Di Sultra, petani kembangkan tanaman sela sorgum

id sorgun

Di Sultra, petani kembangkan tanaman sela sorgum

Salah satu tanaman sorgum yang sudah dikembangkan petani di Konawe Selatan, Sultra. (foto Antara/Azis Senong)

Kendari (ANTARA) - Petani di beberapa daerah di Sulawesi Tenggara (Sultra) , khususnya di Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) tertarik mengembangkan tanaman sorgum. Meskipun tanaman itu dikategorikan sebagai tanaman sela, justru memberi dampak yang luar biasa bagi petani sebelum tanaman utama berproduksi.

Sebagai contoh, petani di beberapa desa di Kecamatan Tinondo Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) telah mengembangkan tanaman agrobisnis itu setahun terakhir dan memberi keuntungan bagi petani dengan penghasilan yang lebih baik dan meningkat.

Bupati Kolaka Timur, Tony Herbiasyah, Sabtu mengatakan, dengan dikembangkannya tanaman sorgum di lahan perkebunan petani ini juga sekaligus mendukung program visi misi Pemkab Koltim dalam mempercepat pendapatan perekonomian masyarakat dalam artian nilai jual dipasaran lebih cepat dan sisi kesehatan produk makanan itu sangat banyak manfaatnya.

Ia mengatakan meskipun areal tanaman sorgum itu baru mencapai 30 hektare lebih, namun hasilnya sudah banyak dirasakan masyarakat dengan capaian yang lebih baik karena tanaman itu hanya membutuhkan waktu 90 hari setelah tanam sudah bisa menghasilkan.

"Sebenarnya tanaman Sorgum ini, sudah lama ada di Sulawesi Tenggara, hanya saja petani kebun, baru menjadikan sebagai tanaman tumpang sari pada lahan perkebunan saat mereka menanam jagung, padi ladang dan jenis tanaman kayu rimba lainnya," katanya.

Apalagi tanaman ini, mudah tumbuh di hampir seluruh daerah marjinal dan kering, dan tidak diperlakukan sebagai tanaman manja seperti padi sawah maupun tanaman jagung atau umbi-umbian lainnya.

Baca juga: Bupati Kolaka Timur Panen Perdana Sorgum Seluas 30 Hektare

Tony Herbiansyah juga berjanji bahwa tanaman sorgum akan dijadikan tanaman unggulan di wilayahnya dan sekaligus akan berupaya semaksimal mungkin untuk mendapatkan dukungan penganggaran dari APBN dan melalui APBD.

"Kami ingin, selain tanaman jagung yang sudah populer di masyarakat juga tanaman sorgum. Untuk itu instansi teknis agar lebih banyak memberi pembinaan dan pelatihan kepada petani sekaligus mengirim beberapa orang untuk melakukan studi banding di luar daerah," ujarnya.

Prospek pasar produk sorgum hingga saat ini sangat menjanjikan, untuk harga benih sorgun saja dipasaran mencapai antara Rp15.000/kg hingga Rp20.000/kg dan banyak manfaat yakni selain pengganti makanan juga dapat mengobati beberapa penyakit seperti, penyakit jantung, kolesterol, gula dan hypertensi.
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar