Kendari (ANTARA) - Di bibir pantai Bungkutoko, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), masih ada nelayan tua yang bisa membaca cuaca hanya dari arah angin dan warna awan.
Mereka punya sebutan khusus untuk setiap kondisi laut, nama-nama ikan yang tak ada dalam buku pelajaran, bahkan istilah untuk teknik melaut yang diturunkan dari kakek buyut mereka.
Sayangnya, kekayaan bahasa ini mulai pudar. Anak-anak nelayan kini lebih akrab dengan bahasa Indonesia baku ketimbang istilah lokal orang tua mereka.
Di sinilah mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) Wa Ode Fitriani Sari melihat urgensi bersama timnya Rachman, Asma Wati Ndita, dan Saidiman. Mereka memulai penelitian ekoleksikon kenelayanan di Kelurahan Bungkutoko, Kecamatan Nambo.
"Bahasa itu bukan sekadar alat komunikasi. Setiap kata yang digunakan nelayan menyimpan pengetahuan tentang laut, ikan, cuaca, bahkan filosofi hidup mereka," ujar Fitriani.
Menurutnya, ketika bahasa itu hilang, hilang pula cara pandang unik masyarakat pesisir terhadap alam.
Tim ini berkeliling kampung nelayan, duduk bersila di berugak-berugak sederhana, mendengarkan cerita para lelaki tangguh yang kulitnya telah gosong diterpa matahari. Mereka mencatat satu per satu istilah, lalu menggali makna di baliknya. Prosesnya tak mudah, banyak konsep yang sulit diterjemahkan ke bahasa Indonesia karena sangat spesifik dengan konteks lokal.
Bungkutoko dipilih bukan tanpa alasan. Kelurahan ini masih memiliki komunitas nelayan aktif yang menjaga tradisi. Namun, perubahan zaman juga merambah ke sini. Modernisasi pelabuhan dan perubahan pola hidup membuat generasi muda memilih jalan lain, meninggalkan warisan leluhur.
Riset ini adalah perlombaan dengan waktu, Fitriani dan tim berharap hasil dokumentasi mereka bisa jadi arsip berharga bagi generasi mendatang.
"Kita tak bisa menghentikan perubahan, tapi kita bisa memastikan bahwa warisan leluhur tidak sirna begitu saja. Dokumentasi ini adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan masyarakat pesisir Kendari," jelasnya.

