Merangkum Indonesia pada selembar uang Rupiah

id uang peringatan kemerdekaan,uang baru,uang edisi khusus

Merangkum Indonesia pada selembar uang Rupiah

Warga antre menukar uang baru pecahan Rp75.000 yang merupakan Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Tahun Republik Indonesia di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember, Jawa Timur, Rabu (19/8/2020). Bank Indonesia mencetak 75 juta lembar uang baru pecahan Rp75.000 untuk ditukarkan warga dengan syarat telah mendaftar pemesanan online dan menunjukkan KTP elektronik. ANTARA FOTO/Seno/hp.

Jakarta (ANTARA) - Ada yang istimewa pada ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-75 pada 17 Agustus lalu, selain diselenggarakan secara daring juga diluncurkannya uang kertas senilai Rp75.000.

Uang tersebut merupakan uang edisi khusus kemerdekaan ke empat yang diluncurkan pemerintah setelah sebelumnya uang edisi khusus pernah diluncurkan pada peringatan HUT kemerdekaan RI ke-25 tahun 1970, ke-45 tahun 1990, dan ke-50 tahun 1995.

Namun menurut sejarawan Asep Kambali yang juga salah seorang anggota tim yang terlibat dalam perumusan uang khusus tersebut, baru kali ini Bank Indonesia mengeluarkan uang edisi kemerdekaan dalam bentuk kertas.

"Sebelumnya uang edisi khusus kemerdekaan yang diterbitkan berupa uang logam emas dan perak," kata Asep yang juga pendiri Komunitas Historia Indonesia itu. Selain Asep, sejarawan yang juga dilibatkan merumuskan uang khusus tersebut yaitu Anhar Gonggong, Hoesein Rusdhy dan Didik Pradjoko.

"Karena nilainya yang tinggi dan jumlah terbatas, maka uang edisi khusus kemerdekaan saat itu tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang," tambahnya.

Di HUT ke-75, untuk pertama kalinya diterbitkan uang khusus dalam bentuk kertas yang di dalamnya terkandung pesan dan makna yang sarat dengan nilai keindonesiaan.

Terbitnya uang Rp75.000 itu merupakan ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan yang diraih Bangsa Indonesia dan capaian-capaian selama 75 tahun lepas dari penjajahan.

Maka desain uang kertas tersebut tidak lepas dari latar belakang, tujuan dan capaian bangsa.

Menurut Asep, setidaknya ada tiga simbol yang terkandung dalam selembar kertas Rp75.000 itu yang dapat dilihat secara kasat mata yaitu mensyukuri kemerdekaan, memperteguh Bhinneka Tunggal Ika serta menyongsong masa depan gemilang.


 

Makna Sebuah Gambar

Jika dilihat, di bagian depan uang khusus kemerdekaan tersebut bergambar Bapak Proklamator, yang juga Presiden dan Wakil Presiden pertama RI, Soekarno dan Mohammad Hatta di bagian tengah.

Di sisi tersebut juga terdapat gambar peristiwa pengibaran bendera merah putih pada 17 Agustus 1945. Kedua gambar ini mengandung simbol mensyukuri kemerdekaan sekaligus mrnggambarkan peran kedua pahlawan nasional tersebut sebagai proklamator.

Dibelakang kedua proklamator, terdapat gambar gunungan berwarna hijau dimana dalam filosofi Jawa mempunyai makna membuka gerbang baru, yaitu gerbang kemerdekaan.

Di bawah gambar burung garuda, terdapat gambar jembatan Youtefa di Papua berdampingan dengan moda transportasi MRT serta tol Jawa yang melambangkan pencapaian pembangunan.

Di sisi lain uang tersebut, terdapat gambar sembilan anak mengenakan pakaian adat yang mewakili wilayah Indonesia bagian barat, tengah dan timur.

"Anak-anak berpakaian adat ini menggambarkan simbol kebhinekaan. Sengaja dipilih pakaian adat yang tidak begitu populer untuk lebih mengenalkan Indonesia," ujar Asep.

Seperti pakaian adat Kalimantan Utara, Papua dan Aceh. "Selama ini orang lebih mengenal Jawa, seperti Jawa Barat," katanya.

Asep menceritakan, saat merumuskan uang khusus itu, sekitar setahun lalu, sedang hangat-hangatnya pemilihan presiden sehingga menurut dia sangat tepat jika memasukkan unsur keindonesiaan dan kebhinnekaan.

Di bagian atas bergambar peta Indonesia berwarna emas dan Satelit Merah Putih sebagai simbol menyongsong masa depan gemilang digambarkan dengan masa depan digital.

Kebhinnekaan juga tergambar dari motif-motif kain khas Indonesia di lembaran uang tersebut seperti motif tenun Gringsing Bali dibawah angka 75.000, motif kain songket di bawahnya dan motif kain songket Sumatera Selatan di belakang Burung Garuda.

Begitu juga dengan warna dalam selembar uang kertas tersebut. Kalau biasanya uang kertas lebih didominasi satu warna seperti merah pada lembaran Rp100.000 atau biru pada uang Rp50.000, tapi uang Rp75.000 ini lebih berwarna.

Uang pecahan Rp75.000 memiliki beragam warna sehingga terkesan meriah, terdapat warna merah, hijau, kuning, biru seakan merangkum warna-warna dari uang-uang yang sudah terbit sebelumnya.

"Menurut saya uang ini paling keren dibandingkan seluruh uang yang ada di Indonesia, dari segi warna, komposisi dan filosofi karena paling merangkum keindonesiaan kita," tambah Asep yang bangga bisa menjadi bagian dari pelaku sejarah.

Selain kelebihan dan keunikan di atas, uang kertas baru ini juga memiliki sistem keamanan yang lebih canggih sehingga akan sulit dipalsukan serta menggunakan bahan impor yang lebih kuat jadi tidak gampang lusuh.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pengeluaran dan pengedaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Tahun RI ini merupakan bagian rencana penciptaan uang tahun anggaran 2020 sesuai kebutuhan masyarakat dan berdasarkan pada ketentuan dan tata kelola sesuai UU Mata Uang yang telah direncanakan sejak 2018.

Perry menambahkan uang khusus ini sudah dilengkapi unsur pengamanan berteknologi terbaru dan bahan kertas lebih tahan lama sehingga lebih mudah dikenali keasliannya, dan sulit dipalsukan.

"Inovasi uang rupiah terus dilakukan secara berkala dan terencana untuk memastikan rupiah tetap menjadi kebanggaan bersama sebagai simbol kedaulatan NKRI," katanya.

Uang rupiah pecahan 75.000 itu menjadi persembahan kebahagiaan kepada masyarakat dan bangsa Indonesia diulang tahun kemerdekaan, juga bagian momentum kebangkitan untuk Indonesia semakin maju.

"Jadi sangat disayangkan kalau uang ini dijual atau dirusak, karena ini menjadi bukti autentik 75 tahun kemerdekaan Indonesia dan beberapa tahun ke depan nilainya akan semakin tinggi. Disamping itu juga menjaga uang menjaga kedaulatan negara," tegas Asep Kambali.

 

 

Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar