Sultra negosiasi pelatih nasional tangani tim karate pra-PON

id Karate

Sultra negosiasi pelatih nasional tangani tim karate pra-PON

Ilustrasi. (Foto ANTARA)

Kendari  (Antaranews Sultra) - Pengurus Provinsi Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (Forki) Sulawesi Tenggara masih melakukan negosiasi dengan salah seorang pelatih karate nasional untuk menangani tim prakualifikasi PON.

Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Forki Sultra Isnain Kimi di Kendari, Minggu, mengatakan pelibatan pelatih karate level nasional tersebut juga untuk memberi motivasi, baik bagi karateka maupun pelatih lokal dalam upaya merebut tiket PON XX/2020 di Papua.

"Bukan berarti pelatih lokal tidak berbobot tetapi harus pula diakui teknik beladiri karate dari waktu ke waktu mengalami pergeseran. Nah, kehadiran pelatih nasional yang sudah berpengalaman sampai tingkat dunia menjadi kesempatan untuk menimba pengetahuan dan pengalaman," kata Isnain.

Ia mengakui tidak mudah menggaet pelatih kawakan turun ke daerah karena selain ketersediaan anggaran honor juga pelatih yang bersangkutan patut mempertimbangkan potensi karateka daerah yang akan dilatih.

"Poin yang paling dipertimbangkan adalah potensi karateka Sultra. Artinya, kalau kehadiran pelatih nasional tidak mendongkrak prestasi Sultra secara signifikan berarti menurunkan reputasi pelatih yang bersangkutan," ujarnya.

Bagi Forki Sultra, menurut Isnain tidak ada masalah dengan stok karateka yang akan berjuang merebut tiket PON XX, September 2019 di Kupang, Nusa Tenggara Timur karena sudah terseleksi melalui Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sultra XIII.

"Forki tidak kesulitan menjaring karateka yang akan berjuang merebut tiket PON XX karena sudah terdeteksi pada Porprov yang berlangsung di Kabupaten Kolaka Desember 2018," kata Isnain.

Karateka juara I dan juara II pada setiap nomor pertandingan diprioritaskan mewakili Forki Sultra pada ajang pra-PON sepanjang yang bersangkutan tidak menemui kendala, antara lain, sakit atau mengundurkan diri karena sesuatu hal.

Karateka Forki Sultra akan berlaga pada 4 nomor kata (penampilan jurus), 5 kelas kumite putri dan 6 kelas kumite putra.

"Atlet akan menjalani latihan terpusat sekitar empat bulan atau setelah Puasa Ramadhan. Selama Pelatda berjalan tim pelatih akan mengevaluasi peluang para atlet, sehingga terbuka peluang pergeseran atlet menghadapi Pra-PON," kata Isnain.

Ia mengakui persaingan memperebutkan tiket PON XX akan berjalan ketat karena semua karateka yang membawa simbol daerahnya mengusung tekad meraih tiket PON.

"Karateka tuan rumah NTT yang dikenal sebagai lumbung atlet nasional paling berpeluang. Biasanya atlet tuan rumah memiliki motivasi yang kuat untuk meraih prestasi tertinggi," ujarnya.
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar