Kendari (ANTARA) - Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Andi Sumangerukka secara perdana melepas ekspor sebanyak 1.015 ton feronikel yang diberangkatkan dari Pelabuhan Pelindo Kendari dan langsung menuju ke Lianyunggangm China.
Gubernur Sultra Andi Sumangerukka saat ditemui di Kendari, Rabu, mengatakan bahwa ekspor dari Kendari, Sultra dan langsung menuju ke negara China ini menandai babak baru perdagangan internasional Bumi Anoa yang tidak lagi bergantung pada pelabuhan transit di daerah lain, sehingga memberikan nilai tambah ekonomi langsung bagi daerah.
"Ini merupakan langkah awal yang cukup maju. Kita berharap pengiriman langsung ke negara tujuan ini memberikan nilai tambah khusus bagi daerah kita," kata Andi Sumangerukka.
Dia menyebutkan bahwa selama ini komoditas ekspor Sultra sering kali tercatat di daerah lain karena harus melalui proses bongkar muat (double handling) di pelabuhan luar, seperti Makassar dan Surabaya, hingga Jakarta.
"Dalam ekspor perdana ini, PT Ceria Nugraha Indotama menjadi perusahaan perintis yang memanfaatkan jalur langsung tersebut," ujarnya.
Andi Sumangerukka juga mengimbau perusahaan tambang besar lainnya yang beroperasi di Sultra, seperti Virtue Dragon, OSS, hingga PT Antam, untuk memanfaatkan fasilitas ekspor langsung dari Kendari.
"Kita akan telusuri mengapa yang lain belum lewat sini. Jika tidak ada hambatan kebijakan dari pusat, dengan kewenangan yang ada, kami akan wajibkan perusahaan-perusahaan tersebut melakukan ekspor melalui pelabuhan di Sultra agar daerah mendapatkan manfaat ekonomi yang maksimal," sebut Andi Sumangerukka.

Di tempat yang sama, General Manager (GM) Terminal Petikemas Kendari Herryanto menyampaikan bahwa sistem direct export ini memangkas birokrasi logistik yang selama ini membebankan pengusaha. Sebelumnya, kontainer asal Sultra harus dibongkar di Makassar, Surabaya, atau Jakarta, sehingga data ekspor tercatat milik pelabuhan-pelabuhan tersebut.
"Dulu kita cuma dapat 'ampasnya' karena ekspor tercatat atas nama Tanjung Priok atau Tanjung Perak. Sekarang, perusahaan pelayaran internasional langsung datang ke Kendari untuk mengangkut komoditas kita ke China," jelas Herryanto.
Dia juga menjelaskan bahwa pihaknya telah meningkatkan kesiapan infrastruktur dengan menyediakan 90 titik colokan kontainer pendingin (reefer) serta mempercepat kinerja bongkar muat hingga 25 boks per jam.
"Efisiensi ini mampu memangkas waktu sandar kapal (port stay) dari yang semula 3 hari menjadi hanya 16 jam," sebut Herryanto.
Selain nikel, lanjutnya, sistem ekspor langsung ini juga mulai dimanfaatkan untuk komoditas non-tambang seperti perikanan. Ia menyebutkan ubur-ubur, ikan, hingga hasil bumi lainnya kini tidak lagi mengalami double handling.
"Sangat ironis jika dulu ikan atau pala dari Sultra tercatat sebagai ekspor daerah lain hanya karena masalah pelabuhan. Sekarang dengan pengiriman langsung, ekonomi Sultra akan bergerak lebih cepat karena efisiensi waktu dan biaya operasional yang jauh lebih murah," tambahnya.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Sultra ekspor perdana 1.015 ton feronikel langsung ke China

