Logo Header Antaranews Sultra

Bukan bensin yang kurang, tapi tenang yang hilang

Sabtu, 2 Mei 2026 13:50 WIB
Image Print
Rabiul Misa, Analis Yunior Bank Indonesia. (ANTARA/HO-Pribadi)

Kendari (ANTARA) - Siang itu, penghujung Maret yang bersiap beranjak ke April, media lokal berduyun-duyun memberitakan lonjakan jumlah kendaraan yang tampak anomali. Para pengendara terekam kamera memadati beberapa titik SPBU Kota Kendari; deretan sepeda motor berjejer rapi, mobil berhimpitan sedari pagi, hingga petugas SPBU kewalahan meladeni.

Saya pun bertanya-tanya, apa gerangan yang memicu fenomena ini? Sebab tak mungkin ada asap, jikalau tak ada api.

Rupanya berita simpang siur perkara kelangkaan stok BBM santer terdengar di jagat maya. Kabarnya beredar rumor bahwa per 1 April, harga Pertalite mengalami lonjakan drastis, semula Rp10 ribu menjadi Rp18 ribu per liter. Begitu juga Bio Solar, harganya dikabarkan akan naik menjadi Rp12.500 per liter dari Rp6.800 per liter.

Isu tentang rencana kenaikan harga BBM bersubsidi hingga 80 persen ini, begitu cepat menyebar dari satu gawai ke gawai lain bagaikan wabah virus digital. Tak jelas asal muasalnya, tetapi langsung membuat orang panik karenanya.

Terbukti saat melihat panjangnya antrean di SPBU karena khawatir harga BBM naik drastis, warga lain ikut-ikutan.Tak pelak, mereka ingin membeli lebih banyak, bahkan beberapa oknum sengaja menimbun stok. Permintaan melonjak bukan lagi karena kebutuhan meningkat, melainkan karena kepanikan yang sulit dicegat.

Menanggapi kegaduhan itu, Gubernur Sultra lantas memberikan klarifikasi bahwa pasokan BBM dalam kondisi aman. Pertamina Patra Niaga turut mengamini.Mereka menyatakan telah melakukan penebalan stok hingga 30 persen di atas konsumsi normal, serta mengoperasikan Terminal BBM Kendari selama 24 jam penuh demi menjamin kelancaran distribusi. Menyoal BBM pertalite dan solar pun harga yang dipatok tetap sama.

Tak lama berselang, usai klarifikasi resmi yang beredar di berbagai kanal berita, antrean itu perlahan menghilang. Seolah-olah kegaduhan sebelumnya hanyalah gelombang sesaat yang datang dan pergi bak hantu di siang bolong.

Pendek kata, yang berubah bukanlah jumlah muatan bensin di dalam mobil distribusi, melainkan cara masyarakat menyikapi situasi.

Jika dikaji dari ilmu sosial, fenomena ini dianggap sebagai self-fulfilling prophecy atau validasi sosial yang keliru. Robert K. Merton menguraikan bagaimana sebuah keyakinan yang semula keliru, lambat laun dapat memicu tindakan kolektif yang justru membenarkan keyakinan itu. Saat rumor tentang kelangkaan menyebar di berbagai ruang percakapan, masyarakat tergerak untuk membeli secara berlebihan. Lantas, antrean panjang pun tak bisa dihindari, menjadi bukti kelangkaan yang kadung diyakini.

Berkelindan, ilmu ekonomi perilaku coba menjelaskannya lewat konsep herd behavior atau dikenal sebagai perilaku kawanan. Abhijit Banerjee mengungkapkan ketika terjadi situasi ketidakpastian, individu cenderung mengikuti tindakan orang lain. Misalkan saja, ketika seseorang melihat antrean panjang di SPBU, pertanyaan tentang kebenaran informasi tidak lagi diperdebatkan.

Yang muncul justru dorongan untuk ikut dalam antrean agar tak ketinggalan.

Data nasional memperkuat fakta ini. Kementerian ESDM melaporkan proyeksi kuota tahun 2026 memang didominasi BBM subsidi. Secara historis, Pertalite dan Bio Solar konsisten menyedot porsi terbesar, berkisar 80 hingga 85 persen dari total penyaluran BBM ritel secara nasional.

Itulah kenapa banyak masyarakat rela mengantre berjam-jam, bahkan sampai berhari-hari untuk mengamankan BBM bersubsidi di dalam tangki kendaraan miliknya.

Ketergantungan pada BBM subsidi dan informasi prematur ini lebih dari cukup untuk menggerakkan keputusan-keputusan segelintir orang, seketika menggulung hingga memicu perilaku kolektif alias psikologi massa. Singkatnya, panic buying atau kepanikan pasar, bukan lagi keputusan individual, melainkan sebuah reaksi berantai atas perilaku sosial.

Tak dapat dipungkiri, pesatnya perkembangan jumlah pengguna aplikasi sosmed (social media) menjadi dalang di balik kilasan peristiwa ini. Bayangkan saja, sebuah pesan singkat Whatsapp maupun postingan Facebook dapat menjangkau ratusan bahkan ribuan orang dalam hitungan menit. Informasi itu ditelan mentah-mentah, nyaris tanpa verifikasi yang sah.

Rumor seperti ini bekerja seperti bara api di dalam sekam padi. Di awal mungkin belum nampak di permukaan. Tapi saat tak disadari, lambat laun baranya cukup untuk menyulut kebakaran.

Dalam konteks komunikasi, jika tidak segera diklarifikasi, informasi itu segera menjalar tak terkendali. Efeknya pun mengganggu distribusi, memicu lonjakan permintaan, hingga menyebabkan harga ikut mengalami tekanan.

Berangkat dari munculnya peristiwa ini, otoritas daerah lantas hadir. Klarifikasi yang disampaikan oleh pemerintah daerah dan pihak terkait tidak hanya berfungsi sebagai informasi, tetapi juga sebagai jangkar ekspektasi.

Praktisnya, ketika publik mendapatkan kepastian bahwa stok BBM aman dan harganya tetap, rasa cemas perlahan mereda. Antrean pun terurai dengan sendirinya.

Inilah salah satu strategi penting dalam pengendalian inflasi. Dalam kerangka kerja TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah), strategi ini dikenal sebagai komunikasi yang efektif. Komunikasi kebijakan publik memiliki peran yang tak kalah penting dengan ketersediaan barang. Informasi yang akurat menjadi jangkar ekspektasi yang tepat.

Lebih jauh lagi, stabilitas BBM memiliki dampak yang luas bagi perekonomian daerah. Apalagi distribusi barang di wilayah kepulauan seperti Sultra sangat bergantung pada transportasi darat dan laut. Biaya bahan bakar tentu membentuk komponen harga berbagai komoditas pangan lokal.

Implikasinya, ketika biaya energi stabil, tekanan pada harga pangan dan kebutuhan pokok cenderung terkendali.Sebaliknya, ketika ekspektasi terhadap BBM terganggu, efeknya dapat merambat. Ongkos distribusi meningkat, lalu diikuti oleh kenaikan harga di tingkat konsumen.

Dengan kata lain, energi tidak hanya menjadi komoditas, tetapi juga penentu stabilitas.

Pada akhirnya, stabilitas ekonomi tidak hanya ditentukan oleh jumlah pasokan yang tersedia, tetapi juga oleh bagaimana kebijaksanaan masyarakat menyikapi riuhnya sosial media.

Percaya atau tidak, ekspektasi individu memang bekerja sedemikian rupa dalam membentuk dinamika pasar. Tak heran, dalam banyak kasus, cerita bahkan menyebar lebih cepat daripada fakta.

Sejatinya, BBM subsidi dan inflasi acapkali menyerupai api di tungku dapur. Sebuah tungku tentu membutuhkan api untuk memasak hidangan sehari-hari. Dan api itu harus terus dijaga. Saat kecil, ia berguna. Terlanjur membesar, membuat hati merana.

Tak ubahnya kata pepatah, “Api kecil jadi kawan, api besar jadi lawan.”

Dan saat mencermati kabar simpang siur kelangkaan BBM subsidi di Kendari bulan lalu, kita mungkin telah belajar sesuatu: bahwa bukan bensin yang kurang, tapi tenang yang hilang.

*) Rabiul Misa, Analis Yunior Bank Indonesia



Oleh

COPYRIGHT © ANTARA 2026