Jakarta (ANTARA) - Dunia terus bergerak. Setiap hari, keseimbangan kekuatan global berubah.
Negara yang kemarin tampak stabil, bisa tiba-tiba goyah karena perang dagang, krisis energi, atau tekanan geopolitik. Stabilitas bukan warisan. Ia harus dirawat, dijaga, dan dibangun melalui kerja nyata.
Indonesia, dengan sejarah diplomasi yang panjang sejak era Bung Karno, tentu belajar dari dinamika tersebut. Diplomasi bukan sekadar bicara di meja perundingan. Ia juga tentang kemampuan membaca tren, memahami kepentingan negara lain, serta memanfaatkan peluang untuk memperkuat diri sendiri.
Pakar hubungan internasional Joseph Nye dari Harvard University menekankan pentingnya konsep soft power. Menurut dia, kekuatan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh aspek militer maupun ekonomi, tetapi juga reputasi, budaya, dan kemampuan menarik simpati global. Indonesia memiliki modal itu -- mulai dari Pancasila, keragaman budaya, hingga posisi strategisnya di Asia Tenggara.
Namun, soft power saja belum cukup. Dibutuhkan pula stabilitas dalam negeri yang menjadi fondasi agar negara tidak mudah terombang-ambing oleh arus global yang deras. Ketahanan ekonomi, sosial, politik, hingga budaya menjadi pilar utama dari stabilitas tersebut.
Dalam konteks ketahanan ekonomi, cadangan devisa yang cukup dan diversifikasi ekspor memungkinkan Indonesia menahan guncangan pasar global. Saat harga komoditas turun atau arus modal bergeser, negara tidak terpaksa mengorbankan kepentingan strategisnya.
Ketahanan politik juga krusial. Dengan politik domestik yang stabil, Indonesia bisa menentukan arah kebijakan luar negeri secara mandiri tanpa terjerat tekanan yang merugikan. Diplomasi, dalam konteks ini, menjadi alat untuk menjaga ketahanan politik tersebut.
Ketahanan sosial menjadi pondasi lain yang tak kalah penting. Ketika masyarakat merasa aman, suaranya dihargai, dan hak-haknya terpenuhi, negara bakal memiliki ruang manuver lebih luas. Minimnya konflik domestik sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia di mata dunia.
Selain itu, ketahanan budaya ikut pula mendukung stabilitas nasional. Dengan menjaga nilai-nilai lokal, bahasa, dan identitas nasional, Indonesia bisa menunjukkan bahwa modernisasi tidak harus membuatnya kehilangan pijakan. Nilai-nilai budaya ini juga memperkuat soft power di tingkat global.
Di era digital kiwari, aspek ketahanan juga mencakup teknologi dan informasi. Negara harus mampu melindungi data, infrastruktur penting, dan informasi publik dari ancaman global. Tanpa perlindungan ini, stabilitas domestik bisa terganggu dan kapasitas diplomasi menurun.
Dunia multipolar
Diplomasi aktif tentu saja menjadi kunci di dunia multipolar dewasa ini. Amerika, China, Rusia, Uni Eropa, dan blok-blok regional lain saling bersaing. Posisi Indonesia yang berada di tengah-tengah bisa menjadi kekuatan jika dikelola cermat.
Diplomasi aktif berarti hadir, bersuara, dan terlibat dalam isu penting -- mulai dari isu perubahan iklim, perdamaian regional, hingga perdagangan digital.
Selain itu, diplomasi aktif menuntut fleksibilitas dalam membangun aliansi. Kerja sama dilakukan berdasarkan kepentingan nasional dan peluang yang muncul, sehingga Indonesia tetap bergerak mandiri di kancah global.
Perlu diingat, diplomasi tidak selalu mulus. Ada kalanya negara harus mengambil keputusan sulit, menghadapi tekanan, dan menerima kritik. Keberanian untuk mengambil keputusan berdasarkan analisis risiko, bukan popularitas politik semata, menjadi penentu keberhasilan.
Ketahanan dalam negeri dan diplomasi luar negeri adalah dua sisi dari koin yang sama. Kekuatan domestik memungkinkan posisi tawar di luar negeri, dan diplomasi yang berhasil menambah keamanan serta stabilitas di dalam negeri.
Dengan ketahanan multidimensi, kedaulatan yang terjaga, dan diplomasi yang aktif, sebuah negara bisa tetap relevan dan berpengaruh, meski dunia bergerak cepat dan penuh ketidakpastian.
Di dunia yang multipolar sekarang ini, negara yang pasif akan terseret arus gelombang tekanan politik, ekonomi, dan keamanan internasional. Karenanya, Indonesia perlu terus bergerak, menempatkan diri sebagai negara yang dihormati dan dipercaya sebagai mitra strategis dalam politik, perdagangan, dan isu-isu global, bukan hanya sebagai pengamat pasif.
Masa depan stabilitas Indonesia tergantung pada konsistensi dan keberanian dalam diplomasinya. Keputusan hari ini menentukan posisi esok, baik di tingkat regional maupun global.
Kalau pasif, diam saja, negara bakal seperti perahu tanpa layar di tengah samudra. Arus global yang deras bisa menyeretnya ke mana saja, dan kita cuma bisa pasrah. Maka, bergerak bukan pilihan, melainkan keharusan. Bergerak berarti ikut menentukan arus, bukan cuma menunggu keputusan orang lain.
Akan tetapi, bergerak juga harus cerdas. Bukan sekadar sibuk hadir di forum-forum internasional atau menebar pidato megah. Diplomasi yang efektif lahir dari persiapan, analisis yang tajam, dan kemampuan membaca setiap peluang. Indonesia bisa terus berbicara, namun juga harus didengar karena dasar langkahnya jelas dan logis.
Keberanian dalam diplomasi bukan berarti nekat, tapi berani mengambil keputusan yang sulit demi kepentingan nasional. Kadang, itu berarti menolak tekanan yang menggiurkan, atau memilih jalan yang tidak populer tapi tepat. Inilah yang membedakan negara yang kuat dengan negara yang tampak kuat tapi mudah terombang-ambing.
Dalam dunia multipolar, reputasi dan kepercayaan adalah modal utama. Negara yang konsisten, jelas sikapnya, dan bisa diandalkan, akan senantiasa dihormati dan dijadikan mitra.
Stabilitas Indonesia ke depan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi maupun militer belaka, tetapi juga oleh bagaimana negara ini bergerak, bersikap, dan menegakkan kepentingannya dengan bijak.
Seperti telah disebutkan di muka, stabilitas bukan warisan. Ia harus dibangun, dijaga, dan dipertahankan lewat strategi matang serta keberanian menjaga kedaulatan.
Dunia terus bergerak. Siapa yang diam, akan kian tertinggal.
*) Djoko Subinarto, kolumnis, alumnus Departemen Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran

