Logo Header Antaranews Sultra

Pemkab Kolaka dan PT Vale panen raya padi dukung swasembada pangan

Senin, 9 Maret 2026 21:40 WIB
Image Print
Pemkab Kolaka, PT Vale, dan Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan saat melaksanakan panen raya. (ANTARA/HO-PT Vale)

Kendari (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kolaka bersama PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) melaksanakan panen bersama demplot padi berkelanjutan di Desa Puubunga, Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra), sebagai upaya mendukung program Asta Cita Presiden terkait ketahanan pangan nasional.

Kegiatan panen raya pada Minggu (8/3) tersebut dihadiri oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kolaka Akbar, Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan Widiastuti, serta jajaran Forkopimda setempat.

Sekretaris Daerah Kolaka Akbar memberikan apresiasi atas inisiatif sektor swasta dalam mendukung agenda pemerintah daerah dan pusat untuk mewujudkan swasembada pangan.

"Sinergi pemerintah dan perusahaan sangat dibutuhkan. PT Vale menjadi salah satu contoh perusahaan pertambangan yang tidak hanya fokus pada pengelolaan sumber daya alam, tetapi juga memberi dampak berkelanjutan bagi ketahanan pangan masyarakat," ujar Akbar.

Ia berharap langkah ini dapat diikuti oleh perusahaan-perusahaan lain di wilayah Sulawesi Tenggara, khususnya di sektor pertambangan, agar target pemerintah dalam mencapai kemandirian pangan dapat segera terwujud.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan Widiastuti menilai kolaborasi ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 yang menempatkan pangan sebagai prioritas nasional.

CEO PT Vale Indonesia Bernardus Irmanto menjelaskan bahwa program demplot ini merupakan pendekatan holistik perusahaan untuk tumbuh bersama masyarakat. Program ini mengintegrasikan teknologi budidaya padi presisi, termasuk sistem organik dan varietas unggul seperti Trisakti, Mentik Wangi, hingga inovasi Perennial Rice.

"Kami ingin menghadirkan inovasi pertanian yang adaptif dan ramah lingkungan. Dengan teknologi ini, petani berpotensi panen hingga delapan kali dalam sekali tanam, sehingga mampu menekan biaya produksi hingga 50 persen," jelas Bernardus.

Hasil panen di lahan demplot seluas 36 are tersebut menunjukkan perkembangan positif. Pada lahan organik seluas 10 are, produktivitas mencapai 6,9 ton, sedangkan pada lahan konvensional seluas 26 are menghasilkan total sekitar 15 ton dari berbagai varietas yang diuji.

Melalui sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan kelompok tani, model pertanian berkelanjutan di Kolaka ini diharapkan menjadi laboratorium pembelajaran yang dapat direplikasi di wilayah lain guna memperkuat ekosistem ekonomi lokal yang lebih tangguh.



Pewarta :
Editor: Zabur Karuru
COPYRIGHT © ANTARA 2026