SMN Sultra dijamu tradisi makan bedulang

id Belitung timur

Dokumentasi foto - Suasana makan bedulang di saung kawasan objek wisata Hutan Pelawan di Desa Namang, Senin (7/1). ((Babel.antaranews.com/Ahmadi)) ((Babel.antaranews.com/Ahmadi)/)

Belitung Timur (ANTARA) - Para peserta program Siswa Mengenal Nusantara (SMN) asal Sulawesi Tenggara dijamu tradisi makan bedulang sebagai simbol masyarakat Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menyambut tamu kehormatan yang berkunjung ke negeri Laskar Pelangi itu.



"Kami berharap tradisi makan bedulang ini menambah kebersamaan, sekaligus memperkenalkan budaya masyarakat di daerah ini," kata Panitia SMN Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Fahriza di Rumah Makan Kampong Ulin Gantong Belitong, Rabu.



Ia mengatakan nasi bedulang disajikan dengan sebuah tampah yang ditutup tudung saji. Di dalamnya terdapat enam piring berisi berbagai macam lauk pauk. Di tengahnya terdapat mangkuk berisi makanan berkuah.



Enam piring itu diisi dengan ayam ketumbar, otak-otak goreng, oseng kentang buncis, teri goreng, sambal, dan irisan timun. Di tengahnya terdapat gangan daging berwarna kuning. Satu paket nasi bedulang disiapkan untuk delapan orang tamu.



"Ini salah satu bentuk kehangatan dan keramahtamahan masyarakat Belitung Timur menyambut tamu-tamu dari luar daerah," katanya.



Menurut dia makanan di dalam tudung nasi bedulang berbeda beda di masing masing kabupaten kota di Provinsi Kepulauan Babel. Namun pada intinya, tradisi yang telah dilakukan masyarakat secara turun temurun ini adalah simbol masyarakat yang hangat, suka kedamaian dan menjunjung kebersamaan serta gotong royong warga.



"Tradisi ini harus terus dilestarikan dan diharapkan kegiatan ini dapat memotivasi generasi muda untuk terus budaya melayu ini," katanya.



Ketua Kelas SMN asal Sulawesi Tenggara, Anisya Septia mengaku senang dan merasa terhormat atas sambutan masyarakat Belitung Timur.



"Makanannya enak-enak semua, apalagi hidangan nasi dan lauk pauk dihidangkan dalam satu wadah dalam tujung saji," katanya.

Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar