Kendari (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Dinas Perkebunan dan Hortikultura mencatat produksi kakao di Bumi Anoa tersebut mencapai 107.876 ton per Juni 2025.
Kepala Disbun Horti Sultra La Ode Muhammad Rusdin saat ditemui di Kendari, Sabtu mengatakan bahwa jumlah tersebut merupakan bagian dari evaluasi kinerja subsektor unggulan yang menopang ekonomi masyarakat pedesaan.
Ia menyampaikan bahwa produksi tersebut bersumber dari total areal kebun kakao seluas 217.803 hektare.
“Dari total luasan tersebut, sekitar 156 ribu hektare sudah masuk masa menghasilkan, sedangkan sisanya, sekitar 26 ribu hektare masih dalam tahap belum produktif,” katanya.
Rusdin menjelaskan, luas lahan tersebut tersebar di enam kabupaten sentra produksi kakao yakni Kolaka, Kolaka Utara, Kolaka Timur, Konawe, Muna, dan Bombana.
Menurutnya, wilayah-wilayah ini memiliki kondisi agroklimat yang mendukung pertumbuhan tanaman kakao secara optimal, sehingga terus menjadi fokus pengembangan pemerintah daerah.
Ia mengungkapkan, saat ini terdapat sedikitnya 135.265 petani kakao di Sulawesi Tenggara. Mereka tersebar di enam kabupaten sentra produksi dan menjadi bagian penting dari rantai pasok dan pengolahan komoditas kakao, baik dalam bentuk biji kering maupun produk turunan skala rumahan.
“Komoditas ini tumbuh dan berkembang di banyak wilayah, tapi yang dominan tetap di Kolaka Raya dan Muna. Ini menjadi peluang sekaligus tantangan dalam meningkatkan nilai tambah dan produktivitas,” ujarnya.
Sebagai bentuk penguatan sektor ini, Pemerintah Provinsi Sultra berencana menambah 60.000 hektare lahan kebun kakao baru mulai tahun 2026.
Program perluasan ini akan difokuskan di Kabupaten Kolaka dan Kolaka Utara, yang dinilai masih memiliki cadangan lahan potensial dan kesiapan petani dari sisi teknis.
"Langkah strategis lain yang disiapkan, yakni melalui program peremajaan dan rehabilitasi tanaman kakao yang sudah tua atau tidak produktif," jelasnya.
Rusdin menambahkan bahwa peningkatan produksi tidak semata bergantung pada penambahan lahan, tetapi juga pada kualitas tanaman dan manajemen pascapanen yang baik.
Dengan semua upaya ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara menargetkan agar kakao tetap menjadi komoditas unggulan sektor perkebunan yang mampu menopang perekonomian petani, memperluas lapangan kerja di pedesaan, serta memperkuat posisi Sultra sebagai salah satu sentra kakao nasional.

