BMKG: Peringatan dini gelombang tinggi tidak berkaitan dengan gempa

id Gelombang tinggi, BMKG, pelayaran,nelayan,Peringatan dini gelombang tinggi

BMKG: Peringatan dini gelombang tinggi tidak berkaitan dengan gempa

Staf Prakirawan Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor Banjarmasin, Muhammad Shaaimul Qadri menunjukkan potensi gelombang tinggi yang terus dipantaunya melalui monitor komputer. (antara/foto/firman)

Jakarta (ANTARA) - Deputi Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Mulyono Rahadi Prabowo menegaskan peringatan dini gelombang tinggi hingga enam meter yang dirilis BMKG, Sabtu, pukul 04.31 WIB, tidak berkaitan dengan gempa Banten magnitudo 6,9.

“Peringatan tersebut tidak terkait dengan kejadian gempa bumi (gempa Banten pada Jumat, 2/8) yang baru terjadi,” kata Mulyono dihubungi dari Jakarta, Sabtu.

Sementara itu, Pelaksana Harian Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Agus Wibowo menyebut perlunya masyarakat memahami perbedaan antara gelombang tinggi dengan tsunami.

Dalam konferensi pers di Kantor BNPB di Jakarta, Sabtu, Agus menyebut gelombang tinggi merupakan ancaman global yang disebabkan oleh perubahan cuaca dan pemanasan global.

“Ini fenomena global di seluruh dunia, ada pemanasan global sehingga muka air laut naik, termasuk gelombang,” katanya.

Menurut dia, kekuatan gelombang tinggi dan gelombang tsunami pun berbeda. Dia menganalogikan gelombang tinggi sebagai mobil truk, sementara gelombang tsunami adalah kereta dengan 12 gerbong.

Agus menyebut, satu bangunan ditabarak oleh mobil truk bisa hancur bisa juga tidak, namun akan beda hasilnya jika ditabrak oleh kereta 12 gerbong.

“Tsunami seperti rombongan panjang kereta dan datangnya bisa berkali-kali. Kekuatan dan panjangnya berbeda,” ucap dia.

Peringatan gelombang tinggi

Sebelumnya, BMKG pada pukul 04.31 WIB mengeluarkan peringatan tinggi gelombang tinggi akibat pola angin yang berlaku dari Sabtu (3/8) pukul 07.00 WIB sampai dengan Senin (6/8) pukul 07.00 WIB.

Pola angin di wilayah utara ekuator umumnya dari Tenggara ke Selatan dengan kecepatan 4-25 knot, sedangkan di wilayah selatan ekuator umumnya dari Timur ke Tenggara dengan kecepatan 4-30 knot.

Kecepatan angin tertinggi terpantau di perairan selatan Jawa hingga Sumba, Laut Sawu, Selat Makassar bagian selatan, Perairan barat Sulawesi Selatan, Laut Banda, Perairan Kepulauan Letti hingga Tanimbar dan Perairan Kepulauan Kei hingga Aru, Laut Seram, Perairan Kepulauan Sangihe-Talaud, Laut Maluku bagian utara, Laut Halmahera, dan Perairan Sorong-Raja Ampat.

Kondisi ini mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut.

BMKG memperingatkan tinggi gelombang 4.0 meter (m) hingga 6.0 m (sangat tinggi) berpeluang terjadi di perairan Bengkulu-Pulau Enggano, perairan barat Lampung, Selat Sunda bagian selatan, perairan selatan Pulau Jawa hingga Pulau Lombok, Selat Bali-Lombok-Alas bagian selatan, Samudera Hindia sebelah barat Bengkulu hingga selatan NTB.

Selanjutnya, tinggi gelombang 2.50 sampai dengan 4.0 m (tinggi) berpeluang terjadi di perairan utara Sabang, perairan Aceh Barat, perairan barat Pulau Simeuleu hingga Kepulauan Mentawai, perairan Bengkulu hingga barat Lampung, Samudera Hindia bagian barat Sumatera, Selat Sunda bagian selatan, perairan selatan Jawa hingga Sumbawa. Kemudian Selat Bali-Lombok-Alas-Sape bagian selatan, Selat Sumba bagian barat, perairan selatan Pulau Sumba, Laut Sawu, perairan Pulau Rote-Kupang, Laut Timor selatan NTT, Samudera Hindia selatan Jawa hingga NTT, perairan Timur Kepulauan Wakatobi, perairan selatan Pulau Buru. Selanjutnya  Laut Banda, perairan selatan Kepulauan Letti-Kepulauan Tanimbar, perairan selatan Pulau Kei-Kepulauan Aru, Laut Arafuru bagian barat dan tengah, perairan Kepulauan Sangihe-Kepulauan Talaud, Laut Maluku bagian utara dan Laut Halmahera, perairan utara Kepulauan Halmahera, Samudera Pasifik utara Halmahera hingga Papua Barat.

Sementara itu, tinggi gelombang 1.25 m sampai dengan 2.50 m (Sedang) berpeluang terjadi di Laut Natuna Utara, Perairan Kepulauan Anambas-Kepulauan Natuna, Laut Natuna dan Selat Karimata, Perairan Timur Kepulauan Bintan hingga Kepulauan Lingga, Perairan Utara Pangkal Pinang, Laut Jawa, Perairan Utara Jawa Timur hingga Kepulauan Kangean, Perairan Selatan Kalimantan, Perairan Kotabaru, Selat Makassar bagian selatan, Perairan Barat Sulawesi Selatan. Kemudian Laut Bali dan Laut Sumbawa, Teluk Bone dan Teluk Tolo, Perairan Manui-Kendari, Perairan Baubau-Wakatobi, Laut Maluku bagian selatan, Perairan Bitung-Manado, Perairan Selatan Sulawesi Utara, Perairan Selatan Kepulauan Banggai-Kepulauan Sula, Laut Seram, Perairan Pulau Buru-Ambon, Perairan Halmahera dan Laut Halmahera, Perairan Utara Kep. Sermata-Kepulauan Tanimbar, Perairan Utara Kepulauan Kai hingga Kepulauan Aru, Perairan Sorong, Perairan Fakfak-Kaimana, Perairan Agats-Amamapere, serta Laut Arafuru bagian timur.

Potensi gelombang tinggi di beberapa wilayah tersebut dapat berisiko terhadap keselamatan pelayaran. Untuk itu, BMKG selalu mengimbau kepada masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di pesisir terutama nelayan yang menggunakan moda tranportasi perahu nelayan (kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1.25 m), kapal tongkang (kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1.5 m), kapal ferry (kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2.5 m), kapal ukuran besar seperti kapal kargo/kapal pesiar (kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4.0 m) agar selalu waspada.

Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar