Kendari (ANTARA) - Wali Kota Kendari, Sulawesi Tenggara Siska Karina Imran meminta kepada seluruh guru pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar (SD) untuk menciptakan suasana belajar ramah anak.
“Anak-anak belajar bukan hanya dari buku, tetapi juga melalui pengalaman sehari-hari. Inilah pondasi kokoh yang akan menjadi bekal mereka menapaki jenjang pendidikan berikutnya. Untuk itu, mari kita ciptakan suasana belajar penuh kasih sayang dan berbasis bermain, bercerita, dan berinteraksi,” kata Siska Karina Imran saat membuka Sosialisasi Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan di Kendari, Selasa.
Dia menyebutkan, masa transisi pendidikan anak di PAUD ke SD merupakan fase yang penting bagi tumbuh kembang anak. Untuk itu, transisi ini bukan sekadar perpindahan kelas atau gedung sekolah, akan tetapi sebuah perjalanan yang membentuk rasa percaya diri, kemandirian, serta semangat belajar yang menyenangkan bagi anak-anak.
“Kita ingin memastikan anak-anak memasuki SD dengan bahagia, tanpa beban, tanpa tekanan, dan tanpa paksaan. Yang lebih penting adalah kesiapan emosional, kemampuan bersosialisasi, keberanian mencoba hal baru, serta rasa ingin tahu yang tinggi,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, jika saat ini terdapat sekitar 186 lembaga PAUD dengan total sebanyak 8.300 siswa di Kota Kendari. Hal tersebut merupakan tanggung jawab bersama pemerintah, guru, hingga orang tua untuk membangun fondasi pendidikan bagi anak sejak dini.
Ia menjelaskan, saat ini Pemkot Kendari telah menyiapkan program prioritas untuk mendukung transisi PAUD ke SD yang menyenangkan, mulai dari penguatan peran guru dengan pelatihan-pelatihan. Para guru PAUD akan diberikan pemahaman kebutuhan anak, dan guru SD akan diberikan pendekatan adaptif agar anak tidak terbebani dengan tuntutan-tuntutan akademik.

Kemudian, penerapan kelas awal yang ramah anak di SD. Pembelajaran diarahkan pada kegiatan bercerita, bermain, bernyanyi, serta proyek sederhana yang menumbuhkan keterampilan dasar. Pada 2026, pemerintah kota juga menargetkan penyediaan ruang ramah anak di berbagai fasilitas publik, termasuk Balai Kota Kendari, dan juga berikutnya keterlibatan aktif orang tua dalam mendampingi anak
“Kesiapan masuk SD tidak hanya soal membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga kesiapan mental, sosial, dan emosional,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dikbud Kota Kendari Saemina menyampaikan jika sosialisasi transisi PAUD ke SD itu merupakan upaya untuk menyelaraskan pembelajaran PAUD dan SD yang sejalan dengan program Kemendikdasmen.
Ia mengatakan, saat ini masih terdapat tantangan berupa perbedaan persepsi antara orang tua, guru PAUD, dan SD. Sebagian orang tua masih berorientasi pada kemampuan akademik dini. Padahal, konsep baru menekankan pada pembelajaran yang menyenangkan dan pengembangan karakter.
“Tidak ada lagi tes calistung (baca, tulis dan berhitung) sebagai syarat masuk SD. Yang lebih penting adalah anak-anak siap secara emosional dan sosial,” sebutnya.
Diketahui, kegiatan sosialisasi tersebut diikuti 60 guru TK/PAUD, 65 guru SD kelas awal, serta koordinator pengawas sekolah di Kota Kendari.

