BPP Kendari berdayakan napi wanita dan karyawan PHK bantu COVID-19

id bpp kendari,pemberdayaan keluarga,pembuatan masker

BPP Kendari berdayakan napi wanita dan karyawan PHK bantu COVID-19

Kepala BPP Kendari, Andi Asriani Koke (depan berbicara) saat membuka pelatihan pembuatan masker kain sebagai tanggap COVID-19. (ANTARA/Harianto)

Kendari (ANTARA) - Balai Peningkatan Produktivitas (BPP) Kendari, mengandeng Asosiasi pengusaha Indonesia (Apindo) dan Forum Komunikasi Jejaring Produktivitas Provinsi Sulawesi Tenggara melatih puluhan napi Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas III Kendari dan karyawan yang mengalami pemutusan hubungan kerja dan di rumahkan untuk membuat masker sebagai tanggap COVID-19.

Kepala BPP Kendari, Andi Asriani Koke mengatakan kegiatan pelatihan tersebut merupakan tahap ketiga dan keempat yang dilaksanakan pihaknya dengan sasaran karyawan yang mengalami PHK dan dirumahkan serta warga binaan Lapas Perempuan Kendari.

"Jadi ada 12 orang warga binaan Lapas (LPP Kendari) yang kami latihkan tapi tetap dijaga oleh pihak [apas, setelah mengikuti kegiatan ini mereka dikembalikan ke tempatnya, selain itu pesertanya juga merupakan karyawan PHK dan dirumahkan," kata Andi Asriani Koke di Kendari, Selasa.

Andi mengungkapkan bahwa pihaknya menyelenggarakan kegiatan itu guna membantu masyarakat yang masih membutuhkan masker dalam mengahadapi normal baru. Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya melatih sebanyak 200 peserta.

"Secara keseluruhan yang ikut 200 orang namun hari ini baru 80 orang. Pelatihan ini sampai akhir Juni ini sudah selesai. Ini akan dilaksanakan selama 10 hari dengan target masker 10.000 lembar lebih," jelasnya.
BPP Kendari gelar pelatihan tanggap COVID-19 libatkan Napi Wanita di LPP Kelas III Kendari dan masyarakat yang terkena PHK. (ANTARA/Harianto)


Ditempat yang sama Ketua Apindo Sultra, M Zuhri Rustan menilai bahwa kegiatan itu merupakan hal positif karena dapat menjadi peluang usaha. Apalagi, kata dia, masker ini hampir hilang di pasaran, pas muncul harga tinggi sehingga banyak masyarakat yang tidak menjangkau.

"Kita harapkan instruktur betul-betul mengajar para peserta dan para perserta juga kami harapkan bukan hanya sekedar mengikuti pelatihan ini lalu gugur kewajibannya, tapi kita harapkan setelah pelatihan ini bisa menjadi peluang usaha bagi mereka," ungkapnya.

Senada dengan Ketua Forkom Jejaring Produktivitas Sultra, Mahaseng Mustafa mengatakan bahwa kegiatan itu memiliki dua sisi yakni sisi ekonomi dan sosial. Selain itu, pelatihan tersebut juga sangat tepat karena pemerintah akan menerapkan normal baru sehingga banyak masyarakat yang membutuhkan masker.

"Sosialnya itu untuk membantu masyarakat yang di PHK dan di rumahkan sementara sisi ekonominya ini menjadi salah satu cara meningkatkan produktivitas para peserta pelatihan," ungkapnya.

Sementara itu, Reni Reep perserta pelatihan yang merupakan warga binaan LPP Kelas III Kendari mengatakan setelah keluar dari Lapas, dirinya akan mmebuka usaha menjahit.

"Saya sudah menjalani tiga per empat masa hukuman, kalau saya keluar dari Lapas saya akan bukan usaha menjahit, karena kita sudah diajar menjahit di dalam Lapas dan disini," pungkasnya.
 
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar