Musim kemarau, nelayan Kendari keluhkan penurunan hasil tangkapan

id nelayan-iin

Musim kemarau, nelayan Kendari keluhkan penurunan hasil tangkapan

Pengecer mempersiapkan ikan menyambut pembeli di pelelangan Kendari, Sulawesi Tenggara (Foto ANTARA/Iin)

Kendari (ANTARA) - Nelayan di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), mengeluhkan penurunan hasil tangkapan ikan pada musim kemarau yang berkepanjangan saat ini. 

"Suhu udara pada musin kemarau meningkat yang menyebabkan ikan pelagis turun lebih jauh ke dalam laut," kata seorang nelayan Hadi (37) di Kendari, Selasa.

Pada cuaca normal hasil tangkapan mencapai 3 ton sekali berlayar tetapi ketika cuaca ekstrem seperti saat ini hanya dapat membawa pulang ikan sekitar 500 kilogram.

Meskipun hasil tangkapan menurun drastis namun nelayan bersikukuh melaut karena merupakan mata pencaharian tetap.

"Ya, walaupun susah payah mesti melaut karena bagi kami hanya menangkap ikan untuk menyambung hidup, membiayai sekolah anak dan lain lain," ujar Hadi.
Nelayan Hadi (37) (Foto ANTARA/Iin)


Baca juga: Turun, pasokan ikan segar di pasar tradisional

Secara terpisah Kepala Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kota Kendari, Matrah mengatakan penurunan hasil tangkapan ikan para nelayan karena faktor cuaca.

"Suhu permukaan air laut yang meningkat mengakibatkan ikan berpindah  lebih dalam sesuai dengan kebutuhan ikan," ujarnya.

Selain penurunan hasil tangkapan karena perpindahan ikan juga alat tangkap terseret arus deras air laut yang terjadi setiap saat.

Data hasil tangkapan ikan yang diperoleh dari nelayan secara manual berbeda dengan data elektronik.

Berdasarkan data yang diperoleh dari aplikasi "E-Log Book" nelayan tericatat hasil tangkapan sekitar 150 kilogram setiap harinya. Sedangkan pencatatan manual di TPI mencapai 3 ton pada cuaca normal dan anjlok hingga 500 kilogram saat cuaca ekstrim.

"Sumber data hasil tangkapan ikan bervariasi, yakni secara manual atau diperoleh langsung dari nelayan saat mendaratkan ikan di TPI dan pendataan secara elektornik. Kedua-duanya penting untuk menemukan data akurat," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar