Kendari (ANTARA) - Sejumlah personel TNI-Polri membubarkan massa yang melempari gedung Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang menggunakan batu, saat pelaksanaan demonstrasi 1 September 2025.
Pantauan ANTARA Sultra di lokasi demonstrasi tampak kaca depan kantor DPRD dilempari saat sejumlah elemen masyarakat usai mereka menyampaikan aspirasi, pada pukul 15.27 Wita.
Tak berselang lama, aksi lemparan batu ke gedung Sekretariat DPRD Sultra itu pun langsung dibubarkan oleh aparat TNI-Polri dengan cara yang humanis. Mereka juga diajak berdialog terkait aspirasi yang mereka tuntut ke DPRD.
Kepala Bagian Persidangan Sekretariat DPRD Sultra Rajab saat ditemui di Kendari, Senin, menyampaikan sejumlah kaca pecat karena dilempar, namun menurutnya, para pelaku bukan dari massa yang berdemonstrasi di DPRD.
"Karena para mahasiswa tadi sedang demo di dalam dan mereka ditemui sama anggota DPRD untuk mendengarkan aspirasi mereka," kata Rajab.

Rajab mengatakan mahasiswa yang menggelar demonstrasi juga menyampaikan tuntutan mereka secara damai tanpa gesekan dengan petugas pengamanan.
Sementara itu, Anggota DPRD Sultra Andi Muhammad Saenuddin mengungkapkan beberapa tuntutan yang sampaikan, yaitu meminta tunjangan DPRD Sultra dikurangi 50 persen selama satu tahun ke depan karena mengingat saat ini masih masa-masa efisiensi anggaran.
Meski begitu, dirinya mengapresiasi massa dan mahasiswa yang menyampaikan aspirasi dengan damai tanpa adanya bentrokan dengan petugas.
"Alhamdulillah, kita pastikan bahwa Provinsi Sulawesi Tenggara, rakyat Sultra, mahasiswa dan pelajar kita solid menjaga daerah milik kita," ungkap Saenuddin.
Di tempat yang sama Kapolresta Kendari Kombes Pol Edwin L. Sengka mengatakan aksi pelemparan dari massa ke gedung DPRD merupakan dinamika saat demonstrasi.
Ia mengatakan meski demikian, petugas yang berjaga lebih memilih berdialog dengan massa untuk meredam ketimbang menindak.
"Kita juga kawal para demonstran agar tidak ada gesekan antarsesama massa, dan selamat sampai rumah mereka," ujar Edwin.

