Daud Yordan pantang menyerah !

id daud yordan

Petinju Indonesia Daud Yordan membawa sabuk juara tinju WBO (The World Boxing Organization) Asia-Pacific dan Africa usai mengalahkan Petinju Jepang Yoshitaka Kato pada pertandingan bertajuk Road to the World Champions di Balai Sarbini, Jakarta, Jumat (5/2). (Foto ANTARA)

Kendari (Antaranews Sultra) - Daud Yordan, mungkin satu-satunya petinju profesional Indonesia yang masih bertengger di papan atas pertinjuan dunia setelah sebelumnya pemegang gelar Super Champions kelas bulu WBA, Chris John, mengundurkan diri dari ring tinju.

Chris John yang berasal dari Kota Semarang, Jawa Tengah mengundurkan diri pada usia 34 tahun setelah yang bersangkutan kalah dari petinju Afrika Selatan Simpiwe Vetyeka pada pertarungan di Australia, 6 Desember 2013. Saat masih aktif di dunia tinju, Chris John memiliki rekor bertarung 48 kali menang (22 kali di antaranya dengan KO) sekali kalah dan tiga kali seri.

Sekarang ini, suami mantan atlet wushu Jateng Anna Maria Megawati tersebut sedang fokus pada pengajuan dirinya sebagai calon anggota legislatif (DPR RI) daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah.

Harapan dunia tinju profesional Indonesia kini hanya pada petinju Sasana Kayong Utara, Daud Yordan, yang sudah dikenal sebagai pemegang sabuk gelar juara WBO Intercontinental kelas ringan (61,2 kilogram).

Tetapi pada hari Sabtu (10/11) waktu setempat atau Minggu (11/11) dini hari, Daud Yordan dipaksa harus mengakui keunggulan petinju tuan rumah Anthony Crolla pada pertarungan di Manchaster Arena, Inggris.

Pada pertarungan bertajuk "Eliminator for: WBA Super World Lightwight Championship" di Manchaster Arena, Inggris, tersebut, Daud Yordan harus mengakui ketangguhan Crolla dengan angka 112-116. "Itu artinya, saya kalah empat ronde dari dia (Anthony Crolla)," kata Daud Yordan.

Dengan kekalahan tersebut menjadikan Daud Yordan kini memiliki rekor bertarung 33 kali menang (26 kali di antaranya dengan KO) dan empat kali kalah. Tentunya peringkat penantang pada kelas ringan WBA-nya juga turun karena sebelumnya Daud menempati penantang peringkat dua sedangkan Crolla menempati peringkat keempat.

"Dia (Anthony Crolla) mengubah gaya bertarung dari `fighter` menjadi `boxer`," kata Daud Yordan.

Menurut dia, gaya bertarung petinju "fighter" adalah jual-beli pukulan, sedangkan gaya "boxer" adalah berlari-lari di atas ring setelah melancarkan pukulan.

"Tentu saja perubahan ini menyulitkan karena beda dengan yang dipelajarinya," kata petinju kelahiran Sukadana, Kalimantan Barat, 10 Juni 1987 itu.

Dengan kekalahan ini, ternyata tidak menyurutkan suami Angela Megaria Penuda itu untuk tetap berkiprah di dunia tinju profesional yang sudah digeluti sejak tahun 2005 dan membesarkan namanya seperti sekarang ini.

Empat kali kekalahan yang diderita Daud Yordan tersebut selain dari Anthony Crolla juga dari Simpiwe Vetyeka (Afrika Selatan) pada pertarungan di Jakarta, 14 April 2013, kalah dari Chris John pada pertarungan di Jakarta, 17 April 2011, dan Calestino Caballero pada pertarungan di Amerika Serikat pada 10 April 2010.

Tiga kekalahan sebelumnya saat Daud Yordan berkecimpung di kelas bulu (57,1 kilogram), sedangkan saat kalah dari Crolla sudah berkecimpung di kelas ringan (61,2 kilogram).

Semangat bertinju

Daud Yordan, tetap semangat untuk bertinju setelah dikalahkan petinju Inggris, Anthony Crolla, beberapa waktu lalu. "Masih dong mas`, karier saya di dunia tinju masih lama," katanya.

"Justru kekalahan tersebut menjadikan semangat saya berlipat-lipat," kata petinju dengan rekor bertarung 33 kali menang (26 di antaranya dengan KO) dan empat kali kalah.

Usai menjalani pertarungan melawan Crolla, Daud Yordan akan beristirahat terlebih dulu. Daud Yordan mengatakan, belum ada karena dirinya masih menjalani masa istirahat. "Belum berkegiatan mas`, hanya bersih-bersih sasana," katanya.

Daud Yordan memulai karier tinju dengan menekuni kelas bulu (57,1 kilogram) bahkan yang bersangkutan sempat merebut gelar juara IBO setelah menang KO atas petinju Filipina Lorenzo Villanueva di Singapura, 5 Mei 2012.

Kemudian sempat mempertahankan gelar dengan mengalahkan petinju Mongolia Choi Tseveenpurev juga di Singapura pada 9 September 2012. Tetapi akhirnya kalah dari petinju Afrika Selatan Simpiwe Vetyeka di Jakarta 14 April 2013.

Setelah itu, Daud Yordan memutuskan untuk naik dua kelas dari bulu (57,1 kilogram) ke kelas ringan (61,2 kilogram). Pada saat itu Daud Yordan sempat mengalahkan beberapa petinju seperti Daniel Eduardo Brizuela (Argentina) di Australia pada 6 Juli 2013.

Kemudian mengalahkan Sipho Taliwe (Afrika Selatan) di Australia, 6 Desember 2013, kemudian mengalahkan Ronald Pontillas (Filipina) di Pontianak, 20 Desember 2014, menang atas Maxwell Awuku (Ghana) di Surabaya, Jatim, 6 Juni 2015.

Pada 5 Februari 2016 di Jakarta, Daud Yordan mengalahkan petinju Jepang Yoshitaka Kato dan pada 4 Juni 2016 mengalahkan petinju Argentina Cristian Rafael Coria di Uruguay. Sedangkan pertarungan terakhir Daud Yordan yaitu saat mengalahkan petinju Thailand Campee Phayom di Singapura, 25 Maret 2017.

Sebelum bertarung melawan Crolla, Daud Yordan mengalahkan petinju tuan rumah Pavel Malikov dengan KO pada ronde kedelapan pada pertarungan di DIVS Ekaterinburg, Rusiar, 23 April 2018.

 
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar