Kepolisian Afghanistan menyita empat ton zat kimia untuk membuat bom

id afghanistan,bom mobil,zat pembuat bom,sodium nitrat,Taliban

Kepolisian Afghanistan menyita empat ton zat kimia untuk membuat bom

Dokumentasi - Sejumlah polisi Afghanistan berjaga di lokasi bom bunuh diri dengan mobil di Jalalabad, Afghanistan, Jumat (25/10/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Parwiz/AWW/djo

Kabul (ANTARA) - Kepolisian Afghanistan pada Minggu (27/9) menyita empat ton sodium nitrat, zat kimia yang digunakan untuk membuat bom mobil, juga bom-bom rakitan, demikian diterangkan pejabat berwenang.

Penyitaan itu menjadi salah satu yang terbesar selama konflik pemberontakan di negara itu, yang telah berlangsung selama 19 tahun.

Sodium nitrat sebenarnya digunakan pula untuk pupuk dan bahan pengawet, namun penggunaannya di Afghanistan telah dilarang selama bertahun-tahun.

Pengemudi truk yang mengangkut zat kimia itu telah ditangkap, dan penyelidikan sedang dijalankan, kata Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Tariq Arian. Sementara ini belum ada kelompok militan yang mengaku pemilik bahan-bahan peledak itu.

Taliban, ISIS, dan kelompok-kelompok militan lainnya beroperasi di Afghanistan serta melakukan serangan-serangan besar di Ibu Kota Kabul dan sekitarnya.

Direktorat Nasional Urusan Keamanan (NDS) pada Minggu menyebut pihaknya menahan tujuh anggota ISIS di Kota Jalalabad, termasuk seorang yang diyakini bertugas dalam merencanakan pengeboman di wilayah perkotaan.

Dalam pernyataannya, NDS menyebut kelompok militan itu berencana menyerang sebuah pertemuan pasukan keamanan Afghanistan atau tetua suku di Provinsi Nangarhar. Di provinsi itu, ISIS telah melancarkan beberapa kali serangan tahun ini.

Bersama ketujuh orang itu, juga disita sejumlah rompi bom, senjata, dan alat peledak.

Sementara itu, Pemerintah Afghanistan dan Taliban tengah melakukan pertemuan di Doha, Qatar, sejak 12 September, dan berharap mencapai kesepakatan gencatan senjata serta pembagian kekuasaan.

Namun, pertemuan mandek menyangkut prosedur, bahkan sebelum kedua belah pihak mendiskusikan agenda mereka.

Kendati terjadi pertemuan, kekerasan di lapangan tetap meningkat, dan Taliban pun menolak seruan gencatan senjata.

Pada Sabtu (26/9) misalnya, kombatan Taliban meluncurkan serangan di Provinsi Bamiyan sehingga menimbulkan pertempuran paling berdarah di wilayah itu, yang dianggap sebagai salah satu area teraman di Afghanistan semasa perang 19 tahun ini.

Pertempuran terjadi selama dua hari, dengan sembilan polisi terbunuh dan Taliban menderita kerugian yang parah, kata Latif Azimi, juru bicara gubernur Bamiyan.

Sementara itu, Taliban mengeluarkan pernyataan bahwa para pejuang mereka bentrok dengan iring-iringan pasukan keamanan, dan 30 tentara Afghanistan terbunuh akibat pertempuran tersebut.

Sumber: Reuters 
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar