat diterjang angin puting beliung pada Minggu malam.



"Ke 27 rumah yang rusak itu terbagi di tujuh desa dan dua kecamatan, diantaranya Desa Komala, Kelurahan Mandati I, Kelurahan Mandati II, Kelurahan Wandoka, Desa Waha, Desa Waelumu, dan Desa Pookambua," katanya.
Rumah warga di Kabupaten Wakatobi, Sultra yang rusak akibat diterjang angin puting beliung, Minggu (5/1/20) malam, pukul 22.20 Wita. (ANTARA/HO/BPBD Wakatobi)


Ia juga merinci, dari tujuh desa yang terkena bencana puting beliung, yaitu tiga di kecamatan Wangiwangi dan empat desa di Kecamatan Wangiwangi Selatan.

"Sejauh ini, tidak ada korban jiwa akibat kejadian itu," katanya. Selain itu, Kalaksa juga belum bisa memberikan keterangan terkait jumlah kerugian akibat kejadian itu, karena pihaknya tengah mengidentifikasi kerugian materi akibat kejadian itu.

Ia mengimbau agar masyarakat terus waspada dalam menghadapi cuaca ekstrem seperti saat ini.

Baca juga: Puting beliung yang terjadi di Wakatobi dari awan cumulonimbus

Sebelumnya angin puting beliung menerjang rumah warga di tiga desa di Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara, pada Kamis (2/1) pukul 03.00 Wita dini hari, akibatnya 10 unit rumah rusak parah.
 
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar