
PT Vale beri layanan KIA bagi masyarakat guna cegah stunting

Kolaka (ANTARA) - PT Vale Indonesia Tbk IGP Pomalaa memberikan layanan kesehatan ibu dan anak (KIA) bagi masyarakat guna mencegah kematian pada ibu hamil dan anak, serta stunting di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Penanggung jawab medis PT Vale Indonesia IGP Pomalaa dr. Fathurrahman di Kolaka, Senin, mengatakan langkah ini merupakan upaya PT Vale untuk meningkatkan angka kesehatan masyarakat serta menekan angka kematian ibu hamil dan risiko penyakit pada anak di wilayah operasional perusahaan.
"Jadi, kegiatan hari ini adalah kegiatan ESG KIA atau kesehatan Ibu dan Anak dimana rangkaiannya pertama, yaitu kunjungan dokter spesialis anak di Puskesmas Pomala dan Baula," katanya.
Ia menyembutkan bahwa kegiatan ini terdiri dari delapan kunjungan dokter spesialis, yaitu empat kunjungan dokter spesialis anak dan empat kunjungan dokter spesialis kandungan di Puskesmas Kecamatan Pomalaa Dan Baula
Fathur mengungkapkan dalam kegiatan tersebut PT Vale berperan menyediakan dokter spesialis, sedangkan pihak Puskesmas yakni melakukan pendataan dan skrining pasien.
Ia menjelaskan bahwa yang menjadi fokus utama dari kegiatan tersebut, yakni mendeteksi dini risiko stunting pada anak, apalagi dalam periode 1.000 hari pertama kehidupan yang menjadi fase tumbuh kembang anak itu.
"1.000 hari kelahiran itu adalah fase tumbuh kembang anak yang optimal. Jadi harus disuplai asupan-asupan yang harus sesuai," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa bagi masyarakat yang terindikasi membutuhkan layanan lanjutan akan dirujuk ke jenjang fasilitas yang lebih memadai, misalnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Benyamin Guluh
Sementara itu, Kepala Puskesmas Pomalaa dr Alriyani Hamzah menyambut baik kegiatan tersebut. Sebab, kegiatan ini sangat baik dalam upaya pencegahan stunting pada anak.
"Kami harap kegiatan ini tidak hanya di bulan ini saja, tetapi berkelanjutan supaya ada follow up pasien ini," katanya.
Dokter spesialis anak RSUD Benyamin Guluh dr Apriani Aridan mengatakan penangan stunting tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan harus dilakukan secara berkelanjutan.
"Stungting ini adalah kondisi malnutrisi kronik, jadi harus ada follow up berkelanjutan dilakukan," ungkap Apriani.
Pewarta : La Ode Muh. Deden Saputra/Andika
Editor:
Zabur Karuru
COPYRIGHT © ANTARA 2026
