Ekonomi Indonesia tetap positif di tengah ketidakpastian global

id ekonomi indonesia,pertumbuhan ekonomi,bank indonesia,info keuangan,abpn 2019

Ekonom Utama Bank Dunia di Indonesia, Frederico Gil Sander, memaparkan laporan pertumbuhan ekonomi Indonesia di acara peluncuran The June 2019 edition of the Indonesia Economic Quarterly di Jakarta, Senin (1/7/2019). ANTARA/Katriana/am.

Hasil positif ini ditopang permintaan domestik yang mampu mengkompensasi turunnya kinerja ekonomi internasional,
Kendari (ANTARA) - Anggota Komisi VI DPR RI Iskandar Dzulkarnain Syaichu mengapresiasi kondisi perekonomian Indonesia yang tetap melaju positif di tengah situasi perekonomian global yang masih diwarnai situasi ekonomi global yang tidak menentu.

Iskandar dalam rilis, Rabu, menyatakan, perekonomian Indonesia pada Semester 1 tahun 2019 masih menunjukkan momentum positif di tengah perlambatan kinerja ekonomi di negara maju.

"Hasil positif ini ditopang permintaan domestik yang mampu mengkompensasi turunnya kinerja ekonomi internasional," ujarnya.

Menurut dia, kuatnya permintaan domestik tidak terlepas dari keberhasilan menjaga tingkat inflasi dan daya beli masyarakat serta realisasi berbagai program pemerintah yang telah diagendakan dalam APBN.

Baca juga: Gubernur Sultra serahkan DIPA APBN

Namun, politisi PPP itu tetap menginginkan pemerintah untuk tetap optimistis bahwa perekonomian Indonesia masih akan terjaga hingga tahun 2019 sebagai penyusunan kebijakan fiskal tahun depan.

Sebagaimana diwartakan, Badan Anggaran (Banggar) DPR menyetujui target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen hingga 5,5 persen dalam asumsi makro yang diajukan pemerintah untuk dibawa ke tahap selanjutnya dalam rangka mempersiapkan Rancangan APBN 2020.

Kesepakatan ini diambil dalam rapat Banggar DPR RI bersama Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, serta Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Bappenas pada Senin (8/7).

Baca juga: Indonesia akan bahas persoalan ekonomi global di KTT G20

Adapun hasil kesepakatan dalam rapat di Banggar tersebut mencakup asumsi makro, postur makro fiskal yakni belanja dan pendapatan negara, serta target pembangunan pada 2020.

Dalam asumsi makro, Banggar menyetujui usulan pemerintah terkait asumsi pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,2 persen - 5,5 persen, kemudian inflasi dua persen - empat persen secara tahunan (year on year/yoy), nilai tukar rupiah Rp14.000 - Rp14.500 per dolar AS.

Kemudian asumsi tingkat bunga Surat Perbendaharaan Negara tenor tiga bulan 5,0 persen - 5,5 persen, harga minyak mentah Indonesia 60 - 70 dolar AS per barrel, produksi (lifting) minyak bumi 695 - 840 ribu barel per hari, dan lifting gas bumi 1.191 - 1.300 ribu barel setara minyak per hari.

Sementara dalam target pembangunan 2020, disepakati tingkat pengangguran pada kisaran 4,8 persen - 5,1 persen, angka kemiskinan 8,5 persen - 9,5 persen, gini rasio 0,375 - 0,380, dan indeks pembangunan manusia 72,51.

Baca juga: Ekonom: kemiskinan naik, ada salah proses penggunaan dana
Baca juga: Menkeu Sri Mulyani : ekonomi akan tumbuh 5,1 persen semester I 2019
Pewarta :
Editor: M Sharif Santiago
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar