Basarnas cari tujuh nelayan yang mati mesin di perairan Kolaka

id Kapal mati mesin

Basarnas cari tujuh nelayan yang mati mesin di perairan Kolaka

Pos SAR Kolaka saat melakukan pencairan tujuh nelayan yang alami mati mesin di perairan Kolaka, Minggu (9/2/20) malam. (ANTARA/HO-Humas Basarnas Kendari)

Kendari (ANTARA) - Pos Search And Rescue Kolaka, Sulawesi Tenggara melakukan pencarian tujuh orang nelayan yang kapalnya (loangboad) dilaporkan mati mesin di perairan Kolaka antara Pulau Lambasina Kecil dan Kolaka.

Humas Basarnas Kendari, Wahyudi, Minggu malam, mengatakan pada pukul 19.45 Wita menerima informasi dari keluarga korban bernama Firman yang melaporkan bahwa keluarganya saat mau kembali dari memancing di perairan Kolaka, kapalnya mengalami mati mesin.

"Pada pukul 19.45 Wita Basarnas Kendari menerima informasi dari Firman salah seorang keluarga korban yang melaporkan bahwa pada pukul 18.00 wita telah terjadi kecelakaan pelayaran, yakni satu buah longboat nelayan mengalami mati mesin," katanya, Minggu malam.

Ia mengungkapkan kapal dengan tujuh orang alami mati mesin di antara Pulau Lambasina Kecil dan Kolaka.

"Kronologi kejadian, pukul 08.00 wita ketujuh POB berangkat memancing dari Desa Konaweha, Kecamatan Samaturu, Kolaka menuju pulau Lambasina Kecil dan pada pukul 17.30 wita sepakat untuk pulang kembali ke Desa Konaweha, akan tetapi diperjalanan pada pukul 18.00 wita mesin kapal tiba-tiba mati dan tidak bisa dihidupkan kembali," jelasnya.
Pos SAR Kolaka saat melakukan pencairan tujuh nelayan yang alami mati mesin di perairan Kolaka, Minggu (9/2/20) malam. (ANTARA/HO-Humas Basarnas Kendari)


Sehingga, lanjut Wahyudi, salah satu POB berinisiatif menelpon keluarganya yang berada di darat.

"Berdasarkan laporan tersebut, pada pukul 20.00 Wita, tim rescue pos SAR Kolaka diberangkatkan ke lokasi kejadian dengan menggunakan RIB untuk memberikan bantuan SAR," ungkapnya.

"Jarak pencarian korban kurang lebih 14 Nautical Mile dari Pos SAR Kolaka, dan cuaca hujan dengan ketinggian ombak 0,5 hingga 1 meter," tambahnya.
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar