Kendari (Antara News) - Isak tangis dari sanak keluarga menyambut kedatangan jenazah almarhum Pratu Jojon Miharja, anggota TNI yang merupakan korban penembakan separatis di Papua, yang tiba di kampung halamannya Desa Opaasi, Kecamatan Ranomeeto Barat, Kabupaten Konawe Selatan, Senin siang.
Almarhum adalah satu dari delapan anggota TNI yang gugur akibat penembakan separatis di Kabupaten Puncak Jaya Papua, ketika hendak menuju bandara bersama warga sipil, (21/2).
Sebelum diantar di rumah duka, tepat pukul 11.30 WITA jenazah almarhum tiba di Bandara Haluoleo Kendari, yang diterima oleh Danrem 143 Haluoleo, dan sejumlah petinggi TNI lainnya. Selanjutnya dibawa ke rumah duka di Desa Opaasi untuk dilakukan upacara pemakaman secara militer.
Begitu iring-iringan kendaraan yang membawa almarhum tiba di rumah duka, pekik tangis dari keluarga tidak tertahankan, dan rumah sederhana itu kemudian disesaki oleh sanak keluarga termasuk warga setempat dan juga unsur pemerintah setempat.
Almarhum Jojon Miharja yang lahir pada 20 Mei 1982 itu, meninggalkan tiga orang anak dengan seorang istri bernama Sasmita.
Usai diserahkan kepada keluarga, jenazah kemudian diemayamkan dan melalui prosesi adat diserahkan kepada pemerintah setempat, setelah itu diserahkan kepada pihak TNI untuk dilakukan pemakaman secara militer.
Saat pemakaman, ketiga anak almarhum bersama istrinya menyaksikan dengan seksama prosesi itu dengan tampak perasaan sedih yang mendalam. Anak pertama dan kedua adalah kembar, yakni Zulhija dan Sulhaji masing-masing 3,5 tahun berada dipangkuan kakeknya atau ayah dari Sasmita, sementara anak ketiganya usia sekitar satu tahun berada dipangkuan ibunya.
Tangis keluarga kembali tak tertahankan ketika jenazah almarhum hendak diturunkan keliang lahat, bahkan dua orang anaknya ikut menangis.
Komandan Kodim 1417/Kendari, Letkol Djoko S Pran, yang menghadiri pemakaman itu mengatakan, almarhum saat itu hendak mengambil alat komunikasi dari pangkalan menuju bandara, dan mereka tidak dilengkapi senjata karena mereka tidak dalam keadaan tugas patroli.
"Kejadiannya sekitar 10.30 waktu setempat, di Pos Penjagaan Sinak Punjak Jaya," katanya.
Rekan almarhum semasa sekolah, Faisal, mengaku kalau dua bulan lalu masih sempat berkomunikasi melalui telepon seluler.
"Almarhum adalah teman sebangku saya semasa sekolah, sejak dia lulus sekolah dan masuk tentara ditugaskan di Papua, dan kami tidak pernah putus komunikasi," katanya.
Prosesi pemakaman secara militer berjalan penuh hikmad yang dilakukan di belakang rumah kediaman keluarga almarhum atau sekitar 40 meter di samping makam ayahanda almarhum Jojon Miharja yang lebih dahulu menghadap yang Maha Kuasa tahun 2011. (Ant).

