China dinilai manipulasi mata uang asing demi hilangkan persaingan

id mata uang,perang dagang

China dinilai manipulasi mata uang asing demi hilangkan persaingan

BEIJING, July 11, 2019 (Xinhua) -- Photo taken on March 13, 2018 shows the headquarters of the People's Bank of China. (Xinhua/Cai Yang)

Washington (ANTARA) - Pemerintah AS menilai China memanipulasi mata uangnya dan akan terlibat bersama Dana Moneter Internasional (IMF) untuk menghilangkan persaingan tidak adil dari Beijing, ujar Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dalam sebuah pernyataan pada Senin (5/8/2019).

Langkah ini membawa hubungan yang sudah tegang antara Amerika Serikat dan China kian memanas dan memenuhi janji Presiden AS Donald Trump untuk melabeli China sebagai manipulator mata uang, untuk pertama kalinya sejak 1994.

Tindakan AS menyusul China yang memungkinkan yuan melemah hingga level penting tujuh yuan per dolar AS pada Senin untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade. Beijing kemudian mengatakan akan berhenti membeli produk-produk pertanian AS, yang memicu perang perdagangan selama setahun dengan Amerika Serikat.

Penurunan tajam 1,4 persen dalam yuan terjadi beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengejutkan pasar keuangan dengan berjanji untuk mengenakan tarif tambahan 10 persen pada sisa 300 miliar dolar AS impor dari China mulai 1 September, secara tiba-tiba merusak gencatan senjata singkat dalam perang dagang yang telah mengganggu rantai pasokan global dan memperlambat pertumbuhan.

Berita itu membuat dolar AS melemah tajam dan mendorong harga emas.

Departemen Keuangan mengatakan pernyataan dari bank sentral China, People's Bank of China (PBOC), pada Senin (5/8/2019) menjelaskan bahwa pihak berwenang China memiliki kendali yang cukup besar terhadap nilai tukar yuan.

PBOC mengatakan pada Senin (5/8/2019) bahwa pihaknya akan "terus ... mengambil tindakan yang perlu dan ditargetkan terhadap perilaku umpan balik positif yang mungkin terjadi di pasar valuta asing."

"Ini adalah pengakuan terbuka oleh PBOC bahwa ia memiliki pengalaman luas memanipulasi mata uangnya dan tetap siap untuk melakukannya secara berkelanjutan," kata pernyataan Departemen Keuangan.

Baca juga: Ekonomi Indonesia tetap positif di tengah ketidakpastian global

Dikatakan tindakan China melanggar komitmennya untuk menahan diri dari devaluasi kompetitif sebagai bagian dari Kelompok 20 negara industri. Departemen Keuangan mengatakan pihaknya mengharapkan China untuk mematuhi komitmen itu dan tidak menargetkan nilai tukar China untuk tujuan kompetitif.

Undang-undang AS menetapkan tiga kriteria untuk mengidentifikasi manipulasi di antara mitra dagang utama: surplus neraca berjalan global yang material, surplus perdagangan bilateral yang signifikan dengan Amerika Serikat, dan intervensi satu arah yang terus-menerus di pasar valuta asing.

Setelah menentukan bahwa suatu negara adalah manipulator, Departemen Keuangan diharuskan untuk meminta pembicaraan khusus yang bertujuan memperbaiki mata uang yang undervalued, dengan hukuman seperti pengecualian dari kontrak pengadaan pemerintah AS.

Baca juga: Dolar AS menguat terhadap enam mata uang lainnya

Departemen Keuangan AS telah menetapkan Taiwan dan Korea Selatan sebagai manipulator mata uang pada tahun 1988, tahun ketika Kongres memberlakukan hukum peninjauan mata uang. China adalah negara terakhir yang mendapatkan penunjukan, pada tahun 1994.

Pada Mei, Departemen Keuangan menahan diri dari menyatakan China sebagai manipulator mata uang berdasarkan kriteria baru yang lebih keras mengukur surplus neraca berjalan global suatu negara, bersama dengan intervensi satu arah yang terus-menerus dan surplus perdagangan bilateral besar dengan Amerika Serikat.

Namun dalam laporannya, Departemen Keuangan membuat China berada dalam daftar pemantauan yang disempurnakan karena "ketidaksejajaran dan di bawah valuasi RMB relatif terhadap dolar."

Baca juga: AS jual beras pertama kali ke China setelah perang dagang
Baca juga: Perencanaan tata ruang laut dorong kemajuan ekonomi daerah

 
Pewarta :
Editor: M Sharif Santiago
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar