Pasarwajo (ANTARA News) - Masyarakat adat Siontapina, Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara, melestarikan hutan dengan ritual adat yang digelar di puncak Gunung Siotapina setiap tahun.
Tokoh Adat Siontapina yang biasa disebut Pangalasa, La Pale di Pasarwajo, Selasa, mengatakan, ritual adat yang digelar di puncak gunung dalam upaya melestarikan hutan itu sudah dilakukan masyarakat adat setempat secara turun temurun.
"Setiap komunitas yang bermukin di kaki bukit Siotapina seperti Wasuamba, Labuandiri, Lawele dan Kamaru, sejak dari leluhur sudah terikat sumpah adat untuk tidak merusak hutan," ujarnya.
Karena itu, kata La Pale, setiap tahun masyarakat menggelar ritual di puncang Gunung Siontampina dengan tujuan agar kawasan hutan sekitar gunung tersebut tetap lestari sepanjang masa.
Oleh karena sumpah adat itu. kata dia, setiap warga di sekitar kawasan hutan tidak boleh merusak hutan, sebab jika merusak hutan maka yang bersangkutan akan mendapatkan sanksi alam berupa bencana dan penyakit tujuh turunan.
"Dalam tradisi adat komunitas kami, jika menebang pohon di hutan maka wajib untuk menanam pohon sesuai dengan jumlah pohon yang ditebang," katanya.
Ritual adat tahunan melestarikan hutan tersebut, kata dia, berlangsung selama tiga hari, dengan urutan ritual dimulai `Posamburea` (membersihkan), `Sangka` (kelengkapan ritual), dan Popaua (payung tempat berlindung).
Dalam mempersiapkan dan melaksanakan ritual tersebut tuturnya, masyarakat adat harus berjalan kaki sejauh 50 kilometer menuju puncang Gunung Siontapina.
"Masyarakat mulai memasuki hutan belantara untuk mancapai puncak Gunung Siontapina sejak dua atau tiga hari sebelum pelaksanaan ritual adat berlangsung," katanya.
Menurut La Pale, pelaksanaan ritual tahunan itu merupakan wasiat dari Sultan La Ode Himayatuddin Muhamad Saidi atau biasa disebut Oputa Sangia Yikoo (tuan atau raja kita di hutan).
"Ritual adat ini merupakan wasiat Sultan yang dipercayakan untuk menjaga hutan. Ritual ini tidak pernah terlewatkan oleh masyarakat setempat setiap tahun," katanya.
Ia menambahkan, pada acara puncak itu, masyarakat diberikan nasihat oleh Kapitalao. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, Kapitalao ini merupakan juru bicara kesultanan.
"Kapitalao memberikan pencerahan kepada masyarakat adat Siontapina untuk melakukan ajaran sesuai dengan petunjuk Allah SWT," tambahnya.
Seluruh roh yang merasuki tubuh masyarakat adat yaitu Sultan Oputa Yikoo berserta istri Waode Kulinsusu, serta pengawal dan para pejuangnya yaitu La Badaoge, Saidi Raba, Rahman, Jafar, Abdul, Batu Sangu, Burhan, serta Wa Ode Wakato.
Usai seluruh rangkaian acara ritual tahunan masyarakat adat Siontapina ini, keesokan harinya, masyarakat mulai meninggalkan puncak Gunung Siontapina. Kembali ke Desa mereka masing-masing. (Ant).

