Kendari (ANTARA) -
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara menyebutkan produksi padi di wilayah Bumi Anoa Sultra pada periode Januari hingga April 2025 diperkirakan sebanyak 159,60 ribu ton gabah kering giling atau GKG.
Statistik Ahli Madya BPS Sultra Muh Amin, di Kendari, Rabu, mengatakan bahwa produksi padi pada Januari 2025 diperkirakan sebesar 30,93 ribu ton, dan produksi padi sepanjang Februari hingga April 2025 mencapai 128,68 ribu ton GKG di kabupaten dan kota Sulawesi Tenggara.
"Dengan demikian, total potensi produksi padi pada subround Januari-April 2025 diperkirakan mencapai 159,60 ribu ton, atau mengalami peningkatan sekitar 64,26 ribu ton GKG, dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 95,35 ribu ton," katanya.
Dia menyebutkan bahwa berdasarkan wilayah yang berpotensi tinggi dalam menghasilkan produksi padi GKG pada Januari-April 2025 di Sultra, antara lain Kabupaten Konawe, Bombana, Kolaka, Kolaka Timur, dan Konawe Selatan.
"Konawe sebanyak 60,11 ribu ton, Bombana 27,45 ribu ton, Kolaka 23,87 ribu ton, Kolaka Timur 21,11 ribu ton, dan Konawe Selatan sebanyak 16,99 ribu ton," ujarnya.
Kemudian, di beberapa wilayah lainnya yang juga berpotensi dalam menghasilkan produksi padi GKG, yaitu di Kabupaten Muna Barat sebanyak 2,51 ribu ton, Konawe Utara 1,79 ribu ton, Kolaka Utara 1,42 ribu ton, Muna 1,12 ribu ton, Bau-bau 1,09 ribu ton, Konawe Kepulauan 0,95 ribu ton, Buton 0,71 ribu ton, dan Buton Utara 0,33 ribu ton.
Sedangkan, kabupaten dan kota dengan potensi produksi padi terendah pada periode yang sama, yakni Kabupaten Buton Selatan 0,08 ribu ton, Buton Tengah 0,03 ribu ton, dan Kota Kendari 0,01 ribu ton.
Menurut Amin, jika produksi padi dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan masyarakat di Sultra, maka produksi padi Januari−April 2025 yaitu sebesar 90,66 ribu ton beras.
"Pada Januari 2025, produksi beras diperkirakan sebanyak 17,76 ribu ton beras, dan potensi produksi beras sepanjang Februari hingga April 2025 ialah sebesar 73,90 ribu ton," ucap dia.
Potensi produksi padi dan beras yang besar tersebut sejalan dengan luas panen padi di Sultra pada subround Januari hingga April 2025 yang diperkirakan mencapai 38,17 ribu hektare, atau mengalami peningkatan sekitar 15,71 ribu hektare dibandingkan luas panen padi pada subround Januari−April 2024 yang sebesar 22,47 ribu hektare.
Amin menjelaskan bahwa estimasi produktivitas padi tersebut dihitung dengan menggunakan metode yang mengintegrasikan dua sistem mengumpulkan data, untuk perhitungan pertama yaitu luas panen yang dilakukan dengan metode kerangka sampel area (KSA).
Sedangkan yang kedua, metode produktivitas satuannya itu ton per hektare dilakukan melalui Survei Ubinan.
"Jadi, kedua metode tersebut luas panen di kali dengan produktivitas, Amin menghasilkan jumlah produksi dalam satuan ton padi dalam bentuk IKG dan beras untuk konsumsi penduduk," jelas Amin.