Karantina pertanian dorong ekspor langsung hasil komoditas Sultra

id karantina

Karantina pertanian dorong ekspor langsung hasil komoditas Sultra

Pihak karantina pertanian, sebelum melakukan ekspor, terlebih dahulu melakukan pemeriksaan dan pengawasan pada setiap komoditi yang di ekspor. Tampak karantina sedang akan membuka kontainer dengan isinya. (Foto ANTARA/Azis Senong)

Kendari (ANTARA) - Balai Karantina Pertanian (Barantan), Kementerian Pertanian mengatakan wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) saat ini butuh banyak dorongan agar bertambah komoditas ekspor yang bisa diekspor langsung. Karantina Pertanian Kendari, Sultra mencatat hasil pertanian  lebih banyak di kirim ke daerah lain dan kemudian diekspor.

"Sangat disayangkan karena potensi pertanian di Sulawesi Tenggara termasuk tinggi, namun selama ini hanya tercatat di daerah lain karena belum tersedianya sarana yang memadai," kata Kepala Barantan, Ali Jamil saat menghadiri pelepasan ekspor perdana langsung komofiti serabut kelapa dengan negara China di Kendari, Selasa.

Berdasarkan data IQFAST di Karantina Pertanian Kendari, di semester awal tahun 2020 tercatat lalu lintas domestik sembila produk pertanian unggulan asal Sultra sebanyak 50.157,4 ton dengan nilai Rp861,7 miliar.

Komoditi tersebut masing-masing kopra sebanyak 24.282 ton, kacang mete sebanyak 4.424 ton, kakao 1.150 ton, jagung sebanyak 5.417 ton, cengkeh sebanyak 6.938 ton, lada sebanyak 642 ton, pala 68 ton, kemiri sebanyak 1.431 ton dan beras sebanyak 10.984 ton.

Jamil mengatakan di tiap unit pelaksana karantia pertanian, termasuk Kendari siap memberikan pendampingan jika ada masyarakat yang ingin melakukan ekspor produk pertanian. Layanan klinik ekspor di Pelabuhan Kendari New Port (KNP) akan siap menerima pengguna jasa setiap hari.

"Pendampingan Karantina Pertanian ini sejalan dengan kebijakan Menteri Pertanian untuk meningkatkan ekspor produk pertanian hingga tiga kali lipat, terlebih di masa pandemi ini sektor pertanian menjadi salah satu andalan pemerintah untuk meningkatkan ekonomi Indonesia," tutup Jamil
 
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar