Tergiur upah Rp20 ribu ASN menjabat "gudang" Narkoba

id asn-narkoba,gudang narkoba, penampung narkoba

Ilustrasi-logo Polri (Ist)

Kendari (ANTARA) - Seorang oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) berinisial TR alias Upik (38) yang menjabat sebagai "gudang" (sebutan bisnis Narkoba) atau sebagai penampung di wilayah pemasaran Kota Kendari, Sulawesi Tenggara dengan memperoleh upah Rp20 ribu per gram sabu-sabu.

Direktur Reserse Narkoba Polda Sultra Kombes Pol Satria Adhy Permana di Kendari, Selasa, mengatakan peran tersangka sebagai "gudang" atau penampung Narkoba terungkap setelah polisi menangkap pengedar berinisial GJ (38).

"Mengetahui mitra bisnisnya tertangkap maka tersangka TR memutuskan melarikan diri hingga akhirnya diumumkan masuk daftar pencarian orang (DPO) sejak Februari 2019," kata Satria.

Oknum TR yang diketahui berstatus ASN pada sekretariat DPRD Kabupaten Konawe dibekuk tim Reserse Narkoba Polda Sultra pada 20 Juli 2019.

Baca juga: Tujuh bulan, Polda Sultra tangani 21 kasus Narkoba

Kepada penyidik tersangka TR mengaku menyimpan 300 gram sabu-sabu pada September 2018, Oktober 2018 sebanyak 400 gram sabu, awal Januari 2019 menampung 500 gram sabu dan Juli 2019 kembali menyimpang 700 gram sabu-sabu.

Tersangka TR buron setelah penyidik mendalami hasil tangkapan Februari 2019 atas penemuan 3,4 kilogram sabu di rumahnya, namun saat penggeledahan tersangka telah meninggalkan rumahnya.

“Tersangka berperan sebagai gudang atau pejabat penampung sabu. Sebelum ditangkap di Kendari, TR sempat melarikan diri ke Jakarta, Gorontalo hingga Papua,” katanya.

Tersangka yang saat ini menghuni sel tahanan Mapolda Sultra dijerat pasal 114 ayat 1 subsider pasal 112 ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotik dengan ancaman pidana penjara seumur hidup.

Baca juga: Dari kasus Nunung, polisi bongkar bandar narkotika di atas E
Baca juga: Seorang perwira polisi positif memakai narkoba
Baca juga: Seorang positif morfin saat BNN tes urine pegawai Kejati
Pewarta :
Editor: M Sharif Santiago
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar