Mencari nakhoda baru di Sultra

id pilkada

ilustrasi (foto Antara)

Kendari (Antaranews Sultra) - Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak yang dijadwalkan berlangsung 27 Juni 2018 sudah mulai memasuki tahapan yang menentukan untuk mencari calon pemimpin di daerahnya masing-masing.

Setelah penetapan calon pasangan yang bakal "bertarung" pada pilkada serentak mendatang, sekarang ini sudah memasuki tahapan kampanye yang digelar mulai 15 Februari hingga 23 Juni 2018. Di sini masing-masing pasangan bakal beradu visi dan misi untuk mendapatkan simpati dari masyarakat.

Dalam kampanye ini, Ketua KPU Provinsi Sulawesi Tenggara Hidayatullah mewanti-wanti agar masing-masing calon melakukan kampanye damai, artinya bahwa masing-masing pasangan harus tetap menjaga iklim yang kondusif.

"Silakan sampaikan visi dan misinya, tetapi jangan saling menjelekkan satu dan yang lainnya. Termasuk di dalamnya adalah jangan melakukan praktik politik uang karena Bawaslu akan menindak tegas jika ada yang melakukannya," kata Hidayatullah.

Bahkan, untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan saat kampanye pasangan calon hanya diberi jatah membawa maksimal 10.000 orang pengikutnya. KPU Provinsi Sultra juga sudah memilih tempat-tempat untuk pelaksanaan kampanye.

Di Provinsi Sultra, ada empat daerah yang akan menggelar pilkada serentak, yaitu pemilihan gubernur dan wakil gubernur, pemilihan wali kota dan wakil wali kota di Baubau, serta pemilihan bupati dan wakil bupati di Kolaka dan Konawe.

Setelah penetapan calon pasangan, ada 14 pasangan yang bakal tampil pada pilkada serentak di Sultra.

Pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sultra ada tiga pasangan yang bakal bersaing, yaitu: pasangan Assrun dan Hugua diusung oleh Partai Amanat Nasional (PAN), PDI Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Hanura, dan Partai Gerindra; pasangan Ali Mazi/Lukman Abunawas diusung oleh Partai NasDem, dan Partai Golkar; pasangan Rusda Mahmud/Sjafei Kahar diusung oleh Partai Demokrat, PKB, dan PPP.

Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Konawe diikuti empat pasangan, yakni: pasangan Saiful Kery Konggoasa/Gusli Topan Sabara diusung oleh PAN, Partai NasDem, Partai Gerindra, dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Berikutnya, pasangan Litanto/Murni Tombili diusung oleh empat partai: PDI Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Demokrat, dan Partai Hanura.

Selanjutnya, pasangan Irawan Laliasa/Adi Jaya Putra diusung oleh Partai Golkar, PKS, dan Partai Bulan Bintang (PBB).

Pilkada di daerah ini juga diikuti pasangan calon melalui jalur independen, yakni pasangan Muliati Saiman/Mansyur

Pada pilkada di Kota Baubau diikuti lima pasangan, yakni satu pasangan melalui jalur perseorangan Ibrahim Marsela/Ilyas, dan empat pasangan calon yang diusung dari partai politik.

Mereka yang diusung oleh parpol, yakni pasangan Yusran Fahim/Ahmad (Partai Demokrat, PPP, dan PKS); pasangan Roslina Rahim/La Ode Yasin (PKB dan Hanura); pasangan Wa Ode Maasra Manarfa/Ikhsan Ismail (PBB dan Gerindra); pasangan AS Tamrin/La Ode Ahmad Monianse (PAN, PDIP, Golkar, dan NasDem).

Pada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kolaka diikuti dua pasangan calon, yakni Ahmad Safei/Muhammad Jayadin (partai pengusung: PAN, Gerindra, PPP, PDIP, Hanura, PBB, PKB, PKPI, NasDem, dan Demokrat) dan pasangan Asmani Arif-Syahrul Beddu (PKS dan Golkar).



Pilgub Sultra

Pada rapat pleno terbuka KPU Provinsi Sultra, Selasa (13-2-2018), ketiga pasangan cagub mendapatkan nomor urut. Pasangan Ali Mazi/Lukman Abuawas memperoleh nomor urut 1, pasangan Asrun/Hugua memperoleh nomor urut 2, dan pasangan Rusda Mahmud/Sjafei Kahar memperoleh nomor urut 3.

Setelah mendapatkan nomor urut, masing-masing pasangan menganggap bahwa nomor yang mereka dapatkan penuh dengan makna. Seperti yang diungkapkan Rusda Mahmud yang menyatakan bahwa angka 3 yang diperolehnya saat penarikan nomor urut memiliki makna bagi dirinya.

"Angka 3 ini mempunyai makna tersendiri yang dilihat dari sisi politik, filosofis bagi saya," kata Rusda.

Ia mengatakan bahwa angka 3 selalu menjadi keberuntungan bagi dirinya selama menekuni dua politik. "Dua periode saya menjadi Bupati Kolaka Utara, dan saat pencabutan nomor urut pasangan calon bupati saat ini selalu mendapat nomor 3," kata Rusda Mahmud yang berpasangan dengan Sjafei Kahar sebagai calon wakil gubernur.

Selan itu, kata dia, angka filosofis lainnya jika angka 3 dikali 3 akan mendapatkan angka 9 yang artinya Pilgub 2018 akan melahirkan Gubernur Sultra yang kesembilan.

Asrun yang berpasangan dengan Hugua yang mendapat nomor urut 2 mengaku senang dan bisa mendapat nomor 2 dari tiga pasangan calon yang akan mengikuti Pilgub Sultra 2018. Sebenarnya, semua nomor sama saja. Akan tetapi, bagia dia nomor 2 ini memiliki makna tersendiri, terutama saat menyosialisasikan kepada masyarakat.

Menurut dia, berada di angka tengah dari angka 1 dan 3 bisa menjadi jualan tersendiri saat sosialisasi nomor, yakni pilih yang di tengah-tengah. Makna filosifi lainnya adalah angka 2 ini menunjukkan bahwa setiap yang diciptakan selalu berpasang-pasangan.

Sementara itu, pasangan Ali Mazi/Lukman Abunawas merasa bersyukur bisa meraih nomor urut 1 pada Pilgub Sultra 2018. "Nomor urut 1 ini adalah nomor pamungkas karena merupakan angka pembuka untuk angka berikutnya," kata Ali Mazi.

Dengan nomor urut 1 tersebut, menurut dia, bisa menjadi peraih suara nomor satu pada Pilgub Sultra mendatang.

"Ada banyak makna keberuntungan dari angka 1 ini, nanti akan menjadi salah satu bahan saat sosialisasi kepada masyarakat," katanya.

Ketiga pasangan gubernur/wakil gubernur tersebut sudah menandatangani kesepekatan kampanye damai. Kesepakatan itu tertuang dalam sebuah ikrar yang ditandai dengan penandatanganan kesepakatan bersama tiga pasangan calon yang memuat lima poin penting untuk mewujudkan pilkada berintegritas yang dipelopori KPU Provinsi Sultra di Kendari, Minggu (18-2-2018).

Calon Gubernur Sultra nomor urut 1 Ali Mazi menyampaikan kesiapannya untuk menjaga ketertiban dan keamanan dalam setiap aktivitas kampanye di kabupaten/kota.

"Komitmen kami sudah siap menang dan juga siap kalah. Kami akan hindari politik uang, politisasi SARA," kata Ali Mazi.

Selanjutnya, Cagub Sultra nomor urut 2 Asrun menyampaikan penolakan terhadap penyebaran berita bohong, politik uang, dan politisasi SARA.

Sementara itu, Cagub Sultra urut 3 Rusda Mahmud menyerukan gaya politik santun dengan cara tidak menjelek-jelekan calon lain, jangan menjanjikan sesuatu hal kepada masyarakat, dan tidak membohongi rakyat.


Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar