Di Baubau, penumpang Pelni kesulitan mendapatkan PCR untuk perjalanan

id pelni

Di Baubau, penumpang Pelni kesulitan mendapatkan PCR untuk perjalanan

Kepala PT Pelni Cabang Baubau, Juni Samsuddin Sitorus saat mencetak tiket penumpang kapal pada vending mesin tiket yang ada di Pelabuhan Murhum Baubau, Sultra. ANTARA/Yusran.

Baubau (ANTARA) - Penumpang kapal Pelni di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, kesulitan mendapatkan pemeriksaan tes PCR sebagai persyaratan untuk melakukan perjalanan karena belum adanya tempat pemeriksaan PCR khusus untuk para pelaku perjalanan transportasi di daerah itu.

"Satu permasalahan bagi calon penumpang khususnya kapal Pelni karena sepengetahuan saya di Baubau tidak ada tempat pemeriksaan PCR, makanya ini menjadi kesulitan bagi calon penumpang," kata Kepala PT Pelni Cabang Baubau, Juni Samsuddin Sitorus, di Baubau, Kamis.

Akibatnya para pelaku perjalanan yang akan bepergian melalui jalur laut itu, kata dia, terpaksa melakukan pemeriksaan PCR ke Kendari dan Makassar karena untuk memenuhi persyaratan yang diwajibkan.

"Jadi yang agak memberatkan daripada penumpang yang akan berangkat karena pemeriksaan PCR, sehingga ini yang menjadi permasalahan bagi penumpang khususnya seperti ke Papua," katanya pula.

Menurutnya, beberapa pelabuhan seperti Jayapura (Papua), Kaimana dan Fakfak (Papua Barat), serta Dobo dan Tual (Maluku) masih menjadikan PCR sebagai persyaratan masuk ke wilayahnya masing-masing.

Atas kondisi itu, pihaknya pun terpaksa tidak melakukan penjualan tiket untuk beberapa pelabuhan tujuan karena penumpang sulit memenuhi persyaratan tersebut.

Namun, menurut dia, pelabuhan-pelabuhan yang masih menggunakan PCR sebagai persyaratan masuk juga memahami dengan hanya meminta surat keterangan dari Satgas COVID-19 daerah asal yang menyatakan bahwa tidak ada PCR atau kondisi keterbatasan PCR itu hanya dipergunakan untuk pasien.

"Jadi memang kami mengharapkan adanya surat dari Satgas COVID-19 Baubau yang isinya menjelaskan bahwa di Baubau terbatas untuk PCR atau hanya digunakan untuk pasien," katanya.
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2021