Pemkot Kendari mendorong kawasan persawahan Amohalo jadi lumbung pangan

id lumbung pangan

Pemkot Kendari mendorong kawasan persawahan Amohalo jadi lumbung pangan

Asisten I Setda Kendari, Agus Salim Safarullah (keempat dari kanan) mewakili Wali Kota Kendari, pada acara penandatanganan kerja sama klaster ketahanan pangan padi sawah antara Bank Indonesia, Pupuk Kaltim dan Pemkot Kendari dalam rangka pengendalian inflasi Kota Kendari di Kawasan Amohalo Kelurahan Baruga, Selasa (Antara/Suparman)

Kendari (ANTARA) - Pemerintah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), berkomitmen mendorong kawasan persawahan Amohalo Kelurahan Baruga, Kecamatan Baruga menjadi lumbung pangan di kota itu.

"Hari ini di Kawasan Amohalo, para petani dan kelompok tani yang ada kembali mendapatkan stimulan, berupa peluncuran program klaster ketahanan pangan padi sawah disertai pelatihan teknis pertanian organik untuk meningkatkan kemampuan para petani,” kata Asisten I Setda Kendari, Agus Salim Safarullah di Kendari, Selasa.

Ia mengatakan, di masa pandemi COVID-19 ini hususnya di bidang pertanian, pihaknya terus melakukan perbaikan dengan tujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para petani di Kota Kendari.

"Kawasan persawahan Amohalo memiliki luas sekitar 700 hektare, tetapi yang berproduksi baru sekitar 450 hektare. Sehingga masih besar petensi untuk kita kembangkan menjadi lumbung pangan daerah ini," katanya.

Sementara itu, Account Executive Pupuk Kaltim Wilayah Sultra, Enda Wulandari, mengatakan pihaknya berusaha ikut berkontribusi dalam hal melakukan percontohan di kawasan persawahan di klaster kawasan Amohalo, seperti pemantauan penggunaan pupuk organik dan pupuk hayati melalui perkembangannya terhadap pupuk yang diberikan ke petani.

"Di sini kita konsen pada penggunaan pupuk organik murni, yaitu pupuk ece verde dan biodex, jadi mungkin kita tidak lagi memakai pupuk anorganik yang selama ini kita kenal pupuk NPK, urea, dan sebagainya," katanya.

Enda menambahkan, pupuk organik yang diberikan ke petani itu sama-sama untuk pemulihan tanah dalam hal penyuburan tanah yang bagus digunakan petani saat dalam pengolahan tanah.

“Dari penggunanya karena ini pupuk hayati jadi per hektarenya hanya butuh 20 kilogram untuk eco verde sebagai pembenah tanahnya. Kalau di padi sawah itu lebih bagus diberikan saat pengolahan tanah karena itu membantu meregenerasi zat-zat tanah di situ sehingga pembusukannya lebih maksimal,” katanya.

Sementara itu, untuk pelatihan teknis pertanian organik terintegrasi peternakan kawasan Amohalo akan dilaksanakan dua hari dengan beberapa fokus materi, yaitu konsep pengembangan sistem pertanian terukur total organik pada tanaman pertanian terintegrasi peternakan.

Disusul materi manajemen kandang dan pemeliharaan ternak besar, selanjutnya praktik pembuatan pupuk dan pakan organik berbahan baku limbah pertanian, serta praktik bagaimana perlakuan tanah pertanian dan aspek teknis budidaya pertanian.

Pihak BI Sultra, Taufik, berharap pengembangan pertanian terintegrasi peternakan di kawasan Amohalo akan dikembangkan menjadi integrated digital eco farming dan pembuatan demplot untuk melihat tingkat keberhasilan program klaster padi sawah di kawasan Amohalo.

Dalam upaya mendorong pengembangan sektor pertanian dalam arti luas kata dia, pada kesempatan ini juga akan dilakukan pemberian Program Sosial Bank Indonesia (PSBI), berupa rumah dan peralatan produksi kepada koperasi perikanan Mayarita Kota Kendari.

“Melalui pengembangan tersebut diharapkan mendorong kestabilan inflasi daerah dan mendorong sektor pertanian menjadi sumber pertumbuhan yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.

Dalam rangka pengendalian inflasi Kota Kendari antara kantor perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tenggara dengan Dinas Pertanian, Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM, Dinas Kebudayaan dan Parawisata, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, PT Pupuk Kaltim dan Gapoktan Samaendre.
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2021