Peneliti: hewan Trenggiling memiliki virus corona dan virus sendai

id virus corona,covid-19,peneliti LIPI,trenggiling

Peneliti: hewan Trenggiling memiliki virus corona dan virus sendai

Ilustrasi - Hewan Trenggiling. (ANTARA/Anggir)

Jakarta (ANTARA) - Trenggiling tidak hanya berpotensi menjadi perantara yang menginfeksi virus corona ke manusia, tapi juga memiliki virus corona sendiri dan virus sendai, kata peneliti peneliti mikrobiologi Sugiyono Saputra.

"Trenggiling memang inang atau tempat virus corona. Ada analisis viral metagenomic dari trenggiling bahwa virus corona itu termasuk yang dominan bersama juga virus sendai," kata peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu ketika dihubungi dari Jakarta pada Kamis.

Sampai saat ini keberadaan kedua virus itu di trenggiling masih belum diketahui efek sampingnya untuk hewan inangnya. Bisa saja, kata Sugiyono, adanya virus corona dan sendai mungkin bisa menyebabkan penyakit di hewan terancam punah itu atau bisa juga menyebabkan kondisi sub-klinis artinya tidak menimbulkan gejala.



Sebelumnya, virus corona jenis baru muncul di Wuhan, China, yang kini dikenal sebagai Covid-19 dan sejauh ini menginfeksi puluhan ribu orang dan menyebabkan kematian lebih dari 1.000 orang di China. Virus itu juga sudah menyebar tidak hanya di China tapi di negara lain seperti Singapura dan Malaysia.

South China Agricultural University menyampaikan hasil penelitian terbaru mereka yang menyimpulkan urutan genom virus corona dari trenggiling dalam penelitian 99 persen identik dengan yang diambil dari pasien yang terinfeksi.

Peneliti menyimpulkan trenggiling kemungkinan menjadi inang perantara yang memungkinkan infeksi terhadap manusia setelah mendapatkannya dari kelelawar sebagai inang utama.

"Asumsinya bisa jadi memang ada re-kombinasi antara virus yang dari kelelawar dengan yang ada di trenggiling itu. Terus mengalami mutasi sehingga akhirnya bisa menginfeksi manusia. Itu masih berupa kemungkinan-kemungkinan," kata dia.

Trenggiling adalah mamalia bersisik yang terancam punah keberadaannya karena habitat yang semakin sedikit dan menjadi objek perdagangan hewan.*
 
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar