Kendari, (ANTARA News) - Pemulung antusias mengumpulkan besi bekas di lokasi kebakaran pasar ikan higienis Kota Kendari, Sukawesi Tenggara untuk dijual kembali kepada penampung.
Pantauan di Kendari, Selasa, kalangan pemulung baik laki-laki maupun perempuan nekad mencari besi bekas saat api masih mengeluarkan asap.
Mereka membawa peralatan seadanya berupa palu dan gergaji besi untuk memudahkan mengangkap besi dari reruntuhan bangunan.
Harga jual besi bekas Rp4.000 per satu kilogram tidak menyurutkan semangat mereka bergelut dengan alat berat yang membersihkan lokasi kebakaran tersebut.
"Kami tidak bersyukur adanya musibah kebakaran karena menimbulkan kerugian besar baik bagi pemerintah maupun pedagang. Namun kami memanfaatkan besi sisa-sisa kebakaran agar bernilai ekonomi," kata mas Cahyo (48).
Ia mengatakan pemulung tidak menyerobot tetapi meminta izin kepada pengelolah pasar dan aparat kepolisian sebelum mengumpulkan besi bekas dilokasi kebakaran.
Sedangkan pemilik kios diberi kesempatan untuk mengamankan atap seng karena sebagian besar masih dapat difungsikan
Senin (19/11) sekitar pukul 05.00 Wita pasar ikan Higienis dilalap `si jago merah" yang menyebabkan 730 pedagang kehilangan kios.
Sebayak 1.300 unit kios yang sebagian dibangun semi permanen menggunakan atap seng serta atap terpal plastik mempercepat amukan
api hingga rata dengan tanah.
Pasar ikan Higienis ditempati sementara waktu oleh ratusan pedagang karena pasar Sentral modern Kendari sedang dalam tahap pembangunan.
"Kami harapkan pemerintah Kota Kendari sigap menangani pedagang korban kebakaran agar permasalahan tidak meluas," kata anggota DPRD Kota Kendari Chulafau Rasyidin saat memantau lokasi kebakaran. Pemerintah harus segera mencari solusi penempatan pedagang korban kebakaran karena aktivitas mereka sebagai pedagang tidak boleh terhenti.
"Pegawai negeri sipil (PNS) atau pejabat boleh tidak masuk kantor tetapi gaji jalan terus. Sebaliknya, kalau pedagang tutup kios atau tidak berjualan dipastikan tidak ada pemasukan. Ini yang harus dipahami oleh pemerintah maupun DPRD," kata Chulafau yang sebelumnya berprofesi sebagai pedagang.
Kerugian pedagang maupun pemerintah dari musibah kebakaran yang belum diketahui sebabnya ditaksir mencapai miliaran rupiah. (Ant).

