Petani Kendari mampu produksi sayur hidroponik

id Hidroponik,petani kota kendari

Petani  Kendari mampu produksi sayur hidroponik

Tanaman sayur Hidriponik milik Ince, petani Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). ANTARA/Bobi Nardi

Kendari (ANTARA) - Petani kota, Ince Syahrul Anam, mampu memproduksi sayur pakcoy dan selada dengan sistem hidroponik di halaman rumahnya sendiri di Jalan Sidendreng, Kecamatan Mandonga, Kelurahan Korumba, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.

Awalnya Ince yang merupakan seorang youtuber terinspirasi tentang hidroponik kemudian membuat akun youtube tentang hidroponik dan mampu menyedot penonton yang banyak sehingga ia terus mencoba bercocok tanam hidroponik dengan berbagai jenis sayuran yang dibutuhkan masyarakat setempat.

Saat ditemui di Kendari, Selasa,Ince menjelaskan, dirinya bisa memproduksi sayur hidroponik dengan belajar secara otodidak mulai dari pembibitan hingga panen sehingga saat ini mempunyai 1.000 lubang hidroponik.



Penghasilan yang ia raup dalam sekali panen per bulannya sekitar 50 hingga 100 kilogram senilai Rp5 sampai Rp6 juta untuk sekali panennya.

"Ada beberapa metode cara menanam hidroponik tetapi saya memakai metode busa yang gampang didapat di Kota Kendari," kata Ince, di Kendari, Selasa.

Pada awalnya Ince dengan modal awal Rp5-Rp6 juta membangun 500 lobang tanam, namun kini Ince telah memiliki 1.000 titik lobang dan berusaha menambah hingga 5000 lobang sesuai kapasitas lahan yang tersedia.




.
Tanaman sayur Hidriponik milik salah seorang warga di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). (ANTARA/Bobi Nardi)


Ada beberapa jenis tanaman yang ia dibudidayakan mulai dari sayur pakcoy, seledri, kangkung dan selada, namun saat ini pakcoy dan selada yang mendominasi karena kebutuhan pasar yang cukup tinggi di Kendari.

"Sayuran ini banyak diminati rumah makan, hotel dan perusahaan tambang salah satunya yang berada di Morosi," ujarnya.


Baca juga: Yayasan Wakaf Antam Kembangkan Tanaman Hydroponik

Namun meskipun demikian, Ince memiliki  menghadapi beberapa kendala ketika bercocok tanam menggunakan sistem hidroponik yaitu salah satunya ketika menghadapi musim kemarau seperti yang terjadi di Kota Kendari beberapa waktu belakangan ini.

"Saya sangat terkendala dengan musim kemarau ini, sebab sinar matahari yang ekstrem membuat air pada tanaman hidroponik menjadi panas hingga membuat saya rugi sekitar 15 persen dari pendapatan saya yang bisa mencapai 40 persen dari modal usaha per bulannya," katanya.

Ia berharap dengan adanya petani hidroponik di Kota Kendari masyarakat dapat meminimalisir konsumsi sayur pestisida dan lebih mengenal sayur hidroponik yang lebih sehat dan alami.


 
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar