Menanti Jagung Hibrida Sejahterakan Petani Konawe Utara

id hibrid
Menanti Jagung Hibrida Sejahterakan Petani Konawe Utara
ilustrasi
Wanggudu, Sultra, Antara Sultra - Para petani di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, saat ini tengah bergelut mengembangkan budi daya tanaman jagung hibrida di lahan seluas 10.000 hektare.

Dalam mengembangkan budi daya tanaman jagung hibrida tersebut, para petani mendapat dukungan bibit dan biaya pengolahan lahan dari Kementerian Pertanian.

Para petani penerima bantuan pengembangan tanaman jagung hibrida dari Kementerian Pertanian tersebut, Kamis (12/1) melakukan penanaman perdana jagung hibrida di Desa Tetewatu, Kecamatan Wiwirano, sekitar 190 kilometer utara Kota Kendari, Ibu Kota Provinsi Sultra.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaeman bersama Pangdam VII/Wirabuana Mayjen TNI Agus Surya Bakti dan Sekda Provinsi Sultra Lukman Abunawas ikut bersama petani menanam jagung hibrida di lahan para petani tersebut.

Anggota DPD RI asal Sultra Wa Ode Hamsina Bolu, Bupati Konawe Utara Ruksamin, dan sejumlah pejabat eselon I serta II Kementerian Pertanian juga ikut menanam jagung hibrida yang diyakini bisa meningkatkan kesejahteraan para petani di kabupaten tersebut dan mendongkrak produksi jagung nasional.

Tentu harapan kesejahteraan melalui produksi tanaman jagung hibrida tersebut bukan hanya menjadi impian masyarakat Konawe Utara melainkan juga menjadi harapan terbesar dari seluruh petani jagung di sejumlah kabupaten di Sultra.

Hampir seluruh lahan di sejumlah kabupaten di Sultra cocok untuk pengembangan budi daya tanaman jagung hibrida yang bisa berproduksi sembilan hingga 12 ton jagung pipil kering per hektare.

"Para petani di Konawe Utara sudah sejak lama mengembangkan budi daya tanaman jagung, namun produksinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga petani," kata tokoh masyarakat Konawe Utara, Agusalim (60), melalui telepon dari Wanggudu, Minggu.

Para petani, kata dia, membudidayakan tanaman jagung hanya dalam skala kecil karena tidak ada perusahaan atau investor yang bersedia membeli produksi jagung para petani.

Diharapkan, Kementerian Pertanian tidak sekadar membantu bibit dan pengolahan lahan tanaman jagung melainkan juga membantu memasarkan produksi jagung para petani.

"Kalau produksi jagung para petani saat panen bisa terserap pasar maka para petani akan terus bergairah untuk mengembangkan tanaman jagung," katanya,

Menurut Agusalim, tanaman jagung bisa menjadi sumber kesejateraan petani manakala setiap produksi jagung petani, saat panen raya selalu bisa langsung terserap pasar.

Bila tidak, kata dia, upaya mendorong petani mengembangkan usaha budi daya tanaman jagung hibrida secara besar-besaran hanya akan berakhir dengan kekecewaan petani.

"Yang dibutuhkan petani jagung sebetulnya bukan bantuan bibit atau biaya pengolahan, melainkan ketersediaan pasar yang bisa menampung produksi jagu saat panen raya," katanya.



Tidak khawatir

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaeman saat melakukan penanaman perdana tanaman jagung hibrida di Desa Tetewatu, Kecamatan Wiwirano, Konawe Utara, Kamis, pekan lalu, menegaskan para petani tidak perlu khawatir dalam mengembangkan tanaman jagung hibrida dalam skala besar.

Pemerintah sebagai pencetus program pengembangan budi daya tanaman jagung sebagai upaya mendongrak poduksi jagung nasional, akan menyediakan pasar yang dapat menampung seluruh produksi jagung petani.

"Pengembangan jagung hibrida merupakan program nasional yang diluncurkan pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla. Pemerintah meluncurkan program tersebut sebagai upaya mewujudkan swasembada jagung nasional," kata Menteri Amran.

Oleh karena itu, tegas menteri, petani di Konawe Utara khususnya dan petani Indonesia pada umumnya, tidak perlu ragu mengembangkan budi daya tanaman jagung hibrida karena berapa pun produksi jagung petani dijamin dapat terserap pasar.

"Pemerintah sendiri melalui Bulog menjamin akan membeli dan menampung seluruh produksi jagung para petani dengan harga Rp3.150/kilogram. Sementara harga jagung di pasaran umum saat ini Rp3.700-Rp3.800 per kilogram," katanya.

Diungkapkan menteri, program pengembangan jagung hibrida selain untuk mendongkrak produksi jagung nasional, juga sebagai upaya pemerintah menutup keran impor jagung.

"Tahun 2016, impor jagung nasional sudah berkurang tiga juta ton. Diharapkan dengan program nasional pengembangan jagung hibrida tahun ini Indonesia tidak lagi mengimpor jagung," katanya.

Menteri Amran mendorong Pemerintah Kabupaten Konawe Utara untuk menjadikan wilayah Kecamatan Wiwirano yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah, sebagai sentra produksi jagung terbaik di Indonesia.

Jika program pengembangan jagung pada lahan seluas 10.000 hektare di Konawe Utara sukses maka tahun depan pemerintah melalaui Kementerian Pertanian akan mengucurkan lagi program penanaman jagung di Konawe Utara di lahan seluas 20.000 hektare.

Namun, jika pengembangan jagung pada lahan 10.000 hektare tersebut mengalami kegagalan maka pemerintah tidak akan menyalurkan bantuan pengembangan jagung lagi kepada petani Konawe Utara.

Sementara itu, Bupati Konawe Utara Ruksamin menyambut baik keinginan Menteri Pertanian Amran Sulaeman untuk menjadikan Wiwirano sebagai sentra produksi jagung terbaik di Indonesia.

"Kami pemerintah bersama masyarakat akan berusaha sekuat tenaga agar progam nasional ini bisa mencapai sukses," katanya.

Menurut Ruksamin, hampir seluruh lahan milik para petani di Konawe Utara cocok untuk pengembangan budi daya tanaman jagung.

Lahan-lahan para petani tersebut selama ini tidak terolah, karena terbentur masalah bibit, pupuk, dan biaya pengolahan lahan.

"Insya Allah, dengan bantuan dari pemerintah ini, lahan-lahan kering milik para petani yang selama ini menjadi lahan tidur sudah bisa digarap untuk pengembangan tanaman jagung," katanya.



Ketahanan pangan

Menteri Pertanian Amran Sulaiman melalui rapat koordinasi ketahanan pangan se-Sultra yang digelar di Kendari, Jumat (13/1), mengungkapkan pengembangan budi daya tanaman jagung hibrida secara besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah sebagai upaya meningkatkan ketahanan pangan nasional.

Dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan, selain pengembangan tanaman jagung, pemerintah juga menggulirkan pengembangan tanaman kedelai dan program sapi indukan wajib bunting.

"Saya harapkan komitmen dari pemerintah daerah untuk terus meningkatkan produksi pangan, terutama beberapa produksi strategis seperti padi, jagung, kedelai dan daging," kata Menteri Amran.

Menurut Menteri Amran, berkat keberhasilan dari program upaya khusus meningkatkan produksi pangan, mulai 2016 Indonesia tidak mengimpor lagi beras, bawang, dan cabai.

Ketiga produksi pangan strategis tersebut sudah bisa dipenuhi dari produksi pangan para petani lokal yang tersebar di seluruh Indonesia.

"Kita harapkan ke depan produksi pangan lain seperti jagung, kedelai, dan daging juga tidak mengimpor lagi," katanya.

Khusus di Sultra, tahun ini Kementerian Pertanian membantu mengembangkan tanaman jagung hibrida di lahan seluas 10.000 hektare di Konawe Utara.

Mampukah program pengembangan budi daya tanaman jagung di Konawe Utara tersebut meningkatkan kesejahteraan petani dan mendongkrak produksi jagung nasional? Waktulah yang akan menjawabnya kelak.

Akan tetapi, hal yang pasti, Menteri Pertanian Amran Sulaeman sudah ikut menanam jagung hibrida bersama petani di lahan seluas 10.000 hektare di Desa Tetewatu, Kecamatan Wiwirano, Konawe Utara.

Pada saat yang sama, Bupati Konawe Utara Ruksamin bersama para petani setempat menyatakan tekad untuk menyukseskan program tersebut sehingga pendapatan para petani bisa terus meningkat dari waktu ke waktu.

Editor: Hernawan Wahyudono

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga