Puting beliung yang terjadi di Wakatobi dari awan cumulonimbus

id Puting Beliung,Bmkg, cumulonimbus

Puting beliung yang terjadi di Wakatobi dari awan cumulonimbus

Warga tengah mengambil barang-barang berharga dari rumah mereka yang diterjang angin puting beliung di Kabupaten Wakatobi, Sultra, Kamis (2/1/2020). ANTARA/HO/Humas Basarnas Kendari

Kendari (ANTARA) - Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kendari, Faisal Habibie mengatakan puting beliung yang terjadi di daerah Wakatobi, Kamis berasal dari awan cumulonimbus, dengan durasi singkat dan skala lokal.

"Dari hasil pantauan analisa dinamika atmosfer radar cuaca dan citra satelit cuaca terdeteksi ada awan cumulonimbus yang cukup besar menutupi Sulawesi Tenggara bagian selatan termasuk Wakatobi," kata Faisal, di Kendari, Kamis.

Ia menjelaskan awan cumulonimbus ini terjadi akibat mulai menguatnya angin barat yang membuat pola pertemuan angin (konvergensi) di bagian Selatan Sultra.

"Kelembaban udara juga pada lapisan rendah sampai pada 700 mb juga relatif lembab berkisar 70-90 persen, ditambah dengan hangatnya suhu muka laut di perairan Selatan Sultra juga menambah suplai uap air sehingga pertumbuhan awan cukup tinggi di bagian Selatan Sultra," jelasnya.

Ia mengimbau masyarakat agar selalu waspada dan siaga terhadap peningkatan curah hujan yang masih berpotensi dua hari ke depan, terutama Sultra bagian Selatan seperti Baubau, Buton Selatan Buton, Buton Tengah, Wakatobi, Buton Utra, Muna, Muna Barat, Bombana, Konawe Selatan, dan Kota Kendari.

Masyarakat diminta untuk selalu meng-update informasi cuaca melalui infobmkg, facebook infobmkg Sultra, dan website http: bmkg.go.id

Baca juga: Di Wakatobi, Puting beliung porak-porandakan rumah warga

Sebelumnya pada Kamis pukul 03.00 Wita dini hari, angin puting beliung memporak-porandakan 10 unit rumah warga di tiga desa di daerah Kabupaten Wakatobi.

Ketiga desa itu yang diterjang angin puting beliung yakni Desa Mola Nelayan Bakti, Kelurahan Mandati III dan Desa Fungka.
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar