Talenta pedayung putri Sultra Dayumin menurun dari sang ayah

id Dayumin,dayung, pon papua

Talenta pedayung putri Sultra Dayumin menurun dari sang ayah

Dayumin (Foto: ANTARA/HO-Humas KONI Sultra)

Kendari (ANTARA) - Sulawesi Tenggara dikenal sebagai lumbung atlet dayung Indonesia, bahkan pemasok pelatih nasional bertalenta.

Sebut saja pedayung putri Dayumin yang sudah tidak asing lagi di dunia olahraga dayung Indonesia.

Sejumlah prestasi telah ditorehkan, baik tingkat nasional, Asia Tenggara hingga Asia.

Dayumin yang lahir di daerah terpencil desa Banu-Banua Jaya Kabupaten Buton Utara 2 September 1992, sudah mampu mengukir prestasi sejak usia yunior, 15 tahun, atau sekitar tahun 2007.

“Saat itu saya masih menjadi atlet PPLP Sultra bersama beberapa teman yang juga gabung di Pelatnas tahun 2010,” tutur Dayumin melalui saluran telepon di sela latihan ringan jelang waktu pertandingan dayung nomor canoeing di teluk Youtefa kota Jayapura.

Bagi Dayumin, olahraga dayung bukan hal baru karena sudah terbiasa dilakukan sejak kecil, apalagi sang ayah bernama Ramuddin juga merupakan atlet dayung nasional.

“Menjadi atlet dayung adalah cita-cita saya sejak kecil. Mengikuti jejak ayah yang dulunya juga pernah menjadi atlet nasional, tapi kami ini sudah memiliki bakat alam karena kampung kami di wilayah pesisir,” kata Dayumin, anak pertama dari empat bersudara.

Ia mengaku, pelatih pertama saat menjadi atlet dayung adalah sang ayah, karena selalu memberikan motifasi dan arahan mengenai teknik mendayung dan sebagainya.

“Saya mulai berprestasi tahun 2008, junior di kejurnas PPLP di Indramayu Jawa Barat serta Kejurnas PPLP Bali dengan merebut medali perak. Tahun 2009 kejuaraan senior di Makassar, Sulawesi Selatan, terus pemanggilan Pelatnas 2010 untuk Asian Games di China,” katanya.

Tahun 2010, nomor spesialis Dayumin adalah kayak satu (K-1) menyusul tahun 2015 pindah di nomor cano (C1) karena nomor cano putri merupakan nomor baru di Indonesia dan diperlombahkan di Olimpiade.

“PON XX Papua ini merupakan PON ke- 4 saya ikuti dan ini merupakan PON terakhir saya karena terkait batasan usia. Jadi berikutnya saya akan menjadi pelatih untuk menularkan ilmu yang saya peroleh,” kata Dayumin, peraih medali emas di nomor cano pada PON XIX 2016 di Jawa Barat.

Pada PON XX Papua, Dayumin bertekad kembali merebut medali emas di nomor Cano dua (C2) putri jarak 500 meter dan cano satu (C1) putri 200 meter.

“Mudah-mudahan PON kali ini saya bisa persembahkan medali emas untuk daerah saya dan terutama untuk orang tua saya,” ujarnya.

Dayumin juga meminta kepada pemerintah daerah menyiapkan asrama tempat latihan atlet senior. Asrama PPLP saat ini juga dapat direnovasi agar atlet merasa nyaman berlatih ditambah lagi dengan penyediaan sarana latihan memadai sehingga selalu ada generasi atlet dayung yang berprestasi hingga tingkat dunia.

“Saya sering berbagi pengalaman dengan adik-adik bahwa untuk menjadi sang juara itu tidak mudah, harus tabah, latihan keras dan disiplin berlatih,” harapnya.

Pada PON XX Papua ini, Dayumin yang sudah menjadi ASN di Kementerian Pemuda dan Olahraga sejak 2018, mengaku optimistis bahwa target merebut 7 medali emas, dapat tercapai bahkan bisa melampaui.
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2021