Kendari (ANTARA) - Kakanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), H. Muhamad Saleh mengatakan, kegiatan manasik haji menjadi bagian penting dalam persiapan sebelum berangkat ke Tanah Suci.
"Dengan kegiatan manasik, jemaah calon haji dapat memahami rangkaian ibadah haji secara baik dan benar, sehingga dapat melaksanakannya dengan khusyuk dan sesuai dengan tuntunan syariat Islam," katanya saat membuka bimbingan manasik haji Tingkat Kota Baubau, Senin.
Kakanwil mengatakan, Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang menjadi impian bagi setiap Muslim. Untuk dapat melaksanakan ibadah ini dengan sempurna, dibutuhkan pemahaman yang baik tentang tata cara, hukum, serta hikmah di balik setiap amalan haji.
Saleh menambahkan, Kementerian Agama, sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan ibadah haji, terus berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi Jemaah, termasuk dalam hal bimbingan manasik.
Hal ini, lanjut Saleh, sebagaimana tertuang dalam 8 Asta Protas Kementerian Agama yang salah satunya adalah Sukses Penyelenggaraan Haji 2025.
"Kita upayakan jemaah tersenyum di awal, saat persiapan, senyum di tengah saat menjalankan ibadah haji dan senyum di akhir usai berhaji. Semoga semua mabrur," harap Saleh.
Ia juga berharap, melalui kegiatan ini, Jemaah Calon Haji dapat memahami rangkaian ibadah haji secara baik dan benar, sehingga dapat melaksanakannya dengan khusyuk dan sesuai dengan tuntunan syariat Islam," ungkapnya.
Saleh mengingatkan kepada seluruh Jemaah agar menjaga kesehatan fisik dan mental. Perjalanan haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang membutuhkan kesiapan lahir dan batin untuk mencapai haji yang tidak sekedar makbul, tapi juga mabrur. Sebab, kata Saleh, terdapat perbedaan antara haji makbul dan haji mabrur
"Haji makbul adalah haji yang sah secara syariat, yaitu telah memenuhi semua rukun, wajib dan sunnah haji dengan benar. Namun, belum tentu haji tersebut mabrur (diterima dengan sempurna oleh Allah dan membawa perubahan positif dalam diri seseorang)," jelasnya.
Sedangkan haji mabrur, ujar Saleh, selain sah, diterima oleh Allah, juga membawa perubahan akhlak serta ketakwaan. Jadi, setiap haji mabrur pasti makbul, tetapi tidak setiap haji makbul itu mabrur. Haji mabrur dilakukan karena keihklasan semata karena Allah, sesuai tuntunan syariah, ditandai dengan meningkatnya ketakwaan serta kepedulian kepada orang lain.
"Oleh karena itu, selain memastikan haji kita sah, kita juga harus berusaha menjaga niat, keikhlasan dan meningkatkan amal setelah pulang dari haji agar mencapai derajat mabrur. Karena, haji mabrur tidak hanya berdampak pada individu, tapi juga membawa keberkahan bagi keluarga dan masyarakat," tuturnya.
Dirinya mengingatkan kepada seluruh Jemaah agar manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk belajar, bertanya kepada para pembimbing, serta memperbanyak ibadah dan doa.
Saleh juga mengajak seluruh Jemaah untuk menjaga kebersamaan dan kekompakan selama menjalani ibadah haji. Menjaga nama baik daerah kita, ikuti arahan petugas, serta tunjukkan sikap disiplin dan kesabaran dalam setiap tahapan perjalanan.
"Insya Allah, dengan niat yang ikhlas dan usaha yang maksimal, ibadah haji kita akan diterima oleh Allah SWT dan membawa keberkahan bagi diri kita, keluarga, serta masyarakat," imbuhnya.