Menyulap sampah jadi solar di bumi Wakatobi

id Menyulap, sultra, sulawesi, tenggara sampah, jadi, solar, bumi, Sultra, Wakatobi Oleh Saharudin

Menyulap sampah jadi solar di bumi Wakatobi

Masyarakat di Desa Kulati, Kecamatan Tomia Timur, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara saat mengolah sampah plastik menjadi solar, Sabtu (23/4/2022) (ANTARA/Saharuddin)

Kendari (ANTARA) - "Hasil solarnya dibagikan gratis kepada kelompok yang mayoritas nelayan dan nelayan lainnya di desa kami," ucap seorang pria bernama Nyong Tomia.

Ini sekelumit percakapan dengan Ketua Kelompok Ekowisata Poassa Nuhada Desa Kulati Kecamatan Tomia Timur Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, yang mengolah limbah sampah plastik menjadi solar.
 

Kabupaten Wakatobi yang terkenal dengan keindahan surga bawah lautnya, ternyata memiliki sebuah desa yang berbeda dengan daerah lainnya di Indonesia, dimana dihuni oleh masyarakat yang sangat sadar akan pentingnya menjaga lingkungan hidup.

Daerah ini bernama Desa Kulati yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan, dimana solar tentu merupakan satu-satunya yang dibutuhkan menjadi bahan bakar agar kapal mereka bisa digunakan untuk mengais rejeki di lautan.

Nyong Tomia, merupakan Ketua Kelompok Ekowisata Poassa Nuhada di Desa Kulati, Kecamatan Tomia Timur, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Pria berusia 35 tahun dengan satu anak ini bercerita, terobosan dan inovasi mengolah sampah terpadu menjadi bahan bakar solar di desanya sudah dilakukan sejak 2021 lalu.

Inovasi dalam pengelolaan sampah terpadu di desanya dilakukan sebagai bentuk menjaga lingkungan, khusus di daerahnya dari sampah-sampah plastik yang cukup lama terurai oleh alam jika dibuang begitu saja.

Sadar tak mau merusak alam bumi Wakatobi, dan dinilai bisa memberi manfaat positif, semua masyarakat bergerak bersama dalam satu langkah dan pemikiran untuk mengubah sampah plastik menjadi berkah.
 

Sistem Pirolisis

Nyong Tomia yang sehari-harinya juga berprofesi sebagai nelayan mengajak untuk memperlihatkan mesin pengolah sampah di rumah produksi tak jauh dari rumah warga yang disimpan di lahan hibah dari pemerintah desa.

Mesin pengelolaan sampah berbentuk kotak diperoleh dari pendanaan Jasa Raharja Sulawesi Tenggara  disimpan di rumah pengolahan sampah seluas 7x5 meter di lahan berukuran 20x30 yang beratapkan rumbia.

Sembari menunggu mesin pengolahan sampah bekerja, Nyong Tomia sambil menunjuk mesin itu mengatakan bahwa dalam sekali memproduksi sampah plastik menjadi solar memakan waktu 3 sampai 3,5 jam dengan hasil 2,8 liter solar.

Untuk bisa menghasilkan 2,8 liter solar, mesin itu mengolah sampah plastik maksimal seberat 4 kilogram.

"Dalam sehari kami bisa memproduksi maksimal 3 sampai 4 kali, berarti totalnya 14 liter dalam sehari," kata pria yang juga merupakan sekretaris desa itu.

Kelompok ekowisata masyarakat di desanya melakukan suatu terobosan serta inovasi dalam pengelolaan sampah terpadu bagi seluruh masyarakat desa yang dinamai pirolisis.

Masyarakat tergabung dalam wadah pengelola pariwisata berbasis masyarakat (Community Based Tourism) Poassa Nuhada mengolah sampah plastik yang mampu menghasilkan energi terbarukan berupa bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dengan mesin itu.

Pria yang akrab disapa Nyong ini mengatakan upaya pengolahan sampah plastik menjadi solar di desanya melibatkan semua kalangan usia, karena mereka menyadari betul pentingnya menjaga lingkungan.

Semua bergerak bersama mulai pemerintah desa, pemuda, ibu rumah tangga, anak-anak pelajar SD maupun SMP, serta kalangan masyarakat desa lainnya dalam hal pengumpulan maupun memisahkan sampah.

"Kegiatan pirolisis ini alhamdulillah sudah berjalan sejak satu tahun terakhir, kami coba libatkan pemerintah desa juga untuk memikirkan keberlanjutan usaha ini ke depan," ucap dia.

Sesekali diiringi senyuman, pria ini berkata bahwa dalam proses pengolahan sampah di mesin pirolisis dilakukan oleh pemuda di desanya, membuktikan bahwa semua ikut andil dalam mendukung usaha itu.

Hal menarik dalam upaya ini tentunya kesadaran masyarakat yang sudah memilah sampah sejak dari rumah masing-masing, setelah itu khusus sampah plastik lalu di bawa ke rumah produksi itu yang diserahkan secara gratis.

"Sampahnya gratis, swadaya dari para anggota maupun masyarakat desa," ucapnya sambil tersenyum.

Meski begitu, dalam pengelolaan sampah dengan sistem propolis ini tidak semua jenis sampah plastik dapat diolah menjadi solar.

Terlebih dahulu dilakukan pemisahan dari rumah tangga masing-masing dengan melibatkan ibu-ibu rumah tangga dan juga petugas sampah sebelum dibuang.

Dimana, untuk sampah organik langsung dibuang ke tempat pembuangan sampah, sedangkan sampah anorganik atau sampah plastik langsung di simpan di rumah produksi pirolisis untuk diolah menjadi solar.

Jenis sampah plastik yang dapat diolah menjadi solar ada tiga antara lain pastik high-density polyethylene (HDPE) berupa sampah plastik keras, kedua plastik low-density polyethylene (LDPE) berupa pembungkus atau kantong plastik dan ketiga plastik polypropylene (PP) berupa plastik kemasan air mineral gelas.

Tak terasa bercerita, mesin yang sudah mulai bekerja kini memancarkan panas yang terasa 1 sampai 2 meter. Namun, panasnya tidak begitu menyengat kulit karena atap yang terbuat dari rumbia dan dinding dari kayu miliki celah masuknya angin sehingga menetralkan pacaran panas dari mesin itu.

Nyong lalu mempraktikkan cara kerja dari mesin itu, dia mengambil sampah plastik lalu dimasukkan ke dalam wadah mesin itu sekitar 4 kilogram, kemudian dipadatkan dengan didorong menggunakan besi panjang.

Setelah semua sampah plastik yang dimasukkan padat, mesin itu lalu dikunci rapat untuk memulai pemanasan.

Melalui terobosan itu, pengelolaan sampah terpadu bagi masyarakat di desa ini berjalan maksimal yang berdampak pada berkurangnya penimbunan sampah plastik, sekaligus mencegah terjadinya pencemaran lingkungan.

"Hasil solarnya dikonsumsi sendiri dan dibagikan kepada para anggota kelompok yang mayoritas nelayan dan para nelayan lainnya yang ada di desa kami," ujar dia sebelum mengakhiri obrolan yang dimulai sejak pukul 09.00 Wita hingga pukul 10.00 Wita.

Dia mengaku, usaha itu dapat terus berjalan berkat kolaborasi antara pemerintah desa setempat dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) yang terus senantiasa melakukan pendampingan dalam hal pengelolaan sampah serta pendanaan langsung oleh pihak Jasa Raharja.


 

 
Ketua Kelompok Ekowisata Poassa Nuhada di Desa Kulati, Kecamatan Tomia Timur, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Nyong Tomia (35) saat memperlihatkan solar dari pengolahan sampah plastik di daerah itu, Sabtu (23/4/2022) (ANTARA/Saharuddin)
 



 

Menjaga bumi

Dengan sistem pirolisis ini, memberikan manfaat dalam menjaga lingkungan dari bahaya sampah plastik yang dimana jika dibuang begitu saja maka alam membutuhkan 50-100 tahun dalam mengurai.

Penimbunan sampah yang ada di masyarakat daerah itu berkurang, tadinya sampah-sampah itu dibuang langsung oleh petugas sampah yang dikhawatirkan semakin menumpuk sehingga pencemaran lingkungan mudah terjadi.

Menurut Wakatobi Program Coordinator YKAN, La Ode Arifudin selaku pendamping kelompok ekowisata masyarakat di Desa Kulati, pengelolaan sampah dengan menggunakan pirolisis dimaksudkan untuk menyadarkan masyarakat terkait bahaya sampah plastik terhadap keasrian dan kelestarian lingkungan.

Sebelum adanya program itu, pengelolaan sampah di desa ini cenderung dibuang langsung atau dibakar yang pada akhirnya dapat menyebabkan polusi udara.

"Niat kami diawal dalam proses pirolisis ini adalah bagaimana masyarakat bisa mulai sadar terkait dengan bahaya sampah plastik terhadap lingkungan," katanya yang juga ditemui di rumah produksi sampah di Desa Kulati.

Meski demikian, pihak YKAN menyebut pengolahan sampah plastik ini masih uji coba. Solar yang dihasilkan masih akan diteliti lebih lanjut di laboratorium untuk melihat kelayakannya.

Uji coba dilakukan meski pun para nelayan di desa mengaku telah menggunakan solar tersebut sebagai bahan bakar mesin kapal motor mereka untuk melaut dan mencari ikan.
 

Dukungan

Upaya daur ulang sampah plastik oleh kelompok ekowisata masyarakat Desa kulati di Kabupaten Wakatobi mendapat dukungan dari Jasa Raharja Sulawesi Tenggara. 

Kepala Unit Operasional dan Humas Jasa Raharja Sultra, Agus Erick menegaskan pihaknya telah berkomitmen akan terus memberikan dukungan dalam keberlangsungan usaha kelompok ekowisata masyarakat Desa Kulati dengan sistem teknologi pirolisis.

Menurut dia, dukungan perlu diberikan sehingga pengelolaan sampah terpadu dapat terus berjalan demi menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan desa.

"Apalagi dukungan dari warga sekitar dalam melakukan pemilahan sampah secara mandiri di masing-masing rumah tangga, itu memberikan kebersamaan dalam upaya memerangi sampah plastik," ucap Agus

Berkaitan dengan upaya pengelolaan sampah plastik dengan sistem pirolisis ini, pemerintah desa setempat mengaku penumpukan sampah plastik di Desa Kulati mulai berkurang.

Kepala Desa Kulati La Ode Burhanuddin mengatakan pihaknya mendukung penuh kegiatan pengelolaan sampah berkelanjutan yang digalakkan oleh masyarakat di daerahnya yang jumlah penduduknya sebanyak 586 jiwa.

Salah satu bentuk dukungan tersebut dengan menyiapkan lahan khusus untuk pengelolaan sampah sebagai langkah mengurangi penimbunan sampah di desanya.

Pemerintah desa mengaku sejak adanya usaha pengelolaan sampah plastik dengan sistem pirolisis oleh kelompok ekowisata masyarakat ini, penurunan sampah di Desa Kulati mencapai 30 persen dari total sampah plastik yang ada.

Kesadaran dalam menjaga lingkungan merupakan hal yang harus digelorakan setiap insan manusia khususnya dari bahaya sampah plastik, sehingga bumi ini tetap terjaga yang pada akhirnya keasrian masih dapat dirasakan oleh anak cucu kita.


Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2022