DKI Jakarta berpotensi miliki 144 siaran televisi digital

id Siaran televisi digital, televisi digital, komisi penyiaran indonesia, digitalisasi penyiaran,KPID ,KPID DKI

DKI Jakarta berpotensi miliki 144 siaran televisi digital

Sejumlah Pedagang, tukang ojek dan warga menyaksikan siaran langsung Debat Pertama Capres & Cawapres 2019 di kawasan Pasar Kebayoran, Jakarta, Kamis (17/1/2019). Meskipun menonton debat Pilpres 2019 menggunakan televisi berlayar kecil, warga tersebut tetap antusias mendengarkan penjelasan pasangan capres-cawapres dalam memaparkan visi-misi dan argumentasi tentang hukum, HAM, korupsi dan terosrisme. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.

Jakarta (ANTARA) - DKI Jakarta berpotensi memiliki 144 siaran televisi dengan kualitas standar hingga tinggi berkat migrasi siaran televisi dari analog ke digital.

"Bisa dibayangkan ada 104 kualitas standar, ditambah bisa 40 kualitas tinggi. Jadi total ada 144 kanal televisi yang bisa dimanfaatkan dari delapan pengelola multifleksing," kata Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah
(KPID) DKI Jakarta, Rizky Wahyuni di Jakarta, Senin.

Menurut dia, dengan migrasi ke digital, pita frekuensi dengan lebar delapan megahertz (MHz) bisa memancarkan lima siaran sekaligus.
Sedangkan dengan analog, hanya bisa memancarkan satu siaran menggunakan pita frekuensi delapan MHz.

Dia menambahkan, jumlah pengelola multifleksing (MUX) atau pengelola instrumen penyiaran televisi di wilayah DKI Jakarta mencapai delapan pengelola.

Adapun delapan MUX di Jakarta, yakni TVRI, RCTI, TransTV, TVOne, RTV, Berita Satu, Metro TV dan SCTV.

Dengan begitu, kata dia, jumlah siaran televisi digital akan bertambah banyak, yakni 40 siaran dengan kualitas tinggi (HD) dan 104 siaran kualitas standar (SD).

"Satu pengelola MUX bisa menggunakan lebar frekuensi delapan megahertz, dipakai lima itu sudah 40 siaran untuk HD. Kemudian untuk Standard Definition, delapan megahertz itu bisa dipakai untuk 13 siaran," katanya.



Dengan begitu, pemanfaatan pita frekuensi di Indonesia bisa lebih efisien dari pita frekuensi saat ini mencapai 700 MHz.

Dari ukuran tersebut, siaran televisi analog teresterial menggunakan panjang pita sebanyak 328 MHz dan jika menggunakan siaran digital, maka panjang frekuensi yang digunakan hanya 176 MHz.

"Sehingga sisa lebar frekuensi sepanjang 112 Mhz, masih bisa digunakan untuk kepentingan lain di antaranya untuk pendidikan, kebencanaan, pendidikan, internet hingga mendukung bisnis," katanya.

Dengan banyaknya siaran digital, maka stasiun televisi juga akan melahirkan ragam konten acara.

"Tentu saingan bisnis televisi akan mengikuti kan tidak bisa 144 itu semua sama genrenya, nanti ada variasi, muncul segmentasi misalnya khusus acara perempuan, berita, hiburan. Nanti akan tersegmentasi," katanya.
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2021