Kendari (ANTARA) - Sebanyak 264 pendamping mendapat tugas untuk memberikan bimbingan kepada 1.673 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KMP) yang belum aktif beroperasi di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sultra La Ode Muhamad Shalihin saat ditemui Kendari, Rabu, mengatakan bahwa pemerintah menugaskan total 264 pendamping yang akan bekerja di lapangan untuk memastikan koperasi bisa kembali beroperasi secara maksimal. Sebab, berdasarkan data dari total 2.285 koperasi yang terbentuk di daerah tersebut, saat ini baru 612 koperasi yang tercatat aktif menjalankan kegiatan usaha.
“Pendamping ini disiapkan agar koperasi bisa kembali beroperasi secara maksimal. Target kami, seluruh Koperasi Merah Putih sudah aktif sebelum 2025 berakhir,” kata La Ode Shalihin.
Ratusan pendamping yang merupakan hasil seleksi Kementerian Koperasi RI tersebut terdiri dari 36 Project Management Officer (PMO) dan 228 Business Assistant (BA).
Mereka, menurut dia, akan mendampingi koperasi selama tiga bulan, dengan pembagian tugas satu pendamping bertanggung jawab terhadap delapan hingga 12 koperasi.
Sebelum bertugas, para pendamping dibekali pelatihan selama lima hari di Aula Pascasarjana Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, meliputi materi pembekalan koperasi, dinamika kelompok, pembuatan proposal, hingga teknik pendampingan yang efektif.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sultra Hugua menekankan bahwa peran pendamping sangat penting dalam membangun koperasi yang mandiri dan produktif.
Ia mengatakan secara spesifik meminta agar pendamping mampu menciptakan "Koperasi Juara" di setiap desa.
"Koperasi juara yang dimaksudkan yaitu koperasi yang berkembang secara bisnis tetapi para petani, nelayan, industri kreatif, dan usaha lain di sekitarnya turut berdaya dan meningkatkan produksinya," kata Hugua.
Menurut dia, Koperasi Merah Putih sebagai soko guru ekonomi kerakyatan harus menjadi fondasi.
“Kalau koperasi kuat, ekonomi rakyat pun ikut kuat. Dari desa lah kemakmuran Indonesia bisa dibangun,” katanya, menambahkan.

