Jepang khawatir vaksin virus corona belum ditemukan hingga Olimpiade

id virus corona,wuhan,olimpiade 2020 Tokyo,Jepang

Jepang khawatir vaksin virus corona belum ditemukan hingga Olimpiade

ILUSTRASI: Bahaya virus Corona yang mematikan. ANTARA/Shutterstock/am.

Jakarta (ANTARA) - Jepang selaku tuan rumah Olimpiade 2020 mulai was-was jika vaksin virus corona masih belum ditemukan hingga pergelaran pesta olahraga terakbar nanti digelar pada Juli mendatang di Tokyo.

Seorang professor kesehatan publik dari International University of Health and Welfare, Tokyo, Koji Wada menyatakan jika vaksin virus itu belum ditemukan, akan berpotensi mengancam kesehatan para peserta, atlet dan wisatawan dari berbagai negara yang datang ke Olimpiade.

Namun, Wada tetap berharap vaksin antivirus Corona dapat ditemukan sebelum Olimpiade 2020 digelar.



"Jika kita punya lebih banyak informasi soal potensi infeksi dan cara penyebarannya, sehingga kita bisa menciptakan sistem untuk mengontrolnya. Saya berharap Olimpiade di Tokyo dapat terlaksana sesuai jadwal," ujar Koji Wada seperti dilansir Reuters, Kamis.

Sebanyak tiga warga Jepang yang dievakuasi dari China, Rabu, telah dikonfirmasi terinfeksi virus corona, demikian dilaporkan kementerian kesehatan setempat. Dua dari tiga orang itu tidak menunjukkan gejala apapun.

Sebelumnya, ancaman penyebaran virus juga sempat menghantui perhelatan Olimpiade sebelumnya.



Pada Olimpiade 2016 Rio de Janeiro, virus Zika pernah menjadi ancaman. Kemudian, pada Olimpiade Musim Dingin 2010 di Vancouver, Kanada juga sempat dibayangi-bayangi oleh virus flu burung jenis H1N1.

Hingga kini, beberapa negara sedang berupaya menciptakan vaksin virus corona.

Rusia dan China juga dikabarkan sedang bekerja sama mengembangkan vaksin untuk menghentikan penyebaran virus corona, dan pemerintah Beijing pun telah menyerahkan genom virus tersebut ke Moskow untuk segera ditindaklanjuti.
 

Hingga Kamis, tercatat 7.736 kasus positif terkena 2019-nCoV, sedangkan jumlah korban meninggal bertambah jadi 170 orang di seluruh wilayah China.
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar