
Selamat Tinggal Seremoni, Selamat Datang Harmoni

Kendari (ANTARA) - Tak terasa, beberapa hari lagi warga bumi anoa bersukacita menyambut perayaan Hari Ulang Tahun Sulawesi Tenggara ke-62. Kali ini rangkaian acara terpusat di kota Kendari. Biasanya jalanan mulai dibanjiri kendaraan lintas kota. Truk pengangkut material panggung hilir mudik. Baliho besar memenuhi papan reklame sepanjang ruas jalan utama.
Berbagai media lokal mulai marak mewartakan ihwal rangkaian acara yang akan digelar. Pameran UMKM, festival kuliner, hiburan rakyat, semuanya dipersiapkan matang, disebarluaskan seantero bumi anoa.
Masyarakat tampak antusias, sebab harapan bersemi dalam perhelatan akbar sekali setahun itu. Penggiat ekonomi lokal pun tak kalah semangat. Pelaku UMKM dari berbagai daerah bersiap memajang produk terbaik. Pokdarwis sibuk mencetak pamflet promosi destinasi desa wisata unggulan. Tahun ini, Pemerintah Provinsi terlihat menghadirkan panggung bagi ekonomi rakyat.
Lantas, seberapa jauh perayaan seperti ini benar-benar menggerakkan ekonomi rakyat? Apakah ia hanya semalam, tanpa sempat meninggalkan makna yang mendalam?
Sekadar napak tilas sejarah, Sulawesi Tenggara sesungguhnya terwujud berkat tekad semangat para pendahulu. Ada para tokoh dan kaum pemuda yang ingin terlepas dari belenggu keterbelakangan. Lalu, pemekaran tahun 1964 menandai babak baru lahirnya daerah yang berdikari. Infrastruktur dibangun, konektivitas dibuka.Seketika pusat ekonomi mulai tumbuh pelan, bertahap, tapi jelas arahnya.
Kini, tantangannya tak lagi sama. Sebab, fondasi sudah tersedia, akses jauh lebih baik. Justru ujian datang dari ruang yang menjemukan. Tentang kemampuan mengolah potensi. Tentang cara mengubah apa yang ada menjadi nilai ekonomi yang benar-benar terasa.
Menariknya, pergeseran paradigma itu mulai nampak. Sebagaimana arahan Gubernur, perayaan HUT Sultra tahun ini tidak lagi sepenuhnya seremoni. Ada upaya menjadikannya ruang promosi potensi pariwisata dan ekonomi kreatif. Itu langkah yang patut dicatat.
Tapi ada satu pertanyaan yang menggantung: apakah promosi itu benar-benar “hidup”? Atau hanya berhenti di level keramaian sesaat?
Di sinilah data memberi petunjuk. Dan kalau boleh jujur, angka yang disajikan tahun 2025 lalu tidak sepenuhnya nyaman. Dalam setahun, Badan Pusat Statistik Sulawesi Tenggara mencatat sekitar 13 juta perjalanan wisata. Rata-rata sekitar 1 juta per bulan. Secara angka, ini kuat. Bahkan sangat kuat untuk ukuran daerah.
Namun, angka lain punya cerita sebaliknya. Tingkat penghunian kamar hotel hanya berada di kisaran 22 hingga 46 persen. Belum sanggup menembus 50 persen pada tahun yang sama.
Di sini, kita seperti melihat dua realitas yang berjalan beriringan tapi ujungnya tak searah. Banyak orang yang datang. Tapi tidak tinggal. bagaikan sosok yang seketika menatap, tapi hatinya tidak menetap.
Jadi mungkin kita perlu terbuka sejak awal. Masalah Sulawesi Tenggara bukan hanya menyoal cara menarik wisatawan, melainkan apa yang kita lakukan saat mereka datang.
Berkaca dari konsep tourism value chain yang dikemukakan Michael Porter dalam bukunya yang berjudul “Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance (1985)”, persoalannya jadi lebih jelas. Rupanya kedatangan hanyalah pintu masuk. Setelah itu, baru muncul fase yang menentukan. Apakah mereka memilih tinggal, berbelanja, atau mungkin saja berinvestasi.
Sultra cukup kuat di pintu pertama. Tapi di fase berikutnya, mungkin butuh perhatian lebih.
Terbukti, banyak wisatawan datang hanya untuk singgah. Menghadiri acara, lalu kembali. Tidak ada cukup alasan untuk menginap. Tidak ada “daya tarik kedua” yang membuat mereka menunda kepulangan.
Persoalan lain ialah distribusi. Aktivitas ekonomi masih terkonsentrasi di Kendari. Padahal destinasi lain tak kalah Indah memanjakan pelancong akan pesona wisata baharinya. Tantangannya muncul saat aksesnya belum terhubung dalam satu pengalaman perjalanan yang utuh. Tak pelak, orang datang, selesai, lalu pergi. Tidak sempat kepikiran untuk menjelajah.
Kepastian pasar menjadi persoalan yang lebih nyata. Kunjungan yang naik-turun membuat pelaku usaha berpikir dua kali. Investor, apalagi. Mereka butuh pola yang bisa diprediksi.
Di titik ini, saya tiba-tiba terpikir, mungkin kita sering terlena dengan angka kunjungan. Padahal, angka itu baru permukaan. Yang menentukan justru apa yang terjadi saat pengunjung berdatangan.
Di sinilah perayaan HUT Sultra 2026 menciptakan panggung yang lebih bergengsi. Bukan hanya menghadirkan ajang promosi wisata, tetapi juga investasi.Terlebih, Pemprov tidak berjuang sendirian di tengah tantangan keterbatasan anggaran yang digelontorkan sekitar Rp 1,97 miliar.
Bank Indonesia yang seyogyanya menaruh perhatian pada pelaku UMKM, ikut berperan menjadi lokomotif perubahan. Hadirnya eksperimen fitur digitalisasi pembayaran sekelas QRIS tentu menambah daya tarik tersendiri bagi lanskap perkembangan kota digital.
Hal lain yang patut dicatat, perangkat pemerintah daerah berduyun-duyun menyemarakkan momentum akbar ini. Ambil contoh, Disnakertans ikut menggelar job fair atau pasar tenaga kerja untuk menyerap potensi SDM unggul sebagai langkah konkrit menekan angka pengangguran di daerah.
Berangkat dari fakta ini, saya melihat ada beberapa hal yang patut diperhitungkan.
Pertama, durasi waktu menetap. Event tidak lagi berdiri sendiri. Ia telah “disambungkan” dengan pengalaman lain. Paket wisata bahari, rute perjalanan lintas pulau, hingga kemudahan fasilitas akomodasi yang ditawarkan. Orang datang bukan lagi karena acara, tapi punya alasan untuk tinggal lebih lama.
Kedua, perkara belanja produk. 100 pelaku UMKM dihadirkan dalam ajang pameran produk yang terkurasi, mulai dari produk wastra, kriya, hingga jajanan lokal kekinian. Orang yang datang pun, perlahan melihat, lalu membeli. Ruang inilah yang mempertemukan konsumen yang rela mengeluarkan uang untuk produk niche alias jarang ditemui di pasaran. Apalagi muncul pengalaman di sekelilingnya. Ada interaksi, cerita, suasana. Hal-hal yang membuat keputusan membeli terasa lebih personal.
Ketiga, akses investasi. Hal ini jarang dihadirkan dalam perayaan seremoni. Forum penting ini sengaja dihadirkan sebagai rangkaian kegiatan, harapannya bisa menjadi ruang temu bisnis. Eksposur acara pun lebih meluas, menjaring peluang-peluang baru bagi penggiat ekonomi kreatif demi ekspansi skala bisnisnya. Alhasil perayaan HUT kali ini tak bisa lagi dipandang panggung hiburan semata, ia sudah berbenah menjadi pintu masuk peluang ekonomi yang nyata.
Inilah wujud 'Harmoni' yang sesungguhnya, sebuah titik temu di mana tingginya kuantitas kunjungan berbanding lurus dengan kualitas kesejahteraan. Harmoni antara kemeriahan di permukaan dengan perputaran rupiah yang tertampung dalam kantong-kantong pelaku usaha di daerah.
Kembali ke persoalan yang sempat menggantung di awal cerita.
Sungguh Sulawesi Tenggara tidak pernah kekurangan pengunjung. Tantangannya justru membuat mereka tidak buru-buru pulang.
Berakar dari semangat pemekaran daerah ini, ada satu benang merah yang perlahan bisa ditarik. Dulu, hambatannya membangun fondasi. Sekarang, tantangannya menggaet investasi.
Seperti kata pepatah, “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Berbekal semangat pendahulu daerah tercinta, kita perlahan yakin bahwa perayaan HUT Sultra telah berganti wajah dan sudah sepatutnya untuk disambut dengan ucapan “Selamat Tinggal Seremoni, Selamat Datang Harmoni.”
*)Rabiul Misa, Analis Yunior Bank Indonesia
Oleh Rabiul Misa *)
COPYRIGHT © ANTARA 2026
