Kendari (ANTARA) - Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara (Sultra) menemukan uang palsu yang beredar di wilayah Bumi Anoa sebanyak 397 lembar di sepanjang tahun 2025.
Deputi Kepala KPw BI Sultra Thathit Suryono saat ditemui di Kendari, Rabu, mengatakan bahwa temuan uang palsu itu didominasi oleh pecahan besar, yakni pecahan 100 ribu.
Ia menyampaikan jika jumlah tersebut menunjukkan tren penurunan jika dibandingkan dengan temuan pada tahun 2024 yang mencapai 465 lembar.
"Ada tren penurunan (temuan uang palsu). Peredarannya tercatat paling tinggi terjadi di Kota Kendari dan Kota Baubau," kata Thathit Suryono.
Thathit Suryono menyebutkan bahwa berdasarkan hasil pemetaan, peredaran uang palsu mayoritas ditemukan pada transaksi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Adapun waktu peredarannya banyak terjadi pada momentum perayaan hari besar keagamaan nasional (HBKN), seperti bulan Ramadan, Idul Fitri, serta Natal dan Tahun Baru.
Menyikapi hal tersebut, BI Sultra terus melakukan langkah penindakan hingga ke warung-warung kecil dengan menjalin koordinasi bersama aparat penegak hukum (APH).
Selain langkah penindakan, BI Sultra juga menggencarkan upaya preventif melalui edukasi program Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah kepada berbagai lapisan masyarakat.
"Upaya BI kita pilah menjadi dua. Di daerah sendiri kita terus memberikan edukasi pada masyarakat bagaimana mengenali uang asli melalui metode 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang). Edukasi ini menyasar berbagai segmen mulai dari pelajar, mahasiswa, rumah tangga, hingga pelaku usaha," jelas Thathit Suryono.
Ia berharap melalui sosialisasi CBP Rupiah yang masif, masyarakat dapat lebih waspada dan memiliki kemampuan untuk mendeteksi ciri-ciri keaslian uang kertas secara mandiri guna meminimalisir kerugian akibat peredaran uang palsu di Sulawesi Tenggara.

