Kelapa sawit memiliki nilai ekonomis tinggi

id Kelapa Sawit,kendari,Universitas Halu Oleo

Kelapa sawit memiliki nilai  ekonomis tinggi

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo, Prof Dr Ir M Tufaila Hemon MP. (ANTARA/Harianto)

Kendari (ANTARA) - Dekan Fakultas Pertanian Prof Dr Ir M Tufaila Hemon MP mengatakan kelapa sawit mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, karena selain buahnya yang menghasilkan minyak, sisa-sisa industri pengolahannya juga bisa menjadi sumber pendapatan.

"Nilai ekonomis kelapa sawit tidak hanya terletak pada buahnya saja, pelepah dan hasil samping dari pengolahan buah itu dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, sebagai biogas, sebagai arang aktif, sebagai pembangkit listrik, sebagai sumber pembakar tungku," kata Prof Tufaila Hemon, di Kendari Senin.

Agar kelapa sawit  dapat memberikan kontribusi yang besar bagi petani, kata Tufaila, pertama pengelolaan kelapa sawit secara keseluruhan harus diperbaiki mulai dari hulu sampai hilirnya. Termasuk infrastruktur perkebunan, kecepatan transportasi, selain itu termasuk pabrik minyak.

"Yang kedua adalah karena kelapa sawit sangat rentang terhadap lingkungan maka pengelolaan kelapa sawit harus berwawasan lingkungan sesuai dengan ketentuan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) yang sudah ditentukan oleh pemerintah," katanya.

Baca juga: Melalui minyak sawit, Indonesia diyakini mampu kuasai ekonomi global

Kemudian yang ketiga adalah manajemen pengelolaannya mulai dari pemupukan, pemeliharaan, seleksi bibit, teknik budidaya panen, sampai pasca panen secara keseluruhan harus diperbaiki, agar produksinya dapat meningkat.

Selain itu, petani dalam mengambil manfaat dari kelapa sawit tidak boleh semata-mata hanya mengharap tandan buah segar (TBS) saja, tetapi sisa-sisa pengelolaannya dapat dimanfaatkan. "Jika petani memperhatikan itu, tentu itu bisa memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pendapatan dan kesejahteraan petani," ujarnya.

Namun, ia sangat menyayangkan, karena faktanya kelapa sawit belum mampu menyejahterakan atau meningkatkan pendapatan masyarakat, padahal skala nasional sumbangan devisa tertinggi bagi negara non migas adalah kelapa sawit.

"Tragisnya Indonesia masih miskin, hal itu tidak masuk di akal. Itu baru bicara minyak, belum laut, nikel, emas, karena Indonesia memiliki segalanya, namun masih tetap miskin," katanya.

Maka, Dekan Pertanian itu menyarankan agar masyarakat tidak hanya bergantung pada tanaman kelapa sawit, namun dikombinasikan dengan tanaman lainnya yang memiliki nilai ekonomis.

"Jadi satu kebun jangan hanya kelapa sawit, perlu diselingi dengan tanaman-tanaman lainnya yang memiliki nilai ekonomis. Kalau turun harga kelapa sawit, maka tanaman lainnya bisa menjadi penopang perekonomian, seperti rempah-rempah, atau mungkin tanaman pangan atau obat-obatan" katanya.*

Baca juga: Investasi kelapa sawit dorong ekonomi Sultra
Baca juga: Di Konawe, petani enggan panen sawit karena harga jual rendah
Pewarta :
Editor: M Sharif Santiago
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar