Kolaka (Antara News - Drs. H. Khaerun Dahlan, MM dinobatkan sebagai Bokeo atau Raja Mekongga XIX pada Kongres Mekongga Raya II di Rumah Adat Mekongga Kolaka, Kamis.
Penobatan Bokeo Mekongga XIX dihadiri Eksekutif Nasional Asosiasi Kerajaan dan Keraton (AKK) se-Indonesia, Shri Lalu Gde Pharmanegara Parman, Sultan Bulungan Kalimantan Utara, Raja Skala Bra' Lampung, Resi Jogya, Mokole Laiwoi Kendari, Mokole Kabaena, Raja Sidrap, Prof. Irwan Nur dari Lembaga Negara PKRI atau Raja Pulau Buruh, Ratu Papua, Raja Bantaeng, Raja Sinjai, Raja Borisallo Gowa, Sultan Buton dan Ketua Lembaga Adat Kolaka Utara.
Penobatan Bokeo Mekongga XIX dilakukan melalui prosesi adat dengan meminta izin kepada kepala daerah setempat yang dilakukan oleh Tolea. Dalam dialog bahasa daerah setempat, Tolea meminta izin kepada Wakil Bupati Kolaka selaku pemimpin daerah, Muhammad Jayadin, untuk memberikan restu demi kelancaran kegiatan penobatan Bokeo.
Wakil Bupati Kolaka, Muhammad Jayadin mengungkapkan, kalau melihat di samping, depan dan belakang telah hadir semua pejabat dan masyarakat di rumah adat Mekongga, sehingga kalau masih ada yang mau dilaksanakan diminta dijalankan sesuai adat yang berlaku.
Proses penobatan bokeo tersebut dilakukan oleh turunan Wasasi Wesabengali, Bahtiar, dengan memasangkan mahkota di kepala dan baju kerajaan kepada Khaerun Dachlan, dan disaksikan Pitu Tonomotuo (tujuh orang tua).
Setelah itu, Bokeo Mekongga XIX mengukuhkan pembantu-pembantunya yakni kapita, sapati, pabitara dan para mokole.
"Pada hari ini, Kamis 9 April 2015, saya nobatkan Yang Mulia Khaerun Dachlan sebagai Bokeo Mekongga XIX. Kami doakan semoga selalu sehat." kata Bahtiar saat menobatkan Khaerun sebagai Bokeo Mekongga.
Eksekutif nasional AKK se-Indonesia, Shri Lalu Gde Pharmanegara Parman dalam sambutannya mengatakan, dengan banyaknya raja, petinggi dan masyarakat yang hadir dalam penobatan bokeo tersebut, menjadi getaran bahwa Kerajaan Mekongga akan bangkit lagi.
Dia menyampaikan,sejarah mencatat bahwa yang membentuk NKRI adalah kerajaan-kerajaan nusantara, sehingga keberadaan kerajaan ini tidak bisa dipisahkan dari Kemerdekaan Negera RI.
"Bukan Indonesia tanpa Mekongga. Paling tidak Mekongga telah menyumbang suatu hal penting yang tidak bisa dihilangkan dari sejarah. Berbangga lah masyarakat dan kerajaan Mekongga karena telah menyumbang satu pusaka untuk Indonesia." katanya.
Shri Lalu juga mengungkapkan bahwa Sang Saka Merah Putih digagas dan disumbangkan masyarakat Mekongga. Selain itu keistimewaan kerajaan juga karena adanya warisan luar biasa yakni daya budi yang menjadi sumber kebaikan.
Dia membandingkan dunia Eropa yang tidak memiliki daya budi, tetapi hanya berpikir dan berpikir tanpa adanya moral atau budi, pada akhirnya akan hancur.
"Tanpa kekuatan budi, kita tidak ada apa-apanya. Tanpa adanya budi kerajaan hanya simbol belaka." ungkapnya.
Eksekutif Nasional KKA ini juga menyampaikan, kerajaan memiliki peran besar di masa lalu.
"Yang membuat perahu pinisi bukan alumni UGM, begitupun candi juga bukan dibuat oleh alumni ITB, tetapi itu semua dibuat oleh warisan kerajaan masa lampau, dimana hasil karya mereka sampai hari ini masih kekal," ujarnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Kolaka, Muhammad Jayadin mengungkapkan, prosesi adat penobatan Bokeo Mekongga hari ini merupakan tradisi yang dilaksanakan sejak abad XIII di bawah kepemimpinan Bokeo Larambalangi dan terus dilaksanakan sampai hari ini.
"Pengukuhan Bokeo Mekongga XIX menjadi momentum penting dalam pembangunan di kabupaten Kolaka, apalagi Bumi Mekongga terkenal dengan daerah berbudaya, religius dan perjuangan." ujarnya.
Oleh karena itu, Jayadin berharap dengan adanya perubahan zaman saat ini, tidak melepas karakteristik budaya Mekongga, selain itu Bokeo dan semua perangkat adat Mekongga diharapkan dapat menjadi mitra pemerintah dalam membangun kabupaten Kolaka yang tercinta.
Usai proses penobatan Bokeo, Khaerun Dachlan mengharapkan ke depan kerajaan Mekongga bisa dikenal lebih luas, bukan hanya di Sultra, tetapi di kancah nasional, oleh karena itu, salah satu program kerajaan itu adalah bagaimana potensi budaya Mekongga tetap dilestarikan dan terus dikembangkan.

