Tragedi Kanjuruhan harus menjadi duka terakhir sepak bola

id Kabupaten Malang, Tragedi Kanjuruhan,Kanjuruhan,Keselamatan Suporter Oleh Vicki Febrianto

Tragedi Kanjuruhan harus menjadi duka terakhir sepak bola

Seorang suporter tengah menaburkan bunga di Pintu 13 Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (7-10-2022). ANTARA/Vicki Febrianto

Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Sore itu, hujan deras merata mengguyur Kota Malang hingga Kabupaten Malang, Jawa Timur, menjelang pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan.

Jalanan antara Kota Malang dengan Kabupaten Malang yang basah akibat guyuran hujan itu, tidak menyurutkan Aremania, sebutan untuk pendukung Arema FC, menuju stadion. Sepuluh orang Aremania dari Jalan Bareng, Kota Malang, menuju stadion itu dengan bersemangat pada 1 Oktober 2022.

Tiga di antara 10 Aremania itu adalah M. Yulianton (40), Devi Ratna Sari (30) dan M. Alfiansyah (11). Mereka merupakan satu keluarga. Ayah mereka merupakan salah seorang Aremania yang kerap menonton pertandingan saat ia masih muda.

Sementara bagi Devi dan Alfiansyah, sore itu merupakan pengalaman pertama mereka untuk datang ke Stadion Kanjuruhan dan memberikan dukungan kepada Arema FC. Malam itu, mereka semua berada di Tribun 14 Stadion Kanjuruhan Malang.

Laga antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya memang merupakan pertandingan besar yang sarat dengan perebutan gengsi bagi kedua tim maupun para pendukungnya. Malam itu, ada kurang lebih 42 ribu pendukung yang memadati stadion tersebut.

Pertandingan berjalan lancar hingga peluit akhir ditiup wasit Agus Fauzan Arifin, dengan skor 2-3 untuk kemenangan tim tamu. Di Stadion Kanjuruhan hanya dihadiri oleh pendukung Arema FC, tidak ada kuota tiket untuk suporter tim tamu.

Sejumlah pendukung yang merasa kecewa dengan kekalahan tim kebanggaannya tersebut, turun ke lapangan. Dengan adanya sejumlah pendukung yang turun ke lapangan itu, akhirnya diikuti oleh banyak pendukung lain.

Ada kericuhan. Kericuhan ini terjadi bukan antara sesama pendukung Arema FC, namun antara Aremania dengan petugas keamanan yang malam itu bertugas di dalam area stadion. Petugas kemudian menembakkan gas air mata untuk mengurai massa.

Namun, tembakan gas air mata itu tidak hanya diarahkan ke pendukung yang saat itu berada di dalam lapangan. Tembakan gas air mata diarahkan pada tribun penonton, yang saat itu masih ada ribuan orang, termasuk perempuan dan anak-anak, yang belum meninggalkan arena.

Gas air mata di pertandingan sepak bola jelas dilarang otoritas sepak bola dunia, FIFA. Hal itu tertuang dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulation, Pasal 19 tentang Pitchside stewards huruf b yang melarang adanya senjata api atau gas untuk mengontrol kerumunan.

Tembakan gas air mata itu membuat panik ribuan penonton yang ada di Stadion Kanjuruhan. Ribuan penonton yang ada di tribun berusaha untuk bergegas keluar agar tidak terkena dampak tembakan gas air mata tersebut.

Anton, Devi, dan Alfiansyah yang berada pada Tribun 14, juga terdampak tembakan gas air mata yang dilepaskan oleh petugas tersebut. Ketiganya kemudian berusaha untuk segera menuju pintu keluar, untuk menyelamatkan diri.

Namun, hanya Alfiansyah yang berhasil meninggalkan arena Stadion Kanjuruhan dalam kondisi selamat dan sehat. Kedua orang tuanya dibopong (digendong) para pendukung lain yang berhasil keluar dari stadion dalam kondisi meninggal dunia. Alfiansyah kini tiba-tiba menjadi anak yatim piatu.

Sementara kondisi di dalam gedung VIP Stadion Kanjuruhan, mulai terjadi kepanikan. Pada mulanya hanya ada satu hingga dua rombongan suporter yang membopong rekan mereka dalam kondisi lemas akibat terkena tembakan gas air mata. Sejumlah letusan terdengar dari dalam gedung.

Dalam waktu yang sangat singkat, berkali-kali rombongan suporter memasuki area VIP Stadion Kanjuruhan dengan membawa rekan mereka yang mengalami sesak napas, pingsan, hingga ada yang sudah dalam kondisi tidak bernyawa.

Kondisi lorong gedung VIP Stadion Kanjuruhan bisa dikatakan seperti sebuah rumah sakit yang sedang dipenuhi oleh pasien-pasien yang membutuhkan penanganan medis dengan cepat. Namun, petugas medis yang ada di stadion malam itu, terbatas.

Petugas medis yang saat itu bertugas juga kewalahan akibat banyaknya korban yang tidak sadarkan diri. Proses evakuasi dan upaya untuk menyelamatkan korban itu bukan hanya melibatkan petugas medis, melainkan seluruh orang yang ada di lokasi itu, termasuk para jurnalis.

Apa yang terjadi di Stadion Kanjuruhan malam itu sungguh memilukan dan mengaduk-aduk perasaan. Eskalasi kericuhan terjadi cukup cepat, termasuk juga dengan mulai berjatuhannya korban.

Teriakan sejumlah rekan pendukung yang meminta bantuan terus terdengar dari sejumlah titik di dalam gedung itu. Ada seorang petugas medis yang berusaha memberikan pertolongan dengan melakukan resusistasi jantung dan paru (CPR). Namun, korban tidak tertolong.

Saat itu korban tergeletak di salah satu lorong VIP Stadion Kanjuruhan. Sementara di depan gedung, kondisinya juga tidak jauh berbeda. Aremania yang membantu rekannya berusaha membawa mereka ke rumah sakit terdekat.

Proses evakuasi korban dari Stadion Kanjuruhan menuju sejumlah rumah sakit terdekat tidak hanya menggunakan ambulans. Truk TNI, Polri, hingga sejumlah kendaraan lain juga dikerahkan untuk membawa korban yang mencapai ratusan orang itu.

Bergeser ke pintu-pintu tribun, kondisinya jauh lebih memprihatinkan. Berdasarkan sejumlah keterangan saksi mata yang selamat, pintu yang merupakan satu-satunya akses keluar hanya terbuka dengan ukuran sangat kecil.

Sebagai gambaran, pada pintu masuk 14 ada satu pintu gerbang berukuran besar dengan dua pintu yang lebih kecil di bagian tengah. Desain yang dipergunakan, pintu besar itu seharusnya bisa digeser untuk mempermudah akses masuk maupun keluar.

Akan tetapi, pada malam itu, hanya dua pintu kecil (berukuran normal) yang terbuka. Sementara pintu besar yang dalam desainnya bisa digeser, malam itu tidak terbuka. Ribuan orang yang berusaha meninggalkan arena harus berdesakan untuk menuju pintu kecil tersebut.

Akibat kejadian itu, sebanyak 131 orang yang meninggal dunia, 440 orang mengalami luka ringan, dan 29 orang luka berat. Harga yang sungguh sangat mahal untuk sebuah pertandingan sepak bola.

Suasana di pintu 13 Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (6-10-2022). ANTARA/Vicki Febrianto


Perbaiki standar keselamatan suporter

Berkaca dari kejadian itu, memang harus diakui bahwa salah satu pemicu jatuhnya korban jiwa adalah adanya tembakan gas air mata yang dilepaskan untuk mengurai massa. Korban meninggal dunia banyak yang mengalami asfiksia atau kadar oksigen dalam tubuh berkurang.

Namun, kondisi Stadion Kanjuruhan juga memiliki peranan penting khususnya pada saat terjadi kericuhan yang menyebabkan ribuan pendukung panik dan berusaha untuk meninggalkan arena dalam waktu yang sangat singkat secara bersamaan.

Sesungguhnya pelajaran berharga bisa diambil dari salah satu skema penerapan keselamatan pada pesawat terbang. Memang, jumlah orang yang ada dalam satu pesawat terbang tidak sebanding dengan jumlah yang ada di sebuah stadion.

Namun, skema evakuasi dunia penerbangan harus diakui merupakan salah satu yang terbaik. Prosedur dalam dunia penerbangan mewajibkan para pramugari untuk menginformasikan kepada penumpang, pintu mana saja yang bisa dipergunakan dalam kondisi darurat.

Tentunya hal itu juga harus dibarengi dengan jumlah pintu masuk atau akses keluar dari sebuah pesawat dalam kondisi darurat. Setidaknya, untuk pesawat berukuran medium ada empat pintu utama dan empat pintu darurat untuk proses evakuasi 189 orang penumpang.

Hal yang sesungguhnya terlihat sederhana tersebut merupakan salah satu kunci utama dalam menghadapi berbagai kondisi darurat yang seharusnya juga bisa diterapkan di stadion-stadion khususnya yang ada di Indonesia.

Dalam jumpa pers di Kota Malang, Kamis (6-10) Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo menyebutkan PT Liga Indonesia Baru selaku penyelenggara tidak melakukan verifikasi terhadap Stadion Kanjuruhan.

Verifikasi terakhir dilakukan pada 2020, dengan sejumlah catatan utamanya terkait keselamatan para penonton. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) juga menyatakan bahwa stadion-stadion di Indonesia masih banyak yang belum memenuhi standar FIFA.

Terkait dengan keselamatan para penonton di stadion, sudah seharusnya otoritas atau pemangku kepentingan tidak memberikan toleransi-toleransi yang bisa mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.

Sudah seharusnya dunia sepak bola Indonesia lebih memperhatikan keselamatan penonton dalam kondisi apa pun, termasuk pada saat terjadi kericuhan. Duka dari Kanjuruhan harus menjadi pelajaran penting seluruh pemangku kepentingan sepak bola di Tanah Air.

Satu nyawa yang hilang akibat pertandingan sepak bola sudah terlalu berlebihan, sementara tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan itu telah menghilangkan 131 nyawa, dan menjadi tragedi terbesar kedua sepak bola di dunia.

Keselamatan penonton harus jadi yang utama. Sudah waktunya berbenah meski terlambat agar tidak ada lagi korban akibat sepak bola di Indonesia. 




Editor: Achmad Zaenal M



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Tragedi Kanjuruhan harus jadi duka terakhir sepak bola

Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2022