Peserta sekolah lapang iklim panen raya jagung

id usaid

Peserta Sekolah Lapang Iklim (SLI) sedang panen raya jagung di Kelurahan Punggulaku Kecamatan Laeya Kabupaten Konawe Selatan, Senin. (foto istimewa (USAID APIK))

Kendari (Antaranews Sultra) - Petani jagung peserta Sekolah Lapang Iklim (SLI) bersama Pemerintah Daerah Konawe Selatan mengakhiri rangkaian kegiatan SLI dengan panen raya jagung di petak percontohan di Kelurahan Punggaluku, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Senin.

Shinta Sarie dari USAID dalam rilisnya yang diterima di Kendari, menyebutkan dalam panen raya tersebut petani menyampaikan testimoni dan berbagi pengalaman selama mengikuti SLI, sementara Badan Pusat Statistik melaporkan hasil ubinan (perkiraan panen) dari petak percontohan.

Secara keseluruhan, hasil pengubinan di tiga petak percontohan memuaskan, dengan lebih dari delapan ton pipilan basah per hektare. Dengan asumsi penyusutan ke pipilan kering 20 persen, maka hasil petak percontohan 6,4 ton pipilan kering per hektare melampaui rata-rata produksi Konawe Selatan yaitu 4-5 ton pipilan kering per hektare.

SLI merupakan kegiatan pendampingan petani yang diselenggarakan program USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (USAID APIK) bekerjasama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dinas Pertanian, Badan Pengkajian Teknologi Pertanian, dan beberapa pihak lainnya. Sebelumnya, SLI telah dilaksanakan untuk komoditas padi di Kelurahan Baruga, Kota Kendari pada Juli-Oktober 2017.

Kali ini, SLI menyasar komoditas jagung dengan menggandeng berbagai pihak yaitu Bank Sultra, Asuransi ACA, dan Syngenta. Komoditas jagung di Sulawesi Tenggara memiliki potensi yang besar dan produktivitasnya diharapkan meningkat guna memenuhi permintaan jagung nasional.

Akan tetapi, produksi seringkali terkendala oleh perubahan cuaca ekstrem dan keterbatasan teknik budi daya. SLI jagung berupaya menjawab tantangan tersebut dengan menggunakan pendekatan pertanian cerdas iklim guna meningkatkan produktivitas dengan memperhitungkan faktor perubahan iklim.

Dalam SLI, petani menggunakan petak percontohan sebagai sarana belajar bersama. Ketiga puluh peserta melakukan pengamatan secara berkelompok setiap hari di petak tersebut untuk melihat kondisi dan pertumbuhan tanaman, parameter cuaca (suhu, kelembapan, curah hujan), serta mengamati organisme di sekitar kebun.

Peserta bertemu setiap sepuluh hari untuk mendiskusikan dan menganalisa temuan di petak percontohan bersama para narasumber dan fasilitator untuk menentukan tindakan selanjutnya, sambil mendalami teknik budi daya cerdas iklim.

Prakirawan cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Kendari, Faisal Habibie, mengatakan selama ini penggunaan informasi cuaca oleh petani masih minim, sehingga SLI berupaya mendekatkan petani dengan dengan informasi tersebut.

Ia mengakui di awal pertemuan, masih banyak petani yang bingung, namun karena langsung mengamati kondisi dengan menggunakan termometer dan alat pengukur curah hujan, serta mendiskusikannya, maka mereka lebih cepat paham.

Manajer regional program USAID APIK Sulawesi Tenggara, Buttu Madika menjelaskan, petani tak hanya belajar teori namun langsung mempraktikkannya di petak percontohan, sehingga proses pembelajaran lebih menyeluruh melalui pengalaman di lapangan.

"Selain itu, dengan keterlibatan BMKG, Dinas Pertanian dan sektor swasta maka petani lebih memahami informasi cuaca dan iklim, akses permodalan, dan perlindungan usaha sehingga dapat mengambil langkah yang tepat untuk meningkatkan usaha tani mereka,? ujarnya.



 
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar