Ritual adat Tuturangiana Batupoaro dalam rangkaian HUT Baubau ke-479 dilaksanakan sederhana

id Wali kota baubau

Ritual adat Tuturangiana Batupoaro dalam rangkaian HUT Baubau ke-479 dilaksanakan sederhana

Wali Kota Baubau, AS Tamrin (ketujuh kanan) menghadiri ritual adat Tuturangiana Batupoaro dalam rangkaian hari jadi Baubau ke-479 dan hari ulang tahun ke-19 sebagai daerah otonom, di Baubau, Minggu pagi. (foto Antara/Yusran)

Baubau (ANTARA) - Ritual adat Tuturangiana Batupoaro dalam rangkaian hari jadi Baubau ke-479 dan hari ulang tahun ke-19 sebagai daerah otonom tahun 2020 dilaksanakan secara sederhana, meskipun tak menghilangkan makna sesungguhnya dari peringatan tersebut.

Dalam keterangan tertulis yang di terima, di Baubau, Minggu, pelaksanaan ritual yang setiap tahun dilaksanakan oleh masyarakat Kelurahan Wameo Kecamatan Batupoaro dan sekitarnya menjelang peringatan hari jadi dan hari ulang tahun Kota Baubau secara meriah dan selalu dipadati oleh masyarakat.

"Tahun ini masih agak menghawatirkan pandemi COVID-19, maka dilaksanakan secara sederhana tetapi cukup ramai juga. Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia para lurah setempat yang menyiapkan acara sederhana secara sukarela dan sukses," ujar Wali Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, Dr AS Tamrin, usai mengikuti ritual adat itu.

Walikota Baubau dua periode ini mengakui pelaksanaan ritual Tuturangiana Batupoaro pada 2020 ini tetap dilaksanakan meskipun agak kurang ramai. Hal ini sengaja dilakukan karena menghindari keramaian dan kontak-kontak serta tidak ada lagi kumpul-kumpul yang terlalu banyak dalam suasana pandemi COVID-19 di daerah itu.

Sesunggunya tambah AS Tamrin, makna dari ritual adat Tuturangiana Batupoaro adalah mengingatkan sejarah bahwa Syekh Akbar Maulana Sayid Abdul Wahid adalah penyebar agama Islam di negeri Buton. Dan digenerasi sekarang ini lebih memperdalam lagi terkait keyakinan dan keimanan terhadap agama Islam, kemudian selebihnya itu mengandung contoh-contoh untuk dijadikan teladan dalam berinteraksi.

Selain itu, menurutnya, yang terpenting dalam ritual Tuturangiana Batupoaro yakni nilai-nilai lokal yang diwariskan oleh pendahulu kepada masyarakat sekitar yang dituangkan dalam bentuk kemampuan interaksi Pomaa masiaka, Popia piara, Pomae maeaka, Poangka angkataka dan Pobinci binciki kuli (Po-5) secara baik, tercipta suasana yang damai dan kondusif dalam masyarakat. 

Pada pelaksanaan ritual Tuturangiana Batupoaro itu diawali dengan pembacaan doa di situs sejarah Batupoaro yang dilakukan oleh perangkat adat masjid Wameo.

Dalam kegiatan tersebut hadir anggota DPRD Baubau La Ode Abdul Tamim, Akhdiyat Zamani dan Hj Sitti Suhura, Sekcam Batupoaro dan Lurah se-Kecamatan Batupoaro. 

Usai pembacaan doa dilanjutkan dengan haroa atau makan bersama yang sudah disiapkan ditalang besar oleh pihak panitia.
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar