Mengasyikkan, bimbingan dan ujian skripsi di kebun

id Bimbingan skripsi di kebun,STKIP PGRI Ponorogo,novelis sutejo

Mengasyikkan, bimbingan dan ujian skripsi di kebun

Suasana saat mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo bimbingan skripsi di kebun (ANTARA/HO-STKIP PGRI Ponorogo)

Surabaya (ANTARA) - Menulis skripsi adalah masa-masa menentukan bagi seorang mahasiswa semester akhir yang akan segera menyandang gelar sarjana.

Tidak jarang seorang mahasiswa gagal menyelesaikan studinya hanya gara-gara tersandung di urusan menyelesaikan skripsi.

Agar para mahasiswa menghadapai masa-masa menyelesaikan skripsi itu dengan lebih santai, seorang dosen yang juga menjabat Ketua (Rektor) STKIP PGRI Ponorogo Dr Sutejo, MHum membuat suasana baru dengan mengajak para mahasiswanya mengikuti bimbingan skripsi di areal kebun atau pertanian.

"Ada beberapa hal yang ingin saya tanamkan ke mahasiswa, antara lain agar mereka bisa rileks dalam menyelesaikan skripsinya dengan cara bimbingan tidak di ruangan di kampus. Selain itu saya ingin mereka tidak gengsi kalau kelak mereka harus bertani. Karena mereka umumnya anak petani, saya harap mereka tidak malu menjadi anak seorang petani," kata Sutejo yang juga dikenal sebagai penulis dan penggerak literasi itu.

Ia menjelaskan bahwa tujuh mahasiswa yang sedang bimbingan skripsi itu betul-betul dihadapi dengan suasana santai, karena di sela-sela bimbingan itu, sesekali Sutejo sambil mengusung keperluan pertanian, seperti pupuk dan lainnya.

Pakaian yang dikenakan oleh penulis lebih dari 20 buku dan ratusan artikel dan karya fiksi di media massa itu juga ala petani, yakni celana pendek, berkaos dan topi caping. Ia pun duduk di tanah sementara para mahasiswa duduk di bangku-bangku kecil yang memang tersedia di areal perkebunan singkong milik Sutejo.

"Awalnya mereka kikuk karena saya justru duduk di tanah, mereka menggunakan kursi, tapi saya bilang tidak ada masalah. Ya akhirnya rileks. Ide-ide mengalir dalam diskusi itu," kata peraih gelar doktor sastra Indonesia dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.

Penggagas program Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP PGRI Ponorogo itu mengemukakan karena saat ini masih masa pandemi COVID-19, maka protokol kesehatan tetap diberlakukan, yakni menjaga jarak antarmahasiswa, mengenakan masker dan lainnya.

Sutejo menjelaskan ide bimbingan skripsi di kebun itu berawal saat para mahasiswa itu menghubungi dirinya lewat telepon seluler untuk konsultasi. Saat itu dirinya sedang berada di kebun dan para mahasiswanya diminta datang ke kebun.

"Pertama bimbingan di kebun pada tanggal 11 Agustus lalu dan kemarin, Sabtu (15/8), merupakan yang kedua. Karena saking berkesannya, kami sepakat dengan mahasiswa untuk ujian skripsi nanti di kebun juga. Mereka malah senang," katanya.

Sutejo menceritakan bahwa setelah bimbingan di kebun, beberapa mahasiswa mengaku lebih lancar menuangkan ide dalam tulisan. Jika sebelumnya, dalam satu hari mereka hanya menghasilkan beberapa halaman, setelah bimbingan di kebun, justru bisa menghasilkan 10 hingga 16 halaman.
Suasana saat mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo bimbingan skripsi di kebun (HO-STKIP PGRI Ponorogo)

Rita Ristiana, mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia angkatan 2016 mengaku senang dengan bimbingan di luar kelas itu. Ia mengaku ada suasana berbeda dengan menimbulkan rasa senang dan rileks.

"Saya merasakan apa yang disampaikan oleh Pak Sutejo ketika bimbingan itu lebih enak diterima dan lebih mudah dipahami. Mungkin karena kami juga sedang rileks. Ini tentu berbeda dengan jika bimbingan dilakukan di ruangan di kampus," katanya.

Untuk skripsinya ini, Rita mengambil objek penelitian Novel "Tempat Paling Sunyi" karya Arafat Nur, novelis yang karya-karyanya banyak mendapat penghargaan di tingkat nasional itu, kini juga menjadi dosen di STKIP PGRI Ponorogo.

Rita mengaku sangat menikmati suasana bimbingan skripsi di kebun karena sekaligus bisa "refreshing". Apalagi ia mengaku juga berasal dari lingkungan keluarga petani, sehingga tidak asing dengan suasana kebun dan areal pertanian.

Yuda Kretiantono Saputro, mahasiswa lainnya, mengaku baru kali ini menikmati suasana belajar yang berbeda dan diakui sangat menyenangkan.

"Rasanya lebih enjoy, nyantai alias tidak tegang. Kami sangat menikmati suasana kebersamaan saat bimbingan di kebun Pak Sutejo," kata mahasiswa yang kini mengerjakan Bab V dari penelitian untuk skripsinya atau mulai menganalisis hasil penelitian.

Yuda mengaku sangat terbantu dengan pilihan dosen pembimbing yang juga pimpinan tertinggi di kampusnya itu dengan mengajak mahasiswa belajar di areal kebun. Apalagi, waktu untuk sidang skripsinya sudah sangat mepet, yakni tanggal 22 Agustus 2020.

"Sejak bimbingan skripsi di kebun itu, saya lebih termotivasi dalam mengerjakan tugas akhir perkuliahan ini. Kami sekarang mengejar target untuk segera mengikui ujian atau sidang presentasi," kata mahasiswa yang meneliti novel karya Arafat Nur berjudul "Tanah Surga Merah" itu.

Sutejo sendiri mengaku mendorong mahasiswa untuk meneliti novel-novel karya Arafat Nur, lelaki kelahiran Aceh yang kini bermukim dan tinggal di Ponorogo itu. Hal itu, agar para mahasiswa bisa belajar banyak dari karya-karya novelis yang sudah mendapatkan penghargaan, antara lain dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Khatulistiwa Award itu.

"Ini juga bentuk penghargaan kami kepada seorang sastrawan besar yang kini mau membagikan ilmu dan motivasinya untuk mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo. Bahkan saya sekarang juga meneliti novel-novel Pak Arafat Nur, yakni Tanah Surga Merah dan Tempat Paling Sunyi. Kalau untuk mahasiswa mungkin menghasilkan karya penelitian sekitar 100 hingga 150 halaman, untuk saya sekitar 450 halaman," katanya.

Mengenai ujian skripsi nanti, Sutejo mengatakan tidak hanya menghadirkan suasana kebun, akan tetapi juga menghadirkan penguji sebaya yang punya pengalaman menulis dan meneliti, yakni lulusan STKIP PGRI Ponorogo.

"Di sini kan ada yang baru lulus, kami ajak berpartisipasi untuk nanti ikut menguji para mahasiswa ini. Intinya kami terus bersemangat untuk mengukuhkan kampus STKIP PGRI Ponorogo sebagai kampus literasi," katanya.

Ia bercerita, sejak pandemi COVID-19 melanda Ponorogo, dirinya memilih berkebun untuk beraktivitas di sela-sela tetap melaksanakan tugas sebagai seorang pengajar di perguruan. Beberapa komiditi pertanian yang ditanamnya adalah singkong, ketela dan sayur mayur.

"Dari berkebun ini pula saya banyak mendapatkan ide untuk membuat tulisan yang sedang saya garap, baik fiksi maupun karya nonfiksi," katanya.



 
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar