Peserta Hardiknas Sultra berpakian adat lokal

id pakian adat

Peserta Hardiknas Sultra berpakian adat lokal

Peserta upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dilingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) provinsi Sutra, semua pesertanya kompak pakian adat lokal. Peserta membubarkan diri usai upacara bendera yang dipimpin kadis Dikbud Sultra Asrun Lio, Jumat. (Foto Antara/Azis Senong)

Kendari (ANTARA) - Seluruh peserta upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2022 berpakaian adat lokal dari berbagai etnis atau suku yang ada di Sulawesi Tenggara.

Seperti di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Sulawesi Tenggara, Jumat, seluruh peserta upacara Hardiknas 2022 berpakaian adat Tolaki, Buton, Moronene, Muna, Bugis, Jawa, Bali dan beberapa pakaian adat lainya.


Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra Asrun Lio selaku Pj Sekda provinis Sultra mengatakan, momen upacara Hardiknas dengan pakaian adat lokal itu sebagai wujud pelestarian serta cinta terhadap nilai budaya yang terkandung dari berbagai suku yang ada di Sultra.

Ia mengatakan, dengan berpakaian adat juga sebagai identitas tiap daerah, sekaligus akan menentukan posisi atau peran seseorang mengenal satu dengan lainnya terhadap kebudayaan. Pakaian adat juga dapat menunjukkan status sosial, perkawinan, atau agama.

Asrun Lio dalam membacakan sambutan Menteri Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi (KemendikbidRistek) mengatakan selama dua tahun terakhir, banyak sekali tantangan yang harus dihadapi bersama, yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. 

 
Peserta upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dilingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) provinsi Sutra, semua pesertanya kompak pakian adat lokal. Kadis Dikbud Sultra Drs Asrun Lio, PhD (tenga pakian adat Buton) saat foto bersama dengan para peserta upacara di Kendari, Jumat. (Foto Antara/Azis Senong)
“Momen ini merupakan bukti bahwa kita jauh lebih tangguh dari semua tantangan, lebih berani dari rasa ragu dan tidak takut untuk mencoba. Kita tidak hanya mampu melewati, tetapi berdiri di garis depan untuk memimpin pemulihan dan kebangkitan,” ucap Asrun.

Asrun mengungkapkan di tengah hantaman ombak yang sangat besar, semua terus melautkan kapal besar bernama Merdeka Belajar yang di tahun ketiga ini telah mengarungi pulau-pulau di seluruh Indonesia.

“Dengan adanya kurikulum Merdeka yang berawal dari upaya untuk membantu para guru dan murid di masa pandemi, terbukti mampu mengurangi dampak hilangnya pembelajaran,” paparnya.

Kini Kurikulum Merdeka sudah diterapkan di lebih dari 140.000 satuan pendidikan di seluruh Indonesia salah satunya di Provinsi Sultra. Itu berarti bahwa ratusan ribu anak sudah belajar dengan cara yang jauh lebih menyenangkan dan memerdekakan.

 
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2022